Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label Drama TV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama TV. Tampilkan semua postingan

SitKom

Apa itu sitkom? Secara sederhana, sitkom adalah sebuah konsep tayangan drama yang mengedepankan unsur humor. Berasal dari istilah luar, sitcom (Situation Commedy) berupa sebuah drama yang menampilkan segenap kelucuan dan situasi humor dengan penggarapan yang sebagian besar menggunakan set bangunan interior studio sebagai lokasi syuting. Di masa kini penggarapannya mengguna­kan beberapa kamera (multicamera) untuk menampilkan segala bentuk angle humor dari beberapa posisi. Semua scene di set menjadi sebuah cerita lucu yang justru dibawakan dengan sangat serius oleh para pemainnya.
Komedi yang ditampilkan biasanya menggunakan sketsa-­sketsa antarbabak, dibawakan oleh pemain utama dan menampil kan seorang atau lebih bintang yang dijadikan guest star. Penonton di dalam studio akan merespons tayangan tersebut dengan tepuk tangan atau tertawa akibat akting lucu yang di­tampilkan para aktornya. Teknik penyiarannya bisa secara live show atau tapping (direkam).
Para penulis skenario tayangan jenis ini mulai meng­golongkan jenis-jenis sitkom menjadi 3 bagian yang disebut Dommestic Commedy (Komedi Keluarga), Action Commedy (Komedi Aksi) dan Dramatic Commedy(Drama Komedi).

Action Commedy
Jenis tayangan sitkom action Commedy (komedi aksi) menge­depankan unsur aksi di dalam menampilkan segenap kelucuan. MR. BEAN adalah sebuah contoh komedi aksi yang cukup sukses. Segala gerak-gerik dan aksi Rowan Atkinson (pemain utama MR. BEAN) ditujukan untuk menimbulkan tawa. Walaupun sering berisi adegan slapstick, tetapi kita disuguhi cara bercerita humor yang menarik dengan mengguna­kan pendekatan kejadian sehari-hari. MR. BEAN sebenarnya meniru gaya humor Charlie Chaplin yang meminimalkan dialog (nyaris tanpa dialog). Tingkah polah aktornya yang menjadi andalan kelucuan.
Inti dari skenario sitkom komedi aksi adalah aktivitas karakter yang sedang menyelesaikan masalah dengan cara yang salah, aneh dan tidak terduga. Ending dari skenario komedi ini sering dibuat menggantung, aneh atau tidak terduga sama sekali. Cerita mengalir dan kadang di luar logika, diusahakan untuk me­nimbulkan kesan surprise. Dapat pula berupa sindiran terhadap aktivitas manusia yang menampilkan ciri munafik, sok tahu, ber­lagak, sombong ataupun ciri-ciri negatif yang di parodikan. Karakter sangat aktif bergerak, sering tampil adegan saling mengejar atau malah saling memukul. Kejadian sial atau kecelakaan justru men­jadi terasa menarik yang di eksplorasi menjadi unsur humor. Setting lokasinya tidak terbatas, bisa di luar maupun di dalam studio. Namun cara penulisan skenarionya biasa meng­gunakan pendekatan cara pandang 1 karakter. Akibatnya, hampir di keseluruhan scene, karakter utama selalu hadir dan ditampil­kan untuk menghadapi kekonyolan yang beruntun.

Domestic Commedy
Domestic comedy (komedi keluarga) adalah bentuk tayangan sitkom paling banyak diproduksi di Amerika Serikat. Drama ini mengedepankan konsep produksi TV Play, ditata dalam sebuah set studio dan menggunakan aturan-aturan pertelevisian seperti durasi, teknik angle kamera, building set dan peta pergerakan karakter. Konsep ini tentu saja sangat membatasi ruang gerak sang aktor.
Salah satu teknik bercerita di dalam sitkom keluarga menggunakan rumus sederhana sebagai berikut:
a. Sebuah masalah terjadi, tokoh Ayah tidak mengetahui, tokoh anak berupaya menyembunyikan dan mencari jalan keluar­nya. Masalah semakin membesar dan menimbulkan ke­kacauan, yang kemudian membuat tokoh ayah terkejut. Tokoh anak berusaha mengupayakan sebuah penyelesaian, tokoh ayah membantu untuk menyelesaikan masalah itu dengan bijak.
b. Sebuah masalah terjadi, tokoh ayah dan ibu mengetahui, berusaha menyembunyikan masalah tersebut dari anaknya. Masalah semakin membesar, sang anak mengetahui hal yang berusaha ditutupi ayah dan ibunya. Sang anak menjadi marah dan membuat kekacauan. Tokoh ayah dengan bijak berusaha mendamaikan kembali anak dan keluarganya.
c. Sebuah masalah terjadi karena ada orang luar (teman jauh, keluarga lain) yang berkunjung ke dalam rumah (bergabung dengan keluarga) dan membuat keadaan menjadi tidak harmonis. Tokoh anak menjadi kesal dan berusaha mengusir­nya. Tokoh Ayah berusaha menahan emosi anaknya. Masalah semakin membesar karena tokoh 'orang luar' semakin tidak tahu diri dan membuat kekacauan. Puncaknya, sang Ayah berhasil menemukan jalan untuk mengatasi masalah.
d. Sebuah masalah terjadi karena ayah, ibu dan anak menge­tahui sebuah persoalan dan berusaha memecahkannya dengan bermacam-macam cara. Tokoh ayah digambarkan 'sok cerdas', tokoh anak digambarkan 'keras kepala' dan tokoh ibu mempunyai cara pandang 'wanita' yang kadang tidak dianggap sebagai sebuah penyelesaian masalah. Namun di tengah cerita, cara pandang 'wanita' tersebut dapat menyelesaikan masalah yang terjadi. Di akhir cerita ditampil­kan tokoh ayah yang sadar dan mengakui 'kepintaran' istrinya dengan cara yang bijak.
Modifikasi Domestic Commedy
Selain berbagai jenis tayangan domestic commedy yang me­nampilkan berbagai macam keluarga yang harmonis dan lengkap, banyak pula diproduksi serial keluarga yang menampilkan 'ketidaklengkapan anggota keluarga'. Modifikasi lain ditampilkan di serial sitkom Bajaj Bajuri yang dibuat oleh Aris Nugraha. Ditampilkan sebuah keluarga Bajuri, Oneng dan Emak, namun tidak dihadirkan karakter anak. Aris Nugraha membuat sebuah modifikasi cerita keluarga yang 'sebenarnya tidak hangat'. Kita melihat Bajuri yang selalu konflik dengan Emak dan susah berkomunikasi dengan Oneng Yang 'lamban dalam berpikir' dan terlal

Dramatic Commedy
Drama komedi adalah bentuk komedi yang dibuat di televisi dengan menggabungkan konsep drama dan sinetron. Drama komedi paling sering dibuat untuk layar lebar. Ex : Naga Bonar, Kejar Daku Kau Kutangkap. Teknik pembuatan drama komedi lebih sulit dibanding produk komedi lainnya. Idealnya, sebuah drama komedi memenuhi beberapa syarat:
a. Permainan akting antar aktor yang memikat dan realistic hingga membentuk harmonisasi cerita.
b. Keunikan sebuah aktivitas karakter, topik yang dibahas dan cara mengembangkan konflik  berdasarkan aktivitas sang karakter.
c. Kekuatan sebuah skenario membentuk drama dan komedi sebagai sebuah kesatuan konsep.
Drama komedi bukan sekedar komedi yang disisipkan dalam sebuah drama sinetron, melainkan sebuah cerita yang kuat yang otomatis membentuk unsur humor tanpa harus dibuat-buat dengan penambahan adegan slapstick dan tidak masuk akal. Tentu saja dialog yang tepat harus digunakan dengan teliti, men­campurkan humor ke dalam cerita drama itu tanpa menghancur­kan bangunan cerita secara keseluruhan.
u lugu

Extras Talent, (Profesi) Menggiurkan


Ektras Talen atau Talent Extras ialah seorang aktor yang bermain menjadi latar baik di film, acara televisi, atau drama panggung. Mereka muncul biasanya tanpa dialog. Pada film kolosal extras talent akan sangat banyak sekali.
Di film perang akan ada ratusan bahkan ribuan pemain sebagai extras. Di Hollywood, extras talent digarap dengan sangat serius. Demikian juga dengan industri film India, Bollywood. Lalu bagaimana eksistensi mereka di Indonesia?
K
riteria untuk extras talen ini tentu saja macam-macam karena sangat tergantung dari film atau acara televisi itu sendiri. Baik di luar negeri atau di Indonesia, extras talent biasanya “disediakan” oleh agency untuk memenuhi kebutuhan dari production house atau stasiun televisi. Agency yang baik biasanya mereka akan dengan cekatan menyediakan extras sesuai dengan kriteria yang diinginkan kliennya. Namun demikian kebanyakan agency di kita nampaknya belum terlalu serius menangani ini, agak beda misalnya ketika PH atau televisi meminta talent utama dan supporting talent atau peran pendukung.
                                         foto: colttalent.com

Masih Dianggap Sepele
Tanpa diberi  dialog dan hanya memerankan adegan kecil, karenanya sebagian besar yang menjadi extras talent hanya akan menganggap profesi ini sebagai batu loncatan atau malah sebagai pekerjaan sampingan. Sekilas tak ada yang salah dengan dua hal ini, namun nyatanya hal inilah yang menjadi salah satu problem kenapa profesi extras talent dianggap sebelah mata. Padahal di industri film Hollywood sana bahkan banyak orang yang tak ingin “naik pangkat” dari extras talent ke jenjang berikutnya misalnya menjadi supporting atau main talent.
Ini juga untuk jabatan first line dan scond line director, mereka tak menjadikan profesi asisten sutradara sebagai batu loncatan untuk menjadi sutradara. Dan alasannya ialah mereka sadar bahwa menjadi extras talent itu penting dan bukan pekerjaan batu loncatan apalagi pekerjaan sampingan. Itulah yang membedakan negara dimana industri televisi dan film yang sudah sangat maju dengan negara yang masih berkembang seperti Indonesia.

foto: tempo.com

Talent Agency, Bagus vs Nakal
Tak seperti halnya aktor yang bisa “independen” tanpa harus melalui agency, nyaris tak ada extras talent yang bisa main film langsung dengan casting pada penyelia aktor. Karenanya extras talent biasanya ada pada naungan rumah agency. Karenanya extras talent memerlukan agency, tepatnya simbiosis mutualisme. Keduanya bisa berkerjasama saling menguntungkan.
                    foto: dienan silmy  FTV “Ingatan yang Terkuak”

Namun carut marut penyelia pemain atau talent agency ini nampaknya masih mennjadi rahasia umum di kalangan insane film dan televisi. Kebanyakan talent agency tidak membuat kontrak dengan para extras talent, hanya atas dasar kepercayaanlah mereka bekerjasama. Perbedaan prosentase honor extras talent yang diambil talent agencypun berbeda-beda. Maka bisa jadi honor extras talent di talent agency A akan berberda jauh dengan yang didapat dari talent agency B. Tak hanya pada masalah honor, kejelasan skedul dimana extras talent bermainpun menjadi masalah tersendiri. Extras talent biasanya hanya tahu hari apa mereka bermain di sinetron atau film A tanpa tahu persis berapa scene mereka berakting. Namun tak semua talent agency demikian karena beberapa sudah melakukan fungsinya dengan rapi.
Masa Depan Extras Talent
Demikian extras talent sejatinya merupakan profesi yang bisa dijadikan mata pencaharian serius. Industri televisi dan perfilman kita sudah mulai bagus. Kabar baik ini semestinya diantisipasi oleh penyokong kebutuhan industria ini, termasuk oleh talent agency dimana di dalamnya terdapat ratusan bahkan ribuan extras talent. Saling percaya satu sama lain memang suatu keharusan, namun agar menjadi rapi baiknya dibuat kesepakatan tertulis hak dan kewajiban masing-masing pihak supaya kelak tak ada yang dirugikan.


Drama TV Part6



Dialog, Mimik, Gestur, Movement dan Guide


a. Pengertian Dialog
Dialog adalah percakapan antar pemain dalam drama.

b. Fungsi Dialog
- Dialog menampakkan karakter dan memerkaya plot.
- Dialog menciptakan konflik.
- Dialog menghubungkan fakta-fakta.
- Dialog menyamarkan kejadian-kejadian yang akan datang.
- Dialog menghubungkan adegan-adegan dan gambar-gambar sekaligus.

Mimik atau ekspresi wajah sangat membantu penonton dalam memahami maksud aktor. Selain itu, mimik juga menunjukkan kemampuan actor dalam beradegan. Maka, sudah seharusnya mimik disesuaikan dengan dialog yang dibaca.
Misalkan, seorang tukang becak baru pulang dari bekerja. Badannya sangat lelah dan ingin istirahat. Namun, setelah sampai rumah ternyata kedua anaknya bertengkar hingga salah satunya menangis. Ketika akan menyuruh istrinya untuk membuatkan ia minum dan mengurus anak-anaknya yang sedang bertengkar, ternyata istrinya juga sedang terburu-buru karena ada arisan di tetangga sebelah.
Lalu, bagaimana menurutmu mimik yang tepat bagi tukang becak tersebut? Apakah ia harus menunjukkan raut muka yang ceria, biasa-biasa saja, atau muram?

Gestur adalah gerak-gerak besar yang dilakukan aktor selama berakting secara sadar.
Maksudnya ialah gerak yang terjadi setelah mendapat perintah dari diri/ otak kita untuk melakukan sesuatu, misalnya menulis, mengambil gelas, jongkok, dan sebagainya. 
 
Misalnya, peran direktur dengan tukang becak. Direktur sering duduk tegap dan berbicara formal serta berjabat tangan bila bertemu kliennya. Sedangkan tukang becak lebih terlihat sering berjalan santai dengan bahasa yang informal. Ketika menemui pelanggannya, biasanya tukang becak tidak pernah berjabat tangan.

Movement adalah gerak perpindahan dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Gerak ini tidak hanya terbatas pada berjalan saja, tetapi dapat juga berupa berlari, bergulung-gulung, melompat, dan sebagainya.
Guide adalah cara jalan. Cara berjalan di sini bisa bermacam-macam. Cara berjalan orang tua akan berbeda dengan cara berjalan seorang anak, berbeda pula dengan cara berjalan orang yang sedang mabuk.
Setiap yang pemain lakukan harus memunyai arti, motif, dan dasar. Hal ini harus benar-benar diperhatikan dan diyakini benar-benar oleh seorang pemain mengenai maksud dan makna gerakan yang dilakukannya.

Drama TV Part5



 Aktor dan Aktris yang baik


Secara singkat dapat dikatakan bahwa aktor/aktris yang baik ialah apabila :
a. berakting wajar, releks, fleksibel
b. menjiwai/ menghayati perannya
c. aktingnya mempunyai motivasi
d. terampil dan kreatif
e. mengesankan atau dapat menyakinkan penonton
f. tidak merasa kalau sedang disorot publik/penonton/kamera


Catatan:
Pengertian ‘wajar” dalam hal ini meliputi :
a. sikap/gerak atau perbuatan tidak canggung tidak kau, tidak over acting tidak dibuat-buat
b. dialog mengena sesuai dengan tuntutan dari naskah dan tidak dibuat-buat
c. vokal jelas atau ucapan artikulasi jelas
d. penggambaran watak atau karakter tepat
e. ekspresi wajar dan menyakinkan
f. dapat memanfaatkan segala properti dan situasi pentas dengan baik.

Maka untuk menjadi aktor yang baik dipersiapkan :
a. latihan-latihan yang kontinyu, tertib, dan disiplin
b. pengetahuan yang bersifat teoritis, meliputi :
- ilmu teater
- ilmu jiwa
- kepercayaan sesuatu agama yang diyakini
- apresiasi terhadap seni sastra, suara/musik, tari, dan sebagainya
- kemampuan/ketrampilan berbahasa dengan baik
- sejarah budaya, sosiologi, antropologi, ethionologi.

Akting
 
 
a. Pengertian Akting
Akting adalah segala kegiatan, gerak, atau perbuatan yang dilakukan oleh para pelaku. Akting meliputi mimik, pantomim, dialog, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan adegan aktor atau pemain drama.

b. Tujuan Akting
Tujuan akting adalah “to be a character”, yaitu mengekspresikan suatu perwatakan yang khas dari seorang tokoh.

c. Teknik Akting

Teknik akting terbaik ialah yang paling efektif dan yang berhasil mengekspresikan intent (maksud/ ide) penulis, intent adegan, dan intent karakter. Untuk dapat berakting dengan baik, ada 10 teknik yang perlu diperhatikan.
- Metode tindak lahir
Aktor harus mengetahui lebih dulu motivnya berakting (dasar dan tujuan).
- Kemampuan mengandaikan
Bila seseorang menjadi tokoh tertentu, maka ia harus memikirkan apa dan bagaimana yang harus ia lakukan ?
- Kemampuan imajinasi
Menggambarkan / membayangkan sesuatu yang tidak ada.
- Konsentrasi
Seorang aktor harus memusatkan perhatian dan pikirannya pada peran yang ia bawakan.
- Emosional memori
Seorang aktor hendaknya mengingat-ingat atau mengenang kembali pengalaman atau kejadian-kejadian yang pernah dialami sendiri yang kira-kira serupa dengan adegan yang dimainkannya.
- Kesatuan
Antar aktor yang satu dengan yang lain harus ada kerjasama yang bersifat kolektif.
- Harmoni
Setiap aktor harus berusaha menyesuaikan dirinya dengan peran/ perwatakan yang dibawakan (menghayati/ menjiwai setiap elemen yang berkaitan dengannya).
- Tempo irama
Tiap akting harus ada iramanya. Artinya, akting tidak boleh tergesa-gesa juga tidak boleh dilambat-lambatkan.
- Super objektif
Tiap aktor harus tahu siapa yang sedang memegang peranan penting dalam suatu adegan yang sedang berlangsung.
- Kebenaran dan keyakinan
Setiap aktor harus yakin akan peran yang dibawakan.

Bloking
 
 
Blocking adalah kedudukan tubuh pada saat di atas pentas/stage/panggung/lokasi.

Yang dimaksud dengan blocking yang baik adalah blocking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik pusat perhatian serta wajar.

a. Seimbang
Seimbang berarti kedudukan pemain, termasuk juga benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat sebelah. Jadi semua bagian panggung harus terwakili oleh pemain atau benda-benda yang ada di panggung. Penjelasan lebih lanjut mengenai keseimbangan panggung ini akan disampaikan pada bagian mengenai “Komposisi Pentas “.

b. Utuh
Utuh berarti blocking yang ditampilkan hendaknya merupakan suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang harus dilakukan harus saling menunjang dan tidak saling menutupi.

c. Bervariasi
Bervariasi artinya bahwa kedudukan pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan membentuk komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang pemain jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama berdiri, sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali kalau memang dikehendaki oleh naskah.

d. Memiliki titik pusat
Memiliki titik pusat artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal ini penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang sedang berlangsung. Antara pemain juga jangan saling mengacau sehingga akan mengaburkan di mana sebenarnya letak titik perhatian.

e. Wajar
Wajar artinya setiap penempatan pemain ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak dibuat-buat. Disamping itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan.

Drama TV Part4

  

Unsur-Unsur Intrinsik Drama


a. Tema
Tema cerita adalah pokok pikiran dalam sebuah karangan. Atau, dapat diartikan pula sebagai dasar cerita yang ingin disampaikan oleh penulisnya (Lutters, 2006:41).
Tema drama harus disesuaikan dengan penonton. Jika drama ditujukan kepada pelajar, maka tema ceritanya juga harus sarat dengan pendidikan. Jangan sampai tema yang disajikan justru menjerumuskan pelajar sebagai penonton pada hal-hal yang tidak edukatif.

b. Alur Cerita (Plot)
Plot atau alur adalah pola dasar dari kejadian-kejadian yang membangun aksi yang penting dalam sebuah drama. Plot drama harus dibangun mulai dari awal, lalu terdapat kemajuan-kemajuan, dan penyelesaian masalah yang diberikan kepada penonton. Plot menjelaskan bagaimana sebuah kejadian memengaruhi kejadian yang lain dan mengapa orang-orang yang ada di dalamnya berlaku seperti itu (Suban, 2009: 79).
Somad dkk. ( 2008:149) menjabarkan alur menjadi beberapa bagian berikut.
1. Eksposisi/ introduksi merupakan pergerakan terhadap konflik melalui dialog-dialog pelaku.
2. Intrik merupakan persentuhan konflik atau keadaan mulai tegang.
3. Klimaks merupakan pergumulan konflik atau ketegangan yang telah mencapai puncaknya dalam cerita.
4. Antiklimaks merupakan konflik mulai menurun atau masalah dapat diselesaikan.
5. Konklusi merupakan akhir peristiwa atau penentuan terhadap nasib pelaku utama.

c. Latar Cerita (Setting)
Lutters (2006: 56) menjelaskan bahwa setting cerita adalah lokasi tempat cerita ini ingin ditempatkan atau diwadahi. Setting dibagi menjadi dua, yaitu media/ tempat dan budaya.

d. Penokohan
Penokohan/ karakter pelaku utama adalah pelukisan karakter/ kepribadian pelaku utama. Lutters ( 2006: 81) membagi tokoh/ peran menurut sifatnya dalam tiga hal berikut.
1. Peran Protagonis
Peran protagonis adalah peran yang harus mewakili hal-hal positif dalam kebutuhan cerita. Peran ini biasanya cenderung menjadi tokoh yang disakiti, baik, dan menderita sehingga akan menimbulkan simpati bagi penontonnya. Peran protagonis ini biasanya menjadi tokoh sentral, yaitu tokoh yang menentukan gerak adegan.
2. Peran Antagonis
Peran antagonis adalah kebalikan dari peran protagonis. Peran ini adalah peran yang harus mewakili hal-hal negatif dalam kebutuhan cerita. Peran ini biasanya cenderung menjadi tokoh yang menyakiti tokoh protagonis. Dia adalah tokoh yang jahat sehingga akan menimbulkan rasa benci atau antipasti penonton.
3. Peran Tritagonis
Peran tritagonis adalah peran pendamping, baik untuk peran protagonis maupun antagonis. Peran ini bisa menjadi pendukung atau penentang tokoh sentral, tetapi juga bisa menjadi penengah atau perantara tokoh sentral. Posisinya menjadi pembela tokoh yang didampinginya. Peran ini termasuk peran pembantu utama.
Suban (2009:68) membagi karakter menjadi tiga bagian menurut kedudukannya dalam cerita.
1. Karakter Utama (Main Character)
Karakter utama adalah karakter yang mengambil perhatian terbanyak dari pemirsa dan menjadi pusat perhatian pemirsa.. Karakter ini juga paling banyak aksinya dalam cerita.
2. Karakter Pendukung (Secondary Character)
Karakter pendukung adalah orang-orang yang menciptakan situasi dan yang memancing konflik untuk karakter utama. Kadang-kangan karakter pendukung bisa memainkan peranan yang membantu karakter utama. Misalnya sebagai orang keparcayaan karakter utama. Contohnya, sebagai sopir atau bodyguard.
3. Karakter Figuran (Incedental Character)
Karakter ini duperlukan untuk mengisi dan melengkapi sebuah cerita. Mereka serin disebut figuran, karena yang dibutuhkan figuran saja. Mereka sering tampil tanpa dialog. Kalaupun ada, dialognya hanya bersifat informatif. Biasanya mereka digunakan dalam adegan-adegan kolosal dan keramaian. Atau jika tidak kolosal, biasanya mereka memegang profesi di dalam pelayanan umum, misalnya sopir taksi, pembantu, atau petugas di pom bensin.

e. Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan penulis cerita kepada penonton atau penikmat drama. Jika drama ditujukan kepada pelajar, maka seiring dengan temanya, drama harus memberikan amanat yang bersifat edukatif. Selain itu, cerita dalam drama harus dapat menambah pengetahuan yang positif bagi siswa.

Drama TV Part3

Drama TV Part3


Jenis-jenis Drama



a. Drama Tragedi
Cerita drama yang termasuk jenis ini adalah cerita yang berakhir dengan duka lara atau kematian. Contoh film yang termasuk jenis ini di antaranya Romeo dan Juliet atau Ghost. Sementara contoh FTV misteri yang termasuk dalam jenis ini misalnya Makhluk Tengah Malam yang ending-nya bercerita tentang si istri yang melahirkan bayi genderuwo. Cerita ini bukan berakhir dengan kematian, tapi kekecewaan atau kesedihan. Oleh karena itu, cerita Makhluk Tengah Malam dapat digolongkan ke dalam jenis drama tragedi.

b. Drama Komedi

1. Komedi Situasi, cerita lucu yang kelucuannya bukan berasal dari para pemain, melainkan karena situasinya. Contoh drama jenis ini antara lain Sister Act dan Si Kabayan. Sementara contoh sinetron yang termasuk dalam jenis ini antara lain Kawin Gantung, Bajaj Bajuri, dan Kecil-Kecil Jadi Manten.
2. Komedi Slapstic, cerita lucu yang diciptakan dengan adegan menyakiti para  pemainnya. Misalnya, saat di kelas terjadi kegaduhan karena sang guru belum datang. Kemudian teman yang “culun” digoda teman yang lain dengan menulisi pipinya menggunakan spidol. Contoh film komedi slapstic ini di antaranya The
Mask dan Tarzan.
3. Komedi Satire, cerita lucu yang penuh sindiran tajam. Beberapa film yang  termasuk jenis ini adalah Om Pasikom dan Semua Gara-Gara Ginah. Sementara contoh sinetronnya adalah Wong Cilik.
4. Komedi Farce, cerita lucu yang bersifat dagelan, sengaja menciptakan kelucuan  kelucuan dengan dialog dan gerak laku lucu. Beberapa tayangan televisi yang termasuk jenis ini adalah Srimulat, Toples, Ba-sho, Ngelaba, dan lain sebagainya.

c. Drama Misteri

1. Kriminal, misteri yang sangat terasa unsur keteganyannya atau suspense dan  biasanya menceritakan seputar kasus pembunuhan. Si pelaku biasanya akan menjadi semacam misteri karena penulis skenario memerkuat alibinya. Sering kali dalam cerita jenis ini beberapa tokoh bayangan dimasukkan untuk mengecoh penonton.
2. Horor, misteri yang bercerita tentang hal-hal yang berkaitan dengan roh halus.
3. Mistik, misteri yang bercerita tentang hal-hal yang bersifat klenik atau unsur ghaib.

d. Drama Laga/ Action

1. Modern, cerita drama yang lebih banyak menampilkan adegan perkelahian atau  pertempuran, namun dikemas dalam setting yang modern. Contoh jenis sinetron ini misalnya Deru Debu, Gejolak Jiwa, dan Raja Jalanan.
2. Tradisional, cerita drama yang juga menampilkan adegan laga, namun dikemas  secara tradisional. Beberapa sinetron yang termasuk jenis ini antara lain Misteri Gunung Merapi, Angling Dharma, Jaka Tingkir, dan Wali Songo. Untuk jenis drama laga ini biasanya skenario tidak banyak memakai dialog  panjang, tidak seperti skenario drama tragedi atau melodrama yang kekuatannya terletak pada dialog. Jenis ini lebih banyak mengandalkan action sebagai daya tarik tontonannya. Penontonnya bisa merasakan semangat ketika menonton film ini.

e. Melodrama
Skenario jenis ini bersifat sentimental dan melankolis. Ceritanya cenderung terkesan mendayu-dayu dan mendramatisir kesedihan. Emosi penonton dipancing untuk merasa iba pada tokoh protagonis. Penulis skenario cerita jenis ini jangan terjebak untuk membuat alur yang lambat. Konflik harus tetap runtun dan padat. Justru dengan konflik yang bertubi-tubi pada si tokoh akan semakin membuat penonton merasa kasihan dan bersimpati pada penderitanya. Contoh sinetron jenis ini antara lain Bidadari, Menggapai Bintang, dan Chanda.

f. Drama Sejarah
Drama sejarah adalah cerita jenis drama yang menampilkan kisah-kisah sejarah masa lalu, baik tokoh maupun peristiwanya. Contoh film yang bercerita tentang peristiwa sejarah antara lain November 1828, G-30-S/PKI, Soerabaya ’45, Janur Kuning, atau Serangan Fajar. Sementara kisah yang menceritakan sejarah tapi lebih ditekankan pada tokohnya antara lain Tjoet Njak Dhien, Wali Songo, dan R.A. Kartini.

Elizabeth Lutters (2006:35)

Drama TV Part2

Drama TV Part2

Samakah drama dengan teater ?????

 
Secara umum, drama dan teater memiliki makna yang sama. Keduanya sama-sama merupakan pertunjukan adegan/ akting di depan penonton di sebuah panggung. Kata drama dan teater juga sama-sama berasal dari bahasa Yunani Kuno.
Perbedaan drama dan teater hanya terletak pada asal katanya . Jika drama berasal dari kata draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, dan sebagainya, maka tater berasal dari theatron yang berarti gedung atau tempat pertunjukan.
Selain itu, kita juga mengenal istilah sandiwara. Sandiwara berasal dari bahasa Belanda, yaitu toneel yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah sandiwara.
Dari istilah drama tersebut, maka lahirlah istilah lain yang sering kalian dengar, di antaranya film, sinetron, film televisi (FTV), ataupun ludruk, dagelan, lenong, dan ngelaba. Pada dasarnya, semua itu memerlukan kemampuan bermain drama dalam setiap pertunjukannya, hanya saja istilah-istilah di atas digolongkan berdasarkan sifat, objek, dan medianya.

Persiapan pembuatan drama

A. Tahap Persiapan
1. memilih teks drama ( naskah )
2. memilih sutradara
3. memilih pembantu sutradara (asisten, dekorasi, rias, busana, lampu dan musik)
4. memilih pemain (casting)

B. Tahap Latihan
1. pemanasan (pernapasan, konsentrasi, dan latihan vokal)
2. inti
- latihan membaca (membaca naskah drama dengan nyaring)
- latihan blocking (latihan gerak dan pengelompokan pelaku)
- latihan karya (latihan memadukan gerak dan dengan dialog)
- latihan pelican (latihan secara menyeluruh)
- latihan umum (latihan menyeluruh yang dipadukan dengan dekorasi dan tata musik)

C. Tahap Shooting
Tahap ini adalah tahap yang dinanti-nantikan setiap pemain. Pemain tentu saja ingin melihat hasil dari latihan-latihan yang dilakukan sebelumnya.

Drama TV Part1

Drama TV Part1

Drama televisi, merupakan karya audio visual drama yang menggunakan televisi sebagai media penayangannya. Sebelum jauh membahas tentang drama televisi,kita liat tentang pengertian “drama” itu sendiri.

Ada beberapa definisi tentang drama, yang paling simpel drama diartikan sebagai life presented in action, demikian menurut Moulton. Atau hidup yang dilukiskan dengan gerak.

Drama adalah bentuk cerita konflik manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakan dan action di depan penonton/audience. Drama dirancang untuk penonton, drama bergantung pada k

omunikasi. Jika drama tidak komunikatif, maksud pengarang, pembangun respon emosional tidak akan sampai (Dietrich, 1953:4).

Menurut Brander Mathews, konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama. Menurut Ferdinand Brunetierre, drama haruslah melahirkan kehendak manusia dengan action.

Menurut Balthazar Verhagen, drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak.

Ada beberapa aliran dalam drama menurut pendefinisiannya, yakni :

  1. Aliaran Realisme : Psikologis & Sosial
  2. Aliran Romantik

Aliran realisme lebih mementingkan kenyataan yang digambarkan sedangkan aliran romantik menampilkan hal-hal yang berlebihan dan sentimental.

Acting

Acting merupakan wujud atau bentuk ekspresi, gerakan, mimik, atau ucapan dari pamain yang memerankan tokoh dan karakter dalam cerita.

Asal kata acting adalah to Act atau dalam bahasa Indonesia berarti beraksi. Itu sebabnya kita sering mendengar sutradara meneriakkan kata action !dibelakang kamera ketika aktor akan memulaiaktingnya. Akting dengan demikian lebih berartimengaksikan peran yang dimainkan.

Dalam buku Seni Akting, Catatan -Catatan Dasar Seni Kreatif Seorang Aktor disebutkan bahwa Akting adalah wujud yang kasat mata dari suatu seni peragaan tubuh, yang menirukan perilaku _ perilaku manusia mencakup segala segi, lahir dan batin, yang sebelumnya digagas terlebih dahulu, direka, dirancang, kemudian diselenggarakan di panggung untuk disaksikan penonton peminatnya sebagi bentuk seni efemeral.

Seni efemeral berarti yang dilangsungkan melalui akting tersebut adalah seni pertunjukan teater atau seni pertunjukan drama yang di dalamnya terusung hal – hal menarik dari rahasia kehidupan manusia, sosok- sosoknya secara rinci, dan meliputi permasalahan-permasalahan khas insani secara terpadu, lengkap dengan bagan – bagan spesifik menurut alur cerita, serta lazimnya dipertontonkan pada suatu malam dan berakhir pada malam yang sama pula.

Makna visual dari sebuah drama sangat dipengaruhi oleh teknik berperan dari pemain dalam membawakan karakternya masing – masing. Pada dasarnya seni peran adalah bagaimana mengatur ekspresi diri.

Dalam asas -asas akting ada dua bagian pelaksanaan akting, yaitu dalam teater tradisional disebut non - realisme, dan dalam teater modern disebut realisme

Akting non-realisme adalah akting dengan gerakan-gerakan besar, sehingga menampilkan sosok yang tidak naturalis dan tidak realistis, dan lazim dikatakan bentuk representasional.

Seperti pada teater tradisional Indonesia, baik klasik seperti wayang wong, ketoprak, langendriyan dan lain sebagainya termasuk yang populer seperti Srimulat, Lenong.

Sedangkan akting realisme merupakan gambaran aktor memainkan perannya dengan memperdayakan dengan betul alat- alat TRJ-nya atau Tubuh, Roh, Jiwa, sehingga darinya diperoleh tontonan tindak perbuatan dan perilakuan yang naturalis, yang artinya mewakili secara asasi kenyataan – kenyataan alami.

Tujuan Acting

Akting adalah suatu pekerjaan, jadi mempelajari akting merupakan suatu kemauan untuk menjadi tujuan hidupnya

Akting harus ditumbuhkan dari kesadaran insani manusia yang mengikat sehingga menentukan nilai kepribadiannya. ( karakter yang melekat pada diri pemain ).

Kesadaran yang dimaksud :

Dorongan estetik menentukan lahirnya kesenian adalah dorongan keindahan.

Dorongan ekonomi ( Aktor bermain akting karena dorongan untuk mendapatkan hasil).

Kesadaran Etis : sumber segala keindahan adalah sang Ilahi. Pencipta Alam dan segala isinya ditrima secara dogmatis (akting didorong dengan adanya keindahan- keindahan yang berasal dari Tuhan)

Continuity

Pengertian kontinuitas dalam hal ini adalah kelangsungan, kelanjutan atau kesinambungan. Lebih khususnya adalah kesinambungan para pemain dalam memerankan tokoh dalam drama.

Kontinuitas dalam sebuah drama dapat katakan sebagai kunci pokok keberhasilan dari drama tersebut. Sebuah drama yang apabila kontinuitinya sempurna akan disukai karena menggambarkan peristiwa secara realistik.

Lima faktor kontinuiti tersebut adalah :

Content Continuity : kontinuitas gambar pada isi cerita yang terangkum dalam sambungan berbagai shot. Hal tersebut bisa berbentuk benda (tata artistik, properti), sinar cahaya (tata cahaya), wardrobe, dan make up.

Movement Continuity : kontinuitas gambar pada gerakan yang direkayasa ataupun yang terjadi dengan sendirinya (natural). Gerakan dalam adegan diperankan oleh pemain dan figuran, sedangkan gerakan natural merupakan gerakan yang terjadi karena faktor alam, misalnya awan ditiup angin, riak dari air terjun ataupun burung terbang bebas.

Dialogue Continuity : kontinuitas dialog yang terwujud dalam percakapan para pemeran sesuai dengan tuntutan cerita dan logika visual (kebutuhan gambar sesuai dengan naskah).

Position Continuity : kontinuitas gambar untuk blocking pemain, posisi properti (tata artistik), dan berbagai posisi lainya yang disesuakan dengan komkposisi gambar dalam berbagai sudut arah kamera

Sound Continuity : kontinuitas suara dalam gambar, baik yang bersifat Direct Sound (suara yang direkam langsung pada saat shotting) maupun Indirect Sound (sound effect dan ilustrasi musik).