Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

Quiet Quitting


Pernah dengar istilah quiet quitting? Bukan berarti karyawan diam-diam mengundurkan diri, melainkan mereka tetap bekerja, namun hanya sebatas yang tertulis di kontrak. Tak ada lagi lembur tanpa bayaran. Tak ada ambisi mengejar promosi yang penuh tekanan. Mereka bekerja seperlunya, lalu pulang. Fokus pada hidup di luar pekerjaan, bukan sekadar jadi roda yang terus berputar dalam mesin korporasi.
Fenomena ini pertama kali populer di Amerika Serikat pada 2022. Tapi kini, tren serupa mulai menyebar ke Jepang dan negara-negara lain, termasuk Indonesia. Survei Mynavi di Jepang mencatat bahwa 45% pekerja, terutama generasi muda hanya menyelesaikan pekerjaan sesuai kebutuhan minimum. Tak lagi ingin naik jabatan jika harus mengorbankan waktu pribadi. Mereka lebih memilih menikmati hobi, berkumpul dengan keluarga, atau sekadar beristirahat.
Alasan utama munculnya quiet quitting adalah karena banyak pekerja merasa tak dihargai. Gaji stagnan, beban kerja berat, dan penghargaan yang minim membuat mereka lelah secara mental. Terlebih lagi, hilangnya jaminan kerja seumur hidup, pemotongan tunjangan, serta bonus yang tak lagi sebanding dengan pengorbanan membuat loyalitas terhadap pekerjaan semakin memudar.
Profesor Izumi Tsuji dari Universitas Tokyo menyebutkan bahwa tren ini bukan semata bentuk kemalasan, tapi respons alami terhadap sistem kerja yang terlalu menekan. Generasi muda Jepang lebih rasional. Mereka tahu bahwa pengorbanan besar tidak selalu dibayar setimpal. Mereka yang melakukan quiet quitting tetap profesional. Mereka tidak bolos kerja, tidak menyabotase tugas, atau lalai dalam tanggung jawab.
Mereka hanya memilih untuk tidak memberi energi ekstra pada pekerjaan yang tidak memberi mereka makna atau imbalan yang sepadan. Mereka menarik batas, dan itu adalah bentuk perlindungan diri. Menurut penelitian dari Gallup, hanya 15% pekerja di seluruh dunia yang benar-benar terlibat secara aktif dalam pekerjaan mereka. Sisanya berada dalam zona abu-abu, bekerja karena harus, bukan karena cinta. Dan quiet quitting muncul dari kelompok yang lelah, tapi belum benar-benar menyerah.
Meski belum ada survei nasional khusus, tanda-tanda quiet quitting di Indonesia mulai terasa. Di media sosial, istilah “kerja buat hidup, bukan hidup buat kerja” semakin populer. Banyak anak muda, terutama Gen Z berani menolak lembur tanpa bayaran, menolak komunikasi pekerjaan di luar jam kantor, dan mulai mencari makna di luar pencapaian karier.
Salah satu bukti tren ini adalah meningkatnya minat pada pekerjaan remote dan freelance. Berdasarkan laporan dari Jobstreet Indonesia 2024, sekitar 43% pencari kerja Gen Z menyatakan bahwa fleksibilitas dan work-life balance lebih penting daripada gaji besar. Mereka tidak malas, mereka hanya ingin hidup yang lebih utuh.
Sumei Kawakami, seorang jurnalis Jepang yang juga aktif memantau tren ketenagakerjaan, menyebut bahwa quiet quitting adalah gejala dari perubahan budaya kerja.Saat ini kita hidup di era pasca-pandemi. Banyak orang menyadari bahwa waktu bersama keluarga, kesehatan mental, dan kehidupan pribadi tidak bisa ditukar dengan lembur atau target yang tak pernah ada habisnya.
Hal ini sejalan dengan pendekatan psikologi kerja modern, yang lebih menekankan pada kesejahteraan dan keberlanjutan karier. Psikolog industri-organisasi dari UI, Dr. Ratna Mulyani, menegaskan bahwa jika perusahaan tak segera menyesuaikan diri, mereka bisa kehilangan talenta terbaiknya. Anak muda sekarang lebih peka terhadap nilai-nilai kehidupan. Mereka tak hanya bekerja untuk uang, tapi juga untuk tujuan dan kebebasan.
Perusahaan harus beradaptasi. Tidak semua orang termotivasi oleh promosi atau bonus. Bagi Gen Z, fleksibilitas, penghargaan, dan makna jauh lebih penting. Perusahaan perlu membangun budaya kerja yang mendengarkan, bukan hanya menuntut. Karyawan berhak menetapkan batas. Quiet quitting mengajarkan bahwa menjaga diri adalah bentuk kedewasaan. Menolak lembur atau menjaga waktu pribadi bukanlah dosa, tapi bentuk kesadaran diri. Work-life balance bukan mitos. Kini semakin banyak bukti bahwa pekerja yang bahagia justru lebih produktif. Jadi menjaga keseimbangan bukan hanya untuk karyawan, tapi juga demi keberlangsungan bisnis itu sendiri. Indonesia perlu mempersiapkan. Dengan demografi muda yang besar, Indonesia harus bersiap menyambut pola pikir kerja baru. Sistem kerja yang lentur, peran HR yang lebih humanis, dan pemimpin yang empatik adalah kuncinya.
Quiet quitting bukan tentang berhenti bekerja. Ini tentang bagaimana seseorang memilih untuk menyeimbangkan kehidupan, tidak menjadikan pekerjaan sebagai satu-satunya sumber identitas. Mungkin kamu tidak harus ikut-ikutan, tapi setidaknya, ini bisa jadi cermin. Apakah masih mengejar validasi kantor tanpa sempat menikmati hidupmu? Atau mulai bertanya, apa hidupku hanya tentang bekerja?
Setiap orang punya pilihan, Dan setiap pilihan punya konsekuensi. Tapi satu hal yang pasti, hidup terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk mengejar hal yang tak pernah cukup.
---

Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

SitKom

Apa itu sitkom? Secara sederhana, sitkom adalah sebuah konsep tayangan drama yang mengedepankan unsur humor. Berasal dari istilah luar, sitcom (Situation Commedy) berupa sebuah drama yang menampilkan segenap kelucuan dan situasi humor dengan penggarapan yang sebagian besar menggunakan set bangunan interior studio sebagai lokasi syuting. Di masa kini penggarapannya mengguna­kan beberapa kamera (multicamera) untuk menampilkan segala bentuk angle humor dari beberapa posisi. Semua scene di set menjadi sebuah cerita lucu yang justru dibawakan dengan sangat serius oleh para pemainnya.
Komedi yang ditampilkan biasanya menggunakan sketsa-­sketsa antarbabak, dibawakan oleh pemain utama dan menampil kan seorang atau lebih bintang yang dijadikan guest star. Penonton di dalam studio akan merespons tayangan tersebut dengan tepuk tangan atau tertawa akibat akting lucu yang di­tampilkan para aktornya. Teknik penyiarannya bisa secara live show atau tapping (direkam).
Para penulis skenario tayangan jenis ini mulai meng­golongkan jenis-jenis sitkom menjadi 3 bagian yang disebut Dommestic Commedy (Komedi Keluarga), Action Commedy (Komedi Aksi) dan Dramatic Commedy(Drama Komedi).

Action Commedy
Jenis tayangan sitkom action Commedy (komedi aksi) menge­depankan unsur aksi di dalam menampilkan segenap kelucuan. MR. BEAN adalah sebuah contoh komedi aksi yang cukup sukses. Segala gerak-gerik dan aksi Rowan Atkinson (pemain utama MR. BEAN) ditujukan untuk menimbulkan tawa. Walaupun sering berisi adegan slapstick, tetapi kita disuguhi cara bercerita humor yang menarik dengan mengguna­kan pendekatan kejadian sehari-hari. MR. BEAN sebenarnya meniru gaya humor Charlie Chaplin yang meminimalkan dialog (nyaris tanpa dialog). Tingkah polah aktornya yang menjadi andalan kelucuan.
Inti dari skenario sitkom komedi aksi adalah aktivitas karakter yang sedang menyelesaikan masalah dengan cara yang salah, aneh dan tidak terduga. Ending dari skenario komedi ini sering dibuat menggantung, aneh atau tidak terduga sama sekali. Cerita mengalir dan kadang di luar logika, diusahakan untuk me­nimbulkan kesan surprise. Dapat pula berupa sindiran terhadap aktivitas manusia yang menampilkan ciri munafik, sok tahu, ber­lagak, sombong ataupun ciri-ciri negatif yang di parodikan. Karakter sangat aktif bergerak, sering tampil adegan saling mengejar atau malah saling memukul. Kejadian sial atau kecelakaan justru men­jadi terasa menarik yang di eksplorasi menjadi unsur humor. Setting lokasinya tidak terbatas, bisa di luar maupun di dalam studio. Namun cara penulisan skenarionya biasa meng­gunakan pendekatan cara pandang 1 karakter. Akibatnya, hampir di keseluruhan scene, karakter utama selalu hadir dan ditampil­kan untuk menghadapi kekonyolan yang beruntun.

Domestic Commedy
Domestic comedy (komedi keluarga) adalah bentuk tayangan sitkom paling banyak diproduksi di Amerika Serikat. Drama ini mengedepankan konsep produksi TV Play, ditata dalam sebuah set studio dan menggunakan aturan-aturan pertelevisian seperti durasi, teknik angle kamera, building set dan peta pergerakan karakter. Konsep ini tentu saja sangat membatasi ruang gerak sang aktor.
Salah satu teknik bercerita di dalam sitkom keluarga menggunakan rumus sederhana sebagai berikut:
a. Sebuah masalah terjadi, tokoh Ayah tidak mengetahui, tokoh anak berupaya menyembunyikan dan mencari jalan keluar­nya. Masalah semakin membesar dan menimbulkan ke­kacauan, yang kemudian membuat tokoh ayah terkejut. Tokoh anak berusaha mengupayakan sebuah penyelesaian, tokoh ayah membantu untuk menyelesaikan masalah itu dengan bijak.
b. Sebuah masalah terjadi, tokoh ayah dan ibu mengetahui, berusaha menyembunyikan masalah tersebut dari anaknya. Masalah semakin membesar, sang anak mengetahui hal yang berusaha ditutupi ayah dan ibunya. Sang anak menjadi marah dan membuat kekacauan. Tokoh ayah dengan bijak berusaha mendamaikan kembali anak dan keluarganya.
c. Sebuah masalah terjadi karena ada orang luar (teman jauh, keluarga lain) yang berkunjung ke dalam rumah (bergabung dengan keluarga) dan membuat keadaan menjadi tidak harmonis. Tokoh anak menjadi kesal dan berusaha mengusir­nya. Tokoh Ayah berusaha menahan emosi anaknya. Masalah semakin membesar karena tokoh 'orang luar' semakin tidak tahu diri dan membuat kekacauan. Puncaknya, sang Ayah berhasil menemukan jalan untuk mengatasi masalah.
d. Sebuah masalah terjadi karena ayah, ibu dan anak menge­tahui sebuah persoalan dan berusaha memecahkannya dengan bermacam-macam cara. Tokoh ayah digambarkan 'sok cerdas', tokoh anak digambarkan 'keras kepala' dan tokoh ibu mempunyai cara pandang 'wanita' yang kadang tidak dianggap sebagai sebuah penyelesaian masalah. Namun di tengah cerita, cara pandang 'wanita' tersebut dapat menyelesaikan masalah yang terjadi. Di akhir cerita ditampil­kan tokoh ayah yang sadar dan mengakui 'kepintaran' istrinya dengan cara yang bijak.
Modifikasi Domestic Commedy
Selain berbagai jenis tayangan domestic commedy yang me­nampilkan berbagai macam keluarga yang harmonis dan lengkap, banyak pula diproduksi serial keluarga yang menampilkan 'ketidaklengkapan anggota keluarga'. Modifikasi lain ditampilkan di serial sitkom Bajaj Bajuri yang dibuat oleh Aris Nugraha. Ditampilkan sebuah keluarga Bajuri, Oneng dan Emak, namun tidak dihadirkan karakter anak. Aris Nugraha membuat sebuah modifikasi cerita keluarga yang 'sebenarnya tidak hangat'. Kita melihat Bajuri yang selalu konflik dengan Emak dan susah berkomunikasi dengan Oneng Yang 'lamban dalam berpikir' dan terlal

Dramatic Commedy
Drama komedi adalah bentuk komedi yang dibuat di televisi dengan menggabungkan konsep drama dan sinetron. Drama komedi paling sering dibuat untuk layar lebar. Ex : Naga Bonar, Kejar Daku Kau Kutangkap. Teknik pembuatan drama komedi lebih sulit dibanding produk komedi lainnya. Idealnya, sebuah drama komedi memenuhi beberapa syarat:
a. Permainan akting antar aktor yang memikat dan realistic hingga membentuk harmonisasi cerita.
b. Keunikan sebuah aktivitas karakter, topik yang dibahas dan cara mengembangkan konflik  berdasarkan aktivitas sang karakter.
c. Kekuatan sebuah skenario membentuk drama dan komedi sebagai sebuah kesatuan konsep.
Drama komedi bukan sekedar komedi yang disisipkan dalam sebuah drama sinetron, melainkan sebuah cerita yang kuat yang otomatis membentuk unsur humor tanpa harus dibuat-buat dengan penambahan adegan slapstick dan tidak masuk akal. Tentu saja dialog yang tepat harus digunakan dengan teliti, men­campurkan humor ke dalam cerita drama itu tanpa menghancur­kan bangunan cerita secara keseluruhan.
u lugu

EDUTECH IS COMING

 Dipilihnya Nadiem Makarim oleh Presiden Jokowi sebagai Mendikbud periode 2019-2024 menandai dimulainya EduTech.
Istilah EduTech digunakan, karena memiliki kemiripan dengan FinTech.
Jika FinTech adalah perpaduan antara financial dan technology, maka EduTech adalah perpaduan antara education dan technology.
Seperti kita ketahui Inovasi teknologi finansial dimulai dari dunia perbankan dengan munculnya Core Banking System (CBS), aplikasi yang merupakan jantung dari system perbankan.
Fungsi core banking yang paling mendasar adalah melayani nasabah untuk kebutuhan funding, lending dan deposit uang.
Fungsi lain core banking adalah merekam semua transaksi yang terjadi dalam rekening nasabah baik itu berupa tabungan, loan, kpr, maupun transaksi pembayaran.
Akses ke CBS dapat dilakukan melalui banyak channel seperti Teller (Cabang), ATM, Internet Banking, Mobile Banking dan lainnya.

Bagaimana dengan EduTech ?
Seperti halnya dengan FinTech, bisa diprediksi bahwa EduTech akan merubah cara dan mekanisme pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi : Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.
Jika selama ini pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi lebih berfokus pada kepentingan dosen dan institusi Perguruan Tinggi, maka EduTech akan memungkinkan masyarakat luas untuk mengakses langsung kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Pengajaran yang selama ini dilakukan dalam ruang kelas yang tertutup, akan mudah diakses melalui proses pembelajaran via online. Mahasiswa dan dosen tidak perlu lagi datang ke kampus, karena proses pembelajaran bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Mirip taglline minuman bersoda, ya...
Penelitian yang dilakukan oleh para akademisi haruslah memberikan dampak langsung bagi masyarakat luas. Tidak bisa lagi sekedar penelitian berbasis kepustakaan belaka.
Namun hasil penelitian haruslah memberikan output dan outcome bagi masyarakat luas.
Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), bukan lagi sekedar memenuhi kebutuhan pelaksanaan Tri Dharma saja.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pelaksaanaan PKM hanyalah sekedar seminar / pelatihan sesaat tanpa mempertimbangkan kelanjutannya / tanpa pendampingan (mentoring).

Jika saat ini ada institusi perbankan yang tidak menerapkan CBS, bisa dipastikan bahwa institusi perbankan tersebut tidak akan mendapatkan nasabah.
Demikian pula yang akan terjadi di Perguruan Tinggi.
Perguruan Tinggi yang tidak menerapkan EduTech dalam malaksanakan Tri Dharma nya, maka bisa dipastikan Perguran Tinggi tersebut akan ditinggalkan oleh para calon mahasiswanya.

Wahai para akademisi dan pemangku kepentingan Perguruan Tinggi, siapkah Anda...?

Proteksi agar Video Kita Tidak Dicuri?

Bagaimana jika video yang kita buat ternyata dimanfaatkan oleh orang lain tanpa sepengetahuan kita? Menyebalkan bukan? Hal itulah yang terjadi pada seorang kawan yang seorang pegiat video. Ia kaget sebab videonya digunakan oleh stasiun televisi untuk sebuah tayangan. Tidak hanya itu, yang lebih menyedihkan adalah video tersebut diakui sebagai milik si pencuri video tersebut dengan sebuah watermark.
Setelah komplain di sosial media, akhirnya Wapemred stasiun televisi yang mencuri video itu mau menemui kawan saya. Berikutnya entah kesepakatan apa yang terjadi. Ada pelajaran penting yang bisa dipetik dari kejadian ini. Ya inilah perihal copyright atau hak cipta video. Lantas bagaimana agar video kita aman dari sang pencuri?
Sebetulnya tidak ada hal yang bisa menjamin seratus persen sebuah karya audio visual aman dari si pencomot. Yang bisa dilakukan oleh kreator adalah bagaimana meminimalisir video tersebut jatuh ke tangan yang tidak berhak tadi.

Berikut merupakan beberapa cara untuk menjaga video kita setidaknya tidak serampangan digunakan tanpa izin si pemilik.
Saat kita membuat video tentu salah satu hal yang mesti kita pastikan adalah untuk siapa video itu dibuat. Apakah video itu dibuat untuk bisa tersebar ditonton banyak orang? Atau malah sebaliknya, jangan sampai video itu dilihat oleh publik. Kenapa hal ini penting? Sebab bagaimana kita menjaga video tersebut juga menjadi salah satu hal penting.

Watermark
Ini merupakan teknik paling mudah yakni video diberi gambar watermark. Tehnik visible watermark, video disisipi tanda berupa gambar atau tulisan berwarna putih dengan transparan. Dengan cara ini video secara jelas akan ketahuan milik siapa. Hanya ini tentu saja akan sedikit menganggu yang melihat video tersebut. Simple dan gratis, sebab tidak memerlukan software khusus. Kelemahannya, selain mengganggu watermark ini tidak bisa dihilangkan terutama jika watremark ditempatkan pada area yang sulit dicropping.
Namun ada juga jenis watermark yang invisible, ia tidak kelihatan secara kasat mata namun bisa menandai video tersebut dengan logo atau text. Hanya saja untuk menggunakan invisible watermark ini memerlukan software khusus. Salah satunya yakni Digimarc Guardian, ia bisa memproteksi video yang dimaksud. Dengan software ini video bisa “dikunci” sehingga hanya bisa dilihat dengan enkripsi melalui software tersebut.

Proteksi Plugins
Inilah proteksi video yang sesungguhnya. Bahkan dengan Digital Rights Management (DRM) misalnya, video bisa distetting sedemikian rupa untuk hanya ditonton pada periode waktu tertentu. Lantas untuk apa sebetulnya proteksi video seperti ini? Tentu untuk video yang kebutuhannya bagi kalangan terbatas. Misalnya video marketing tool perusahaan yang diperuntukan bagi kalangan karyawan saja.

Video Password
File video bisa dibuatkan passwordnya. Fasilitas password untuk memproteksi file video ini ada di platform pendukung hosting dan marketing. Jadi, individu atau group yang mendapat otoritas pada video tersebutlah yang bisa mengakses. Hal ini dilakukan baik pada satu video atau berupa play list yang memuat beberapa video.

Area Domain
Nah video yang ada pada web tertentu juga bisa diproteksi, bisa dikontrol apakah misalnya video tersebut bisa dishare atau diplay kembali. Ya dengan domain restriction ini cocok untuk website yang hendak memuat video dengan kontrol penuh.

Penjadwalan
Kadang ada video yang hendak kita pertontonkan dalam kurun waktu tertentu. Dengan scheduled delivery, maka video bisa diunggah kemudian diajdwalkan penayangannya dalam kurun waktu tertentu. Video yang dikirim bersamaan dengan kode akses dimana kode tersebut ada tenggat waktunya.

IP AddressHampir sama dengan domain, namun restriction IP Address ini memang dibuat untuk lingkungan tertentu misalnya perusahaan dan kampus. Jadi video hanya bisa diputar pada komputer dengan IP Address yang telah ditentukan. Video yang hanya bisa dibuka di IP Address tertentu ini biasanya merupakan video yang bersifat internal, misalnya untuk keperluan training.
Masih ada beberapa lagi bagaimana agar video bisa diproteksi sedemikian rupa yang intinya video tersebut hanya digunakan oleh orang yang kita inginkan saja.

Perihal Hak Cipta
Sedangkan kasus pencurian video seperti di awal artikel ini sebetulnya agak lain. Seorang teman memang sengaja mengunggah video tersebut melalui platform YouTube. Ia memang tidak memproteksi video tersebut karena memang sengaja untuk bisa ditonton publik.

Namun nyatanya ada yang memanfaatkan video tersebut untuk keperluan komersial. Dalam hal ini sebuah stasiun televisi mengambil video tersebut tanpa izin pada si pembuat. Bahkan tanpa malu ia mencantumkan watermark yang seolah video tersebut merupakan property si media pencuri tadi.
Tentu hal itu salah sebab artinya ia telah melanggar hak cipta, sesuatu hal yang sebetulnya sudah lama namun masih banyak tidak disadari oleh masyarakat kita. Kebiasaan mengambil dan menggunakan video orang lain tanpa izin masih saja menjadi kebiasaan. Dan celakanya hal itu dilakukan pula oleh stasiun televisi, tanpa malu mengambil video hasil karya kreator.

Associate Producer atau Assistant Producer, Dia Harus Bisa Apa?

AP di atas maskudnya singkatan dari Associate Producer, sebuah profesi dalam produksi program acara televisi dan film. Nah artikel ini hendak menjelaskan apa sih sebetulnya Associate Producer itu. Kemampuan apa saja yang mesti ia miliki sehingga perusahaan atau personal akan menggunakan jasa dari orang yang dimaksud.

Associate Producer kerap kali memiliki latar belakang yang berbeda, Vino G. Bastian misalnya ia menjadi Associate Producer untuk film Tabula Rasa, Vino sendiri dikenal sebagai aktor yang biasa di depan layar. Di televisi atau production house seorang Associate Producer biasanya ia pernah menjadi Production Assistant. Perihal Production Assistant sudah saya tulis sebelumnya. Namun demikian AP juga bisa berasal dari seorang yang sebelumnya tergabung di Tim Kreatif. Tapi yang jelas, dia biasanya merupakan orang yang pernah bekerja di bidang audio visual.
Associate Producer sebetulnya tidak hanya ada di dunia televisi dan film, sebab profesi ini juga ada di industri game, yakni Game Associate Producer (GAP). Tapi kali ini bahasan akan saya persempit pada Associate Producer yang bekerja di stasiun televisi dan rumah produksi.

Responsibility
Associate Producer, ia tidak bertanggungjawab kepada Producer. Nah karena itulah ini yang menjadikan perbedaan antara Assistant Producer dengan Associate Producer, walaupun di beberapa tempat dianggap sama. Bagi Associate Producer maka Produser merupakan rekan kerja, sebab itulah kemampuan Associate Producer sebetulnya hampir sama dengan Produser.
Namanya Andika Hutama, saat ini bertangungjawab untuk Pagi-Pagi Pasti Happy. Dika adalah Associate Producer di Trans TV. Acara stripping tiap pagi ini tidak memiliki Producer, Dika bercerita jika ia ditunjuk untuk menangani acara tersebut. Atasannya menilai jika ia mampu memimpin sebuah acara layaknya seorang produser. Dika bekerja dibantu oleh 4 orang Production Assistant dan 4 orang Kreatif. Dika bekerja sebagai Associate Producer tanpa producer. Ia bertanggung jawab langsung pada Executive Producer.

Kualifikasi
Lantas kemampuan apa saja yang mesti dimiliki seorang Associate Producer? Kualifikasi apa sehingga ia layak mendapatkan posisi tersebut. Apakah seorang Associate Producer bekerja seperti halnya Production Assistant yang bekerja siang malam nyaris tanpa jeda?
Di beberapa stasiun televisi jabatan Associate Producer disebut sebagai Perancang Acara Madya. Hal tersebut merujuk pada istilah produser yang disebut sebagai Perancang Acara. Perancang Acara merupakan padanan Bahasa Indonesia paling tepat untuk produser televisi. Nah untuk bisa menjadi Associate Producer maka ia mesti memiliki kualifikasi sebagai persyaratan bahwa seseorang itu layak atau tidak.
Komunikasi verbal dan tertulis merupakan kemampuan utama yang mesti dimiliki, karena seorang Perancang Acara Madya akan berhubungan dengan banyak orang dimana komunikasi verbal serta tertulis merupakan syarat mutlak. Komunikasi lisan dan tulisan kerap dilakukan oleh AP untuk berkoordinasi hingga lintas departeman.
Karena salah satu tugasnya berkoordinasi tadi maka kerja seorang AP mesti teroganisir serta mampu memperhatikan hal sangat detail. Kualifikasi lain yang mesti dimiliki seorang AP adalah ia mesti seorang yang pemikir dan analitis, mampu menangani tugas teknis serta paham betul kompenen visual.
Selain bekerja kolaborasi dengan tim, AP juga harus memiliki kemampuan bekerja secara mandiri serta pandai dalam mengambil inisiatif. Ia mesti mampu menentukan skala prioritas, mencapai tujuan, dan yang paling penting lagi bisa memenuhi tenggat waktu. 


Manajemen Waktu
Siapa yang mengatur waktu seorang Production Assistant dalam bekerja? Tidak ada. Ialah yang mesti pandai mengatur sendiri. PA tidak bekerja office hour, tidak pula ia bekerja 8 jam dalam satu hari. Seorang PA bisa bekerja lebih dari 12 jam. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Beberapa program televisi dibuat membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Satu-satunya yang membatasi adalah deadline atau tenggat waktu. Itulah yang menyebabkan seorang PA bisa bekerja seolah tidak mengenal waktu. Maka manajemen waktulah menjadi kuncinya. Bagaimana misalnya agar pekerjaan tidak menumpuk. Timeline dan working schedule mesti menjadi acuan seorang PA sehingga pekejaan bisa selesai tepat pada waktunya.

Silang sengkarut ini kerap terlihat di banyak stasiun televisi di Indonesia, sebab itulah misalnya ada produser yang posisinya ia raih dengan instan. Ia tidak pandai menulis serta kurang memahami konten, padahal konten itu sangat penting. Pun juga kebalikannya, produser tidak boleh konsen pada konten semata, sementara hal teknis tidak dikuasai.
Pada akhirnya tulisan ini hendak menyampaikan pesan, bahwa pahami segala sesuatu secara menyeluruh jangan parsial agar saat kita menjalani profesi tertentu tahu persis bahwa kita memang layak secara kualifikasi hingga bisa menjalankan responsibility dengan baik pula.






TV Streaming: Lebih dari Kanal Alternatif

Streaming vs Konvensional
Hingga saat ini antara broadcasting konvensional dan streaming, masih memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai media siaran baru, peralatan yang digunakan untuk streaming jauh dianggap lebih murah ketimbang peralatan yang diperlukan oleh media siaran konvensional. Sedangkan salah satu yang masih jadi kendala pada siaran streaming yakni kecepatan akses internet yang masih jauh di bawah ideal. Namun kelak, jika kecepatan akses internet sudah tidak lagi menjadi permasalahan, bukan hal mustahil jika siaran streaming justru akan mengalahkan broadcasting konvensional.
Aneka Platform
Platform mana sebetulnya yang paling cocok ketika kita menggunakan “pihak ke tiga” siaran atau program hendak disebarluaskan? Saat ini banyak pilihan, bahkan dalam waktu bersamaan bisa saja kita menggunakan pelbagai platform tersebut. YouTube setelah menjadi media pengunggah serta pengunduh video, menjadi platform favorit untuk streaming. YouTube Live menjadi pionir yang setelahnya disusul oleh  Facebook Live, Akamai, Wowza Stream Server, Zixi, dan Adobe Media Server. Berbagai platform ini tentu saja memiliki kelebihan masing-masing, karena itu pula beberapa pengguna  ada kalanya menggunakan lebih dari satu platform dengan harapan akan mendapat viewers yang lebih banyak dan beragam.

Hardware dan Software
Kualitas streaming akan dinikmati dengan baik ditunjang oleh tiga faktor, yakni hardware atau piranti keras  yang kompatibel, software atau piranti lunak dengan beragam fitur penunjang, serta akses internet dengan kecepatan tinggi. Menyadari hal ini, berbagai vendor telah merancang hardware serta software yang mendukung aktifitas live streaming.

Livestream Studio 4.2

Livestream belum lama merilis Studio 4.2 sebagai live production switcher, yakni sebuah switcher yang nampaknya didedikasikan khusus buat live streaming. Tak hanya kamera dengan menggunakan kabel, sebab Studio 4.2 juga didesain untuk konektifitas kamera tanpa kabel alias wireless camera. Untuk tampilan,  Ada dua jenis output yang ditawarkan yakni HDMI dan SDI. Studio 4.2 juga mendukung berbagai device untuk live streaming dari mulai Facebook Live hingga Adobe Media Server.

TriCaster Mini

Berkantor di negara dengan teknologi maju Jepang, NewTek merupakan salah satu perusahaan yang konsisten dalam mengeluarkan berbagai produk untuk keperluan penunjang broadcasting. Dari mulai sistim produksi terintegrasi hingga software kreatif yang juga berkaitan dengan penyiaran. Jika Tricaster 8000 diperuntukkan bagi penyelenggara penyiaran dengan skala besar, maka Tricaster Mini nampaknya didesain untuk keperluan dengan skala kecil. Ya inilah sebuah alat untuk keperluan live streaming yang dikoneksikan ke beragam platform seperti halnya Livestream Studio 4.2.
Namun kecil-kecil cabe rawit, sebab TriCaster Mini memiliki pelbagai fitur yang bisa diandalkan penggunanya. Karenanya ia mengklaim sebagai sistem yang all in one, dan tak perlu kru yang banyak untuk menghandle peralatan multiguna ini. Fikri Ramadhan videomaker asal Bandung mengaku telah menggunakan produk NewTek ini untuk berbagai helatan. Laki-laki yang biasa disebut Piklih inilah salah seorang di balik hiruk pikuk control room acara #KonserGue2. Selain itu Piklih pernah menangani helatan creative live streaming untuk acara Chevrolet Track Unlock The City, Elang Nusa Telkomsel, dan event Menembus Langit (Jakarta-Garut) Live Stream.
Ditanya kenapa memilih TriCaster, Piklih beralasan bahwa TriCaster tidak perlu banyak bridging device. “Semua sudah jadi satu, dari stream multiflatform (social media atau FTP), record ISO bisa, record PGM, grafik, VTR dan lain-lain” paparnya dengan menyebut beberapa istilah teknis. ISO yang dimaksud adalah isolated camera, yakni pengambilan gambar yang bukan gambar utama PGM (program).

BlackMagic ATEM
ATEM Television Studio HD ditengarai sebagai production switcher yang didesain untuk keperluan broadcaster serta para provesional di bidang Audio Visual. ATEM 8 konektifitas, yakni 4 SDI dan 4 konektifitas HDMI yang bisa mendukung beragam format video hingga format 1080p. Tak hanya kamera profesional, karena kamera prosumer sekalipun bisa terkoneksi dengan alat ini. Seperti halnya TriCaster, ATEM sebagai produk pendukung streaming keluaran BlackMagic ini juga memiliki banyak output untuk berbagai keperluan pengguna. Selain untuk kebutuhan live production, ATEM juga kerap digunakan untuk acara serial televisi, web show, juga helatan kompetisi game yang sedang banyak digandrungi para remaja. Dengan desain portable namun kokoh, instalasi BlackMagic ATEM tergolong tidak rumit. Dengan demikian pengguna bisa melakukan “bongkar pasang” secara cepat.

WireCast Gear
Berdiri di era tumbangnya Orde Baru di Indonesia, Telesteram bermarkas di Nevada Amerika Serikat ini berfokus pada produk-produk yang kini diperlukan untuk keperluan streaming. Telestream terkenal karena selain mengeluarkan beberapa hardware jagoan, ia juga melahirkan semacam software gratisan untuk keperluan live streaming.
Untuk produk andalan, WireGear Cast merupakan hardware dan tentu saja software di dalamnya yang didesain sedemikian rupa agar keperluan para pengguna penyelenggara live streaming bisa memanfaatkannya. Untuk basic WireGear 110 dianggap sudah cukup mumpuni, 4 koneksi HDMI dirasa cukup untuk keperluan dengan skup kecil. Namun untuk keperluan yang lebih besar, Telestream mengeluarkan tipe WireGear 220 dengan 4 koneksi SDI. Seangkan untuk software sama-sama menggunakan WireCast Pro.
Telestream mengklaim kalau WireCast Gear merupakan ready-to-use system, serta cara penggunaan yang jauh lebih simpel ketimbang kompetitornya. Kelebihan lain dari WireCast Gear yakni build-in encoding, yang berarti bisa dikoneksikan dengan semua layanan platform pendukung streaming seperti YouTube Live, Microsoft Azure, DaCast, dan lainnya.

TV Masa Depan?
Bisa jadi televisi streaming akan menjadi televisi masa depan. Jika saat ini televisi streaming baru sekadar alternatif yang sidestream, tak menutup kemungkinan justru televisi streaming akan menjadi mainstream juga pada akhirnya, seperti televisi konvensional saat ini. Ada hal yang tidak bisa dipungkiri, sebab sebaik dan secanggih apapun teknologinya akan menjadi sia-sia ketika konten atau isi acara tidak terjaga.

Gimmick di Televisi, Bukan Sekadar Pemanis


“Ah hidup kamu kebanyakan gimmick!” Barangkali pernah mendengar seloroh seperti itu ketika seseorang mendapati kepura-puraan atau sesuatu yang dianggap serius padahal sebenarnya sekadar bercanda. Kata “gimmick” kini menjadi populer di masyarakat, yang sebelumnya kata ini hanya digunakan di kalangan orang hiburan, orang-orang di balik atau yang tampil di televisi utamanya.

Gimmick merupakan cara untuk menarik perhatian penonton dengan beragam cara seperti membuat adegan khusus, dandanan yang khas, musik, yel-yel, nyanyian, atau aktifitas lainnya. Gimmick juga bisa dilakukan dengan pergerakan kamera tertentu atau dilakukan saat editing. Karenanya gimmick dimaksudkan untuk menghibur, membuat penonton berdebar-debar, atau mendapatkan kejutan. Seringkali gimmick dibuat seperti tak ada hubungannya dengan inti sebuah acara. Namun itu semua tentu dengan tujuan penonton akan menyukai acara tersebut.
Bagaimana Gimmick Dibuat?
Sukses atau gagalnya gimmick pada acara televisi sangat tergantung dari banyak hal. Dan ketidakberhasilan gimmick kerap ditemui karena si kreator gimmick tidak membuat secara serius sedari awal. Gimmick bisa saja dibuat secara spontan, namun spontanitas demikian rentan pada kegagalan. Jadi sebaiknya gimmick memang sudah dirancang dan direncanakan terlebih dulu, yang di atas kertas keberhasilan gimmick sudah bisa diukur. Gimmick walalupun sedari awal goalnya adalah membuat perhatian penonton, secara spesifik ia harus punya tujuan jelas. Artinya untuk apa gimmick itu dibuat karena sekadar mendapat perhatian penonton saja tidaklah cukup. Tim kreatif sebagai pembuat gimmick sebagai bagian dari acara, ia harus melakukan riset terlebih dulu. Pertama tentu saja ia mesti benar-benar paham tentang program acara yang sebelumnya sudah dirancang. Kedua, pada bagian mana gimmick itu nantinya dipakai; awal acara, di tengah-tengah acara, di ujung segment, atau di ujung acara. Gimmick bisa juga dibuat beberapa kali, kebutuhan seberapa banyak gimmick ini termasuk yang disiapkan dari awal. Ketiga, buatlah rancangan gimmick apakah ia akan tertuang dalam bentuk script, yang berarti nantinya cast akan menggunakan monolog atau dialog. Semi script, yang berarti dibuatkan sript sebagai panduan saja, pemain tak benar-benar menggunakan sript sebagai acuan utama yang berarti pemain bisa mengubah itu namun inti dari yang dimaksud script sebagai gimmick itu bisa tercapai. Atau unscripted, benar-benar tanpa script, pemain melakukan adegan atau dialog berdasar catatan khusus dari tim kreatif. Terakhir, gimmick sebaiknya disimulasikan terlebih dulu dengan tujuan untuk mengukur apakah konsep gimmick yang telah dirancang itu bisa diterapkan dengan baik atau tidak. Seringkali gimmick bisa dijadikan ciri khas pada sebuah program. Artinya gimmick bisadipatenkan menjadi sesuatu yang ditunggu oleh penotnton, kejutan yang kehadirannya dinanti oleh pemirsa. Namun demikian, walaupun akan dibuat pasti dalam setiap episodenya dan telah menjadi ciri khas, gimmick seperti ini pun tetap mesti dipersiapkan. Kegagalan justru hadir karena ketidaksiapan materi gimmick yang sudah dianggap rutin tersebut.

Personalitas dalam Gimmick
Dalam program The Tonight Show misalnya, Jimmy Fallon membuat gimmick kompetisi nyanyi serta sketsa sementara dalam Jimmy Kimmel Live! host Kimmel senang menirukan tingkah para selebriti. Gimmick kerap bisa menempel pada seseorang entertainer, ia akan menjadi ciri khas sendiri pada akhirnya. Apakah itu serta merta terjadi demikian? Tentu saja tidak, sebab gimmcik yang ia dan tim kreatif ciptakan telah melewati rangkaian seperti uraian bagaimana gimmick tercipta di atas. Ketika gimmick yang menyangkut personalitas ditiru oleh lainnya maka penonton akan mudah menengarai kalau gimmick itu orisinil lagi, ini berarti para pengikut atau yang berusaha meniru para pendahulu tidak akan sukses seperti orang-orang yang ditirunya.
Gimmick yang melekat pada personal tertentu nampaknya masih jarang pada cast di Indonesia, walaupun tentu ada. Komedian Haji Bolot misalnya, ia memiliki ciri khas yang kurang dalam pendengaran, sehingga kerap kreatif memasukan unsur gimmick“ketulalitan” Pak Bolot ketika ia menjadi pemain dalam program televisi. Gimmick yang disematkan pada personal tertentu bisa saja dibuat oleh tim kreatif sehingga kehadiran cast tersebut sudah bisa memancing kejutan dan gelak tawa misalnya. Person lain yang bisa dibuat sebagai gimmick biasanya ada pada kicker atau samsak, sehingga walaupun kehadirannya hanya selewatan saja sudah akan menajdi hiburan tersendiri. Sayangnya model samsak seperti ini masih menggunakan slapstick sebagai ciri khas atau adegan-adegan yang dianggap “kasar”.
Pendatang baru Gilang Dirga, rupanya melihat peluang ini. Ia bisa menirukan berbagai suara para pesohor di negeri ini dari mulai suara Presiden Joko Widodo, Gubernur Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, hingga suara Mario teguh. Kepaiawaian dia dalam menirukan beberapa penyanyi seperti Anang Hermansyah hingga Cakra Khan juga menjadikan produser beberapa acara televisi mengundang dia untuk menjadi bintang tamu khusus, dimainkan beragam gimmick atas kemampuan peniruan tersebut.
Gimmick dengan Audio
Audio sebagai bagian penting dari pertunjukan juga bisa menjadi tool sebagai bahan gimmick. Sound effect tertentu misalnya, dapat dibuat untuk gimmick yang akan menjadikan adegan menjadi lucu, menegangkan, atau meriah. Musik dan sound effect untuk keperluan gimmick bisa dibuat sebelum shooting, saat hooting, atau saat editing. Namun yang jelas, musik atau sound effect tersebut harus dibuat konsep terlebih dulu. Artinya ketika nantinya dibuat spontan sekalipun saat shooting misalnya, konsep itu sudah ada jauh sebelumnya. Konsep ini penting agar musik atau sound effect yang dibuat nantinya tidak asal-asalan atau sekadar filler yang bisa jadi justru akan menganggu sebuah adegan atau dialog dalam pertunjukan.

Membuat Gimmick di Edting
Sebagai tahap akhir dalam produksi, gimmick ada kalanya bisa dilakukan saat penyuntingan gambar atau editing. Pada tahap ini editor (tentu atas arahan produser atau tim kreatif) melakukan editing tertentu dengan tujuan sebagai gimmick. Ada banyak cara di sini, tergantung dari konsep serta hasil akhir seperti apa. Misalnya dibuat adegan slow motion atau fast motion dengan efek suara atau musik yang mendukung. Maka bisa jadi nantinya penonton akan melihat adegan tersebut menjadi lucu.
Pada tahap paska produski juga bisa membuat VT (video tape) atau materi yang nantinya akan diputar sebagai salah satu bagian dari show. VT ditonton oleh bintang tamu yang hadir di studio. Yang artinya sedari awal VT tersebut didesain sebagai gimmick, yang kemunculannya diatur sedemikian rupa, dituangkan ke dalam rundown program.
Mystery Guest dalam Talkshow
Pada acara talkshow seringkali formatnya sudah baku, acara dipandu oleh host dengan menghadirkan beragam bintang tamu. Agar tidak monoton, tim kreatif melakukan pelbagai cara dengan tujuan agar acara tidak terlampau serius. Gimmick dalam satu acara tentu akan berbeda dengan acara lainnya, gimmick dengan melihat format acara yang dipakai menjadi salah satu pertimbangan. Sebab misalnya, gimmick untuk acara talkshow bisa jadi berbeda dengan acara variety show.
Pada acara talkshow, bisa dibuat gimmick agar bintang tamu mendapatkan surprise. Ya kata “surprise” menjadi salah satu kunci. Bagaimana agar bintang tamu utama benar-benar mendapatkan kejutan. Maka dihadikannya guest star bisa jadi akan menimbulkan usur surprise tadi. Guest star yang dimaksud bisa jadi orang yang dianggap paling dekat dengan bintang tamu. Maka tentu saja bintang tamu akan terkejut jika mendapati orang terdekatnya dihadirkan. Gimmick seperti ini seringkali sukses, karenanya produser dan tim kreatif acara talkshow membuat gimmick dengan mystery guest yang telah disiapkan, dihadirkan berdasar riset terlebih dahulu tentunya.

Inovasi Tim Kreatif
Setelah script, sepertinya gimmick merupakan hal paling sulit dikerjakan oleh tim kreatif untuk nantinya dituangkan ke dalam bentuk rundown. Atau bisa jadi membuat gimmicklah bagian tersulit itu. Tak jarang gimmick yang mestinya menjadi andalan dalam sebuah acara justru menjadi garing karena konsep gimmick yang tidak dibuat secara matang. Bagaimana agar gimmick yang tertuang dalam bentuk konsep bisa diaplikasikan saat shooting juga hal paling penting lainnya. Agar tidak terjadi mispersepsi, maka gagasan ini dipaparkan oleh tim kreatif pada produser saat gimmick akan dibuat serta dijelaskan pada pengarah acara dan floor director.
Ada beberapa faktor yang saling menunjang satu sama lain sehingga gimmick akhirnya bisa menjadi bagian show yang menarik; konsep yang menarik, inovatif tidak itu-itu saja, dan sesuatu yang fresh. Yang terakhir inilah menjadi concern tim kreatif. Artinya harus terus berinovasi menciptakan hal baru, bukan sekadar meniru gimmick-gimmick yang telah ada sebab peniruan demikian akan menghasilkan sesuatu yang membosankan. Agar gimmick memiliki ciri khas, tim kreatif bisa membuat gimmick yang hanya ada pada acara yang ia buat saja, tidak ditemukan pada acara lain atau acara serupa lainnya.


Video Streaming: Dari Komunitas Hingga Penyiaran Televisi



Menyaksikan event dalam waktu bersamaan dalam jarak tertentu atau bahkan seolah tak berjarak, telah menjadi eksperimen sedari dulu. Namun demikian hal ini berkaitan dengan infrastruktur lainnya, karenanya beragam platform kini memungkinkan untuk membuat acara yang bisa disaksikan di mana saja dengan biaya yang jauh lebih murah.
Membincangkan video streaming akan berkaitan pada beberapa hal, yakni video streaming sebagai cara: menangkap suara dan gambar (menonton), menyiarkan (broadcast), serta mentransmisikan. Ada kalanya ketiga hal ini bisa dilakukan bersamaan oleh pengguna yang sama. Teknologi internetlah yang telah memungkinkan semua ini. Bisa jadi, kelak akan makin banyak kanal-kanal pribadi yang bisa diakses oleh siapapun dan kapanpun secara langsung. Kebiasaan mengunggah video dan menyebarluaskan yang kini sedang menjadi trend nampaknya akan terus diakomodir oleh beragam produsen, baik yang berbekal basis aplikasi maupun dengan bantuan piranti keras.
Beragam Cara Menonton Televisi
Banyak cara bagaimana menikmati siaran televisi. Yang konvensional, tentu saja menonton saluran televisi free to air dengan memanfaatkan antena UHF/VHF. Kelemahannya, sedikit saja saluran yang bisa diterima oleh pesawat televisi karena tergantung dari seberapa banyak transmisi televisi yang ada dan mampu ditangkat pesawat televisi. Masih menikmati saluran free to air bisa pula dengan menggunakan antena parabola. Ada ratusan kanal yang bisa dinikmati, tak hanya kanal yang ada di Indonesia. Dengan antena parabola bisa menangkap beragam saluran televisi luar negeri.
Cara lainnya dengan televisi berlangganan atau tv pay, bisa dengan kabel maupun mini dish parabola. Saat ini sudah banyak penyelia kanal televisi berlangganan. Beragam paket bisa dinikmati. Kelebihan dari televisi berlangganan tentu saja kita bisa menikmati saluran yang tidak ada pada kanal free to air. Kanal-kanal film, fashion, dan olahraga misalnya.
Dan terakhir yang kini sedang menajdi trend adalah menonton televisi melalui siaran streaming. Dengan alat tambahan yang disambungkan pada televisi (dan bisa jadi kelak pesawat televisi bisa embeded dengan alat tersebut) maka menikmati saluran televisi menjadi jauh lebih mudah dan murah. Beragam perusahaan membuat peralatan tersebut. Produk tersebut di antaranya: Roku 3, Amazon Fire TV, Apple TV, Google Nexus, dan Chromecast. Kualitas gambar dan suara di saluran televisi melalui peralatan ini tidak kalah bagus dibanding dengan televisi berlangganan apalagi jika dibandingkan dengan menonton televisi dengan cara konvensional di atas tadi. Pada Roku 3, kita bisa menikmati bahkan hingga 2000 kanal lebih. Roku menyediakan remote control yang memudahkan pengguna dalam pencarian kanal yang diinginkan, ada pula headphone yang bisa digunakan tanpa kabel atau wireless, serta ada tambahan microSD dimana bisa menyimpan game di dalamnya.
Amazone Fire boleh dikata sebagai pionir dalam televisi streaming. Bagi peminat game, alat ini memungkinkan pengguna tak sekadar menonton televisi tapi bisa menikmati beragam game yang sangat populer seperti Minecraft dan Grand Theft. Amazon nampaknya tahu betul kebutuhan peminat saluran televisi streaming biasanya tak ingin repot-repot jika sewaktu-waktu ingin bermain video game walaupun sebenarnya console game ini dijual secara terpisah.
Apple yang sebelumnya terkenal dengan produk iPod dan iPhone, tak mau kalah dalam pembuatan device untuk menonton televisi streaming. Apple TV memungkinkan kita untuk menonton beragam saluran baik yang free to air maupun yang berbayar. Salah satu hal unik dari Apple TV, dengan device iOS kita bisa sharing foto dan video pada sesama pengguna Apple TV.
Setelah populer dengan mesin pencari yang siapapun kini pasti tahu dan menggunakannya, Google tak ketinggalan untuk meramaikan televisi streaming. Google Nexus bekerjasama dengan Asus melahirkan pula Nexus Player. Pun seperti halnya Apple TV, dengan Google Nexus pengguna bisa juga bermain game serta berbagi foto dan video. Selain Nexus, Google juga menghadirkan Chromecast sebuah produk yang nampaknya ebih banyak digemari dari pendahulunya.
Peralatan Live Streaming di Stasiun Televisi
Inilah yang dimaksud live streaming yang digunakan stasiun televisi. Di stasiun televisi, streaming menjadi cara ke empat bagaimana video (dan juga audio) ditansmisikan dari satu tempat. Pertama dengan SNG (Sattellite News Gathering), ke dua dengan microwave, ke tiga dengan FO (Fiber Optic), dan yang terakhir dengan teknologi Internet (IP) Transmission  seperti pada bahasan kali ini. Hingga kini setidaknya ada tiga platform IP Transmission atau live streaming untuk kebutuhan penyiaran televisi yang sudah digunakan oleh banyak stasiun televisi di dunia, yakni LiveU, TVU, dan DMNG.
LiveU memungkinkan digunakan di mana saja tanpa terbatas oleh jarak. Dengan peralatan yang berukuran kecil, perangkat LiveU tentu saja tidak memerlukan kendaraan khusus seperti halnya SNG. Dengan LiveU, reporter bisa bersiaran dari mana saja bahkan bisa melakukan reportase secara bergerak. LiveU mengeluarkan seri LU60 yang bisa menggunakan sinyal 3G/4G serta koneksi WiMAX serta modem wifi. Resolusi video LiveU sudah bisa 1080i HD.
Seperti halnya LiveU, TVU Network memanfaatkan sinyal seluler dan Internet Protocol (IP) dalam mentransmisikan video. TVU dengan TVUPack, peralatan TVU yang compact, memungkinkan untuk dibawa kemana-mana oleh seorang diri di lapangan. Pengoperasian alat ini terbilang sangat mudah yakni cukup menekan tombol on/off. Ada beragam interface standar broadcast yakni SDI, HDMI, Composite, serta Firewire. Kualitas live HD menggunakan koneksi 2.5G/3G/4G. Namun tak seperti SNG tentunya, karena pada TVU akan ada delay beberapa detik. Cukup dalam satu ransel, perlatan modular ini kini sangat populer. TVUPack digunakan oleh beberapa stasiun televisi di Indonesia seperti I News TV (MNC Group) tak jarang menggunakan perlatan ini dalam siaran langsung dari berbagai daerah ketika SNG tidak memungkinkan.
Dibanding LiveU dan TVU, nampaknya DMNG walaupun dianggap pendatang baru namun memiliki “kelebihan”. Ketersediaan input RCA, On Camera, serta peralatan yang lebih ringan merupakan kelebihan dari DMNG. Namun untuk lamanya ketahanan battere rupannya masih kalau dibanding LiveU maupun TVU. DMNG yang merupakan kepanjangan dari Digital Mobile News Gathering memiliki kamera wireless yang didesain khusus oleh Aviwest.
Berbagai Platform Streaming Televisi
Agar siaran televisi dan tentu saja tidak sekadar itu, diperlukan platform yang mendukung untuk mendistribusikan siaran atau tayangan tersebut. BBC yang semula sebagai televisi tereterial di Inggris, tahu betul akan kebutuhan streaming bagi siapapun yang hendak mengakses siaran BBC. Berbasis aplikasi iOS, BBC mengeluarkan BBC iPlayer. Hingga kini tak kurang dari 200 juta pelanggan iPlayer.  Pengguna iPhone, iPad, bahkan laptop bisa mendownload aplikasi ini lantas tersambung dengan BBC melalui iPlayer. Menonton siaran BBC menjadi sangat mudah.
Platform lainnya yang populer tentu saja YouTube. Mulanya Youtube hanya sebagai website peungggah dan pengunduh video. Namun saat ini YouTube memungkinkan bagi siapapun untuk live streaming. Ya seperti yang dilakukan oleh komunitas di Jakarta pada awal artikel ini tentu saja. Tak perlu banyak budget yang dikeluarkan, kini siapapun bisa punya kanal sendiri di YouTube untuk bersiaran langsung. Yang paling banyak menggunakan saat ini adalah para video blogger. 17 juta lebih pengguna YouTube kini saling sharing konten video.
Belum terintegrasi pada semua smart tv, tapi Netflix bisa digunakan di PC/Mac, Appple TV, Wii, telpon Android serta tablet. Dengan Netflix bisa menikmati beragam saluran televisi berkelas. Namun sayangnya tidak gratis sebab Netflix memungut biaya sekitarRp.70 ribu per bulan.
Selain Netflix, ada LoveFilm Instant yang juga bisa berjalan pada PC/Mac, Kindle Fire HD, iPad, Xbox, PS3 serta Sony’s Home Cinema System. Tidak kurang dari 4.000 judul film bisa ditonton melalui Netflix belum termasuk beberapa saluran televisi favorit. Pada bulan pertama kita bisa menikmati semua ini secara gratis, sedangkan selanjutnya mesti membayar.
Siaran Televisi Streaming

Dan siaran televisi streaming sebagai “televisi” yang mandiri nampaknya menjadi hal lain. Komunitas sebagai organisasi nirlaba serta perusahaan sudah memanfaatkan jaringan ini. Artinya televisi sebagai medium siaran ini dijadikan alternatif saat streaming memungkinkan hal itu. Lunar TV, Inspira, serta NT TV sebagai contoh kecil saja bagaimana mereka bisa bersiaran dan tentu dengan budget yang jauh lebih rendah ketimbang televisi konvensional yang sudah lama establish.
Jika infrastruktur memadai tentu saja televisi streaming akan menjadi bukan sekadar alternatif tapi bisa jadi pilihan utama nantinya. Sekolah, kampus, pesantren, atau komunitas apa saja yang sebelumnya tidak mudah untuk “membuat” kanal televisi, kini tidak sulit lagi untuk mewujudkan itu semua. Di balik itu semua, rasanya tak ada yang jauh lebih penting dari konten siarannya. Secanggih dan semudah apapun teknologi akan menjadi sia-sia ketika konten yang ditansmisikan tidak memiliki manfaat bagi si penontonnya kelak.

Ajang Kerjasama Televisi, Production House, dan Pihak Lainnya


Banyak pertanyaan seputar bagaimankah melakukan kerjasama dengan pihak televisi. Jika tidak tepat pada jalurnya memang, jangankan bisa kerjasama karena yang ada malah tersesat berjumpa dengan orang yang tidak tepat atau tidak berkompetensi dalah hal kerjasama. Pada akhirnya televisi juga tidak bisa berdiri sendiri sebab ia memerlukan partner. Bahkan mestinya sebagai broadcasting sesuai namanya, televisi hanya menyiarkan saja sedangkan konten bisa didapat dari pihak lain.

Ada beberapa helatan television broadcasting expo, di mana salah satu agenda besarnya merupakan pertemuan antara pihak televisi sebagai buyer dan para agent yang memiliki lisensi beragam acara televisi. Helatan tahunan ini dilakukan di Singapore, China, Inggris dan Amerika. Selain agent dan televisi, pada acara ini juga dihari oleh pihak dari creative house, production house, agency, maupun personal. Selepas pertemuan itu biasanya televisi akan segera memutuskan untuk membeli program mana yang akan ditayangkan di televisi mereka.
Jauh sebelum mengirimkan perwakilannya ke ajang expo, direktur programming bersama tim acquisision program mendiskusikan tentang program-program televisi apa yang akan dibuat sendiri atau in house production dan program mana yang harus mereka beli atau joint venture. Kebijakan apakah akan buat sendiri atau membeli dari pihak lain diperhitungkan dengan matang, hal itu misalnya melihat dari sumber daya manusia yang mereka miliki apakah akan sanggup membuat acara tersebut atau tidak, juga tentang apakah cost yang dikeluarkan jika suatu acara dibuat sendiri bisa jauh lebih murah atau malah sebaliknya.                                                       
Beberapa program sangat besar biasanya televisi akan melibatkan setidaknya dua pihak: dengan pihak si pemilik program dimana televisi akan membayarkan royalti atas lisensi yang digunakan serta pihak production house yang akan melakukan produksi. Namun bisa saja televisi hanya membayar royalti atas lisensi suatu program, misalnya program-program televisi ajang pencarian bakat. Di Inggris ada sebuah perusahaan di mana ia menghasilkan beragam format acara, creative house semacam itu sudah lazim ada di Inggris dan di Amerika. Bagaimanakah kerjasama televisi di dalam negeri?
Tiga Macam Kerjasama
Untuk kepentingan tayangnya sebuah acara di televisi yang melibatkan pihak luar adalah dengan cara kerjasama. Setidaknya ada tiga jenis atau macam cara kerjasama yang biasanya dilakukan televisi. Pihak yang paling banyak diajak kerjasama oleh televisi adalah production house atau rumah produksi, berikunya adalah agency dan intansi.
Blocking Time
Pada dasarnya televisi memiliki air time yang bisa ia jual pada hampir siapapun. Air time atau waktu tayang bisa diisi oleh tak hanya televisi itu sendiri. Harga sebuah air time sangat beragam tergantung dari televisi mana dan pada jam berapa air time tersebut. Air time pada jam-jam prime time atau waktu utama penonton tentu akan berbeda dengan jam-jam bukan prime time. Demikian juga harga air time di televisi lokal akan berbeda dengan televisi yang memiliki jaringan nasional. Dan hal lain adalah durasi atau panjangnya air time. Harga air time tiga puluh menit akan berbeda dengan harga air time satu jam.
Blocking time berarti televisi menyediakan waktu sedangkan pihak lain menyediakan materi tayang. Dengan kesepakatan tertentu, suatu acara akan ditayangkan di televisi tertentu dengan membayar air time tadi. Namun demikian, siapapun pembeli air time baik production house, agency, intansi, bahkan pribadi sekalipun harus memenuhi kriteria umum atas konten atau materi tayang tersebut. Materi tayang akan harus sudah melewati atau mendapat izin tayang dari lembaga sensor. Secara teknis juga amteri tayang akan melewati tahapan quality control dari televisi yang bersangkutan. Secara sederhana, blocking time itu artinya kita membeli waktu yang dimiliki televisi. Pada televisi lokal, acara seremonial sebuah perusahaan bisa ditampilkan di televisi tersebut dengan melakukan blocking time. Lalu apakah dalam blocking time boleh beriklan? Karena pada dasarnya kita yang telah membeli air time pada televisi tersebut, artinya kita memiliki hak atas waktu yang berarti kita setiap slot iklan pada acara blocking time menjadi milik si pembeli air time. Misal pada acara 30 menit blocking time, bisa diisi penuh oleh isi acara atau setidaknya bisa memiliki enam menit unttuk slot iklan jika konten acara berdurasi dua puluh empat menit. Artinya apakah blocking time itu seluruhnya dipakai untuk konten acara atau dibuat segmentasi sehingga ada jeda iklan di setiap segmennya. Blocking time biasanya dilakukan oleh perusahaan yang ingin menayangkan acara yang berkaitan dengan produk atau jasanya serta intansi pemerintah untuk mengkampanyekan visi dan misinya.
Jual Putus
Inilah metode yang paling digemari oleh production house, sebab televisi akan membeli program dari production house dengan kriteria yang tentu saja sudah disyaratkan oleh televisi. Di Indonesia, program-program televisi yang menggunakan metode jual putus biasanya acara-acara fiksi seperti sinetron atau FTV. Jadi televisi akan membeli program yang dibuat oleh production house yang dituangkan ke dalam sebuah perjanjian, tentang berapa episode, harga masing-masing episode, dan metode serta termin pembayarannya kan tercantum di sana. Karena dalam hal ini televisi pada pihak si pembeli program, maka biasanya ia akan sangat selektif dan tak jarang akan ikut intervensi dalam konten acara tersbut. Sering terjadi misalnya televisi menginginkan artis tertentu atau tema cerita tententu sesuai yang televisi inginkan. Dalam perjanjian juga biasanya ada klausul tentang rating dan share yang harus dicapai program tertentu. Berapa kisaran harga sebuah program dibeli oleh televisi? Ini juga tergantung dari beberapa hal, durasi atau panjangnya program, akan ditayangkan pada hari dan jam berapa, serta harus mendapat perolehan rating dan share berapa. Semakin bagus share dan rating program tersebut maka akan semakin mahal program tersebut dibeli pihak televisi. Dengan jual putus, televisilah yang berhak atas seluruh iklan yang ada pada program tersebut nantinya. Karenanya televisi akan menjual slot iklan tersebut untuk memperoleh keuntungan atas program yang mereka beli dan tayangkan.
Profit Sharing
Cara atau metode ke tiga dari kerjasama televisi dengan pihak lain yaitu profit sharing. Ini seperti jalan tengah antara blocking time dan jual putus. Profit sharing dilakukan ketika biaya pembuatan program keseluruhannya ditanggung production house, sedangkan televisi menyediakan air time atau waktu tayang. Televisi tidak membeli program tersebut, production house tidak dibebankan membayar air time. Lalu dari mana keduanya mendapat keuntungan? Iklanlah yang dibagi dua, jadi dari pemasang iklanlah tv dan ph akan mendapat penghasilannya. Tentang bagaimana slot iklan itu dijual tentu tertuang juga di dalam klausul perjanjian kerjasama dengan model profit sharing ini. Dengan setidaknya ada tiga model kerjasama ini, televisi dan PH bisa memilih program mana yang cocok dilakukan kerjama dengan model blocking time, jual putus, atau profit sharing. Intinya bagaimana agar kerjasama itu akan menguntungkan kedua belah pihak.
Menjual Ide
Ini juga seringkali menjadi pertanyaan sebagian orang yang ingin kerjasama namun belum tahu bagaimana mekanisme suatu program bisa ditayangkan di televisi. “Saya ada ide keren dalam program televisi. Bagaimana saya menjual ide itu? Siapa ya yang harus saya temui?” Begitulah per orangan yang ingin ide atau gagasannya bisa tayang di televisi. Jika di luar sana ada creative house yang tidak sekadar ide acara televisinya yang bisa dibeli, nampaknya ini masih ada keulitan di Indonesia. Perorangan agak sulit untuk bisa bekerjasama dengan televisi. Yang paling memungkinkan ialah melalui production house atau agency. Masih jarang televisi yang menggunakan jasa freelancer creative karena di televisi sendiri untuk urusan kreatif bahkan ada departemennya sendiri. Proposal acara baiknya dibuat sedetail mungkin namun tidak bertele-tele. Untuk keperluan presentasi buatlah materi presentasi semenarik mungkin, dengan menambahkan unsur multimedia akan lebih bagus lagi. Orang programing bisa jadi tak banyak waktu untuk mendengarkan presentasi yang rumit. Karenanya dengan presentasi visual akan lebih meyakinkan. Dari awal mesti dibuat jelas: seperti apa format acaranya, apa genrenya, segment penontonnya siapa, bagaimana konten setiap epiodenya. Jangan pernah mengklaim kalau acara itu original, sebab kini sudah begitu banyak format acara televisi di dunia. Jadi tentu saja harus berhati-hati dalam hal ini, jangan sampai kita dituduh menjiplak suatu acara tertentu. Untuk lebih meyakinkan lagi, baiknya dibuatkan dummy atau pilot project. Memang memerlukan biaya yang bisa jadi tidak sedikit, namun dengan dummy sudah akan terlihat apakah acara yang dipresentasikan itu menarik atau tidak