Membuat Video Keren dengan Smartphone
Mirrorless dan DSLR
Cara kerja EVF sebenarnya sama dengan layar LCD, yakni menyalurkan gambar lewat sensor yang terus menerus aktif. Hanya saja penempatan dan ukurannya yang berbeda, yakni dibuat serupa jendela bidik optis untuk “dikeker” dengan sebelah mata.
EVF memiliki kelebihan dibanding OVF, misalnya pengguna bisa langsung melihat perubahan hasil exposure saat menyesuaikan paramenter seperti aperture, ISO, atau white balance. Bisa pula ditambahkan overlay aneka informasi berguna, seperti level indicator atau histogram untuk memandu exposure. Kekurangannya, EVF lebih boros daya karena kamera harus senantiasa mengaktifkan sensor dan layar jendela bidik supaya pengguna bisa melihat gambar.
Pengguna DSLR bisa melihat obyek yang ada di depan lensa (Through The Lens, TTL) melalui OVF saat kamera sedang tidak dinyalakan.
Tips TV: Tracking Shots

1. Hand Held Tracking Shot
Dengan kamera handheld dimana blocking kamera diletakkan sejajar dengan objek, ada dapat berjalan mengikuti objek. Jangan lupa switch menu ke steady shot, lalu berjalanlah sesuai dengan pergerakan objek. Cobalah dengan beberapa angle, low hingga high angles.
2. Chair Track
Kalau anda sedang syuting diruangan dengan lantai yang rata, anda bisa menggunakan kursi sebagai dolly track. Caranya, carilah kursi yang mempunyai roda. Lalu "adjust" lah posisi kursi sesuai dengan frame dari objek. Dan duduklah dikursi tersebut, lalu minta bantuan teman atau asisten untuk mendorong maju atau mundur kursi sesuai dengan keinginan anda.
3. Car Track
Carilah mobil dengan model Hatcback,lalu bukalah bagian belakang garasi mobil. Anda tinggal duduk dan syuting, lalu teman atau asisten anda akan duduk dikursi stir dan menjalankan mobil. Bisa juga dengan mobil sedan, buka jendela dan letakkan kamera diantara kaca jendela mobil. Jalankan mobil anda dan silahkan syuting.
4. Any Wheel Track
Carilah apa saja yang mempunyai roda seperti Becak, Gerobak, Motor, Sepeda hingga ke mainan mobil-mobilan anak-anak yang menggunakan baterei.
Selamat Mencoba
Filosofi Gambar

Menurut tesis yang dikemukanan ahli semiotika dunia Roland Barthes di atas, namun pada tulisan saya kali ini justru akan lebih banyak melihat dari makna pertama utamanya unsur visual (gambar) yakni makna denotatif. Penulis akan mencoba bagaimana makna-makna verbal itu dihasilkan dari sisi praktisi, si pembuat pesan ( sinematografer, videografer, filmmaker, videomaker, broadcaster).
Pasti ada pesan yang ingin disampaikan oleh si pembuat dalam menciptakan rangkaian shot-shot tadi, sayangnya tidak semua pesan bisa disampaikan dengan baik dan celakanya hal ini karena ”kesalahan” dari si pembuat pesan. Shot semestinya tidak semata urusan teknis mekanis dan estetis,menyampaikan pesan akan ”berurusan” dengan falsafah, the philosophy of the shot. Wah serumit itukah? mari kita pahami sampai tuntas.
Belum ada kesepakatan tentang definisi yang benar-benar pas tentang apa itu sebenarnya shot. Ketika kita menekan tombol rec atau start sampai kita tekan sekali lagi tombol yang sama, maka itu adalah satu shot. Walaupun hanya satu detik atau bahkan sampai satu jam dari awal sampai akhir, baik bergerak maupun diam.
SHOT SIZE/Type of Shot
Shot size/type of shot atau ukuran shot adalah besar kecilnya subjek dalam sebuah frame.Type of shot itu terdiri atas :
ECU : Extreme Close Up (detail shot)
VCU : Very Close Up (shot wajah) dari atas kepala sampai dagu
BCU : Big Close Up (tight CU, full kepala), wajah memenuhi layar
CU : Close Up, dari keapala sampai pundak
MCU : Medium Close Up,
Knee, 3/4Shot :
MLS : Medium Long Shot
LS : Long Shot
ELS : Extra Long Shot (extereme LS, XLS)
Masing-masing ukuran shot di atas akan memiliki makna yang berbeda-beda ketika diimplementasikan pada pengambilan sebuah gambar/shooting.
1. Untuk mengikuti area yang lebar atau ketika adegan berjalan cepat
2. Untuk menunjukkan dimana adegan berada/menujukkan tempat
3. Untuk menujukkan progres
4. Untuk menjukkan bagaimana posisi subjek memiliki hubungan dengan yang lain
Tapi,yang perlu dipahami juga justru makna-makna yang ditampilkan ketika shot-shot itu dibuat secara close up. Efek close up biasanya, akan terkesan gambar lebih cepat, mendominasi, menekan. Ada makna estestis, ada juga makna psikologis.
MOVEMENT
Terdapat paradoks dalam menciptakan camera movement untuk menghasilkan perubahan visual ketika mencoba membuat invisible movement. Secara teknis hal ini dimaksudkan untuk menghindari bergesernya perhatian penonton. Caranya adalah dengan melakukan pergerakkan kamera yang mengikuti pergerakkan subjek. Tapi yang harus diperhatikan tentu saja adalah tujuan atau motivasi dari pergerakkan kamera itu dibuat. Secara umum, menurut Peter Ward dalam Digital Video Camerawork, motivasi itu antara lain :
1. Untuk menambah interest visual
2. Mengekresikan kegembiraan
3. Meningkatkan ketegangan
4. Memberikan interes pada subjek baru
5. Memberikan perubahan angle/sudut pandang.
Hampir di keseluruhan shot yang ditampilkan dalam film Emergency Room atau E.R. menggunakan konsep ini, dengan demikian efek dramatis tercipta sehingga penonton akan merasakan bagaimana suasana yang sangat dinamis di setiap ruang rumah sakit. Demikian juga di beberapa filmnya Rudy Soedjarwo, walaupun menurut saya masih terasa nanggung. Jadi, apa sebenarnya motivasi Rudy membuat film dengan konsep handheld tersebut ?
ANGLE
Secara mekanis, angle atau sudut pengambilan gambar itu berhubungan erat dengan lensa kamera, baik jenis lensa yang digunakan maupun penempatan kamera itu sendiri. Masih menurut Ward, ruang internal shot sering menonjolkan kualitas emosional dari adegan. Perspektif yang normal untuk membangun shot sering digunakan secara gamblang dan langsung. Tinggi lensa akan mengendalikan bagaimana penonton mengidentifikasi subyek. Lensa rendah akan mengurangi detail level latar belakang dan menghilangkan indikasi antara latar belakang dengan objek. Posisi lensa yang tinggi memiliki efek sebaliknya.
Pengambilan gambar dengan low angle, posisi kamera lebih rendah dari objek akan mengakibatkan objek lebih superior, dominan, menekan.
Kebalikan dari low angle, akan mengakibatkan dampak sebaliknya, objek akan terlihat imperior, tertekan
Dengan mengetahui dampak pesan yang akan tersampaikan dari sudut pengambilan gambar ini, diharapan sinematografer atau videografer bisa mengkonstruksi shot-shot yang akan dibuat sesuai dengan pesan apa yang ingin kita sampaikan pada penonton.
Satu sekuens yang sama akan dimaknai berbeda ketika pemlihan angle shot yan berbeda pula. Misalnya adegan demontrasi mahasiswa, rangkaian petama : 1. long shot para demontrans, 2. high angle demonstran teriak-teriak, 3. low angle polisi sedang menggebuki demonstran. 4. high angle demontran kesakitan, sedangkan rangkain ke dua : 1. long shot para demontrans, 2. low angle demonstran teriak-teriak, 3. high angle polisi sedang menggebuki demonstran. 4. low angle demontran.Dalam sekuens pertama, penonton akan memaknai rangkaian shot tersebut bahwa ada demontrasi yang dilakukan mahasiswa, polisi dengan superioritasnya bisa menangani aksi demontrasi itu dengan sikap represif, mahasiswa teretekan. Sedangkan dalam rangkain shot pada sekuens ke dua, penonton akan melihat demontrasi yang dilakukan mahasiswa walapun dijaga oleh para polisi, mahasiswa terlihat superior dan mendominasi bahkan lebih gagah dari para polisi.
Ya, ini baru satu aspek saja yakni dari angle atau sudut pengambilan gambar bisa menghasilkan efek yang berbeda pada penonton. Jadi, angle menjadi elemen makna atau pesan. Pesan apa yang ingin disampaikan pemberi pesan ?
1. Menonjolkan subyek prinsip
3. Menyediakan variasi ukuran shot
4. Memberikan kelebihan tambahan terhadap subyek yang dipilih
5. Menyediakan perubahan sudut atau ukuran shot untuk memungkinkan terjadinya inter
6. Menciptakan komposisi shot yang baik
7. Meningkatkan arah mata
The Love Scene

White Balance

Reaction Shoot

Salah satu bentuk "shot" yang kadang terlupakan pada saat produksi
program televisi baik untuk produksi menggunakan single atau multi kamera, ataupun produksi untuk live maupun recording adalah "Reaction Shot". Tipe shot untuk "reaction" tidak selalu namun umumnya bisa dibagi dalam 4 bentuk Reaction Shot :
1.Talk Show
umumnya reaction shot lebih banyak Close Up, ini untuk menunjukkan
ekspresi lawan bicara saat dialog berjalan
2. Sport
Gunakanlah "Grup Shot" untuk mendapatkan reaksi dari berbagai
penonton yang duduk berderetan. Bisa saja, dalam Group Shot ini, tampak dua reaksi penonton yang berbeda, yang menang tampak gembira, yang kalah tampak sedih.
3. Music Show
Disini "reaction shot" sangat beragam, bisa ke wajah, tangan bertepuk,
ketukan kaki, bibir bernyanyi dsb. Sering juga disebut dengan "Variety Moment Shots".
4. News
Reaction shot diambil sesuai dengan kondisi Aktual dan Faktual yang dihadapi.
Semakin Aktual reaction shot semakin bagus.
Nah, jangan lupa durasi untuk Reaction Shot ini minimal 5 detik. Bisa saja
kurang dari 5 detik tapi biasanya kurang bisa dimengerti oleh pemirsa karena terlalu cepat. Tapi kalau lebih dari 5 detik, bisa saja tapi bukan lagi sebagai "reaction shot" tapi ini adalah sebuah "Moment SHot".
Jadi, jangan lupa selalu membuat Reaction SHot, membuat televisi menjadi
lebih interaktif secara pasif....
Semoga bermanfaat.. .
LOW WIDE ANGLE SHOT



