Feature dan Dokumenter
Feature adalah tulisan hasil reportase (peliputan) mengenai suatu objek atau peristiwa yang bersifat memberikan informasi, mendidik, menghibur, meyakinkan, serta menggugah simpati atau empati pembaca. (LeSPI, 1999-2000). Penulisan ini tidak terikat oleh 5W + 1H dan tidak terikat waktu, jadinya lebih awet.
Menjadi seorang penulis feature harus memiliki ketajaman dalam memandang dan menghayati suatu peristiwa. Serta mampu menonjolkan suatu hal yang meski umum namun belum terungkap seutuhnya yaitu sisi humanisme.
Penulisan feature itu lebih santai dan fleksibel. Selain itu, feature lebih bersifat subyektif (tersirat opini atau sudut pandang penulis) sehingga opini itu tersamar dalam pelukisan suasana, penggunaan contoh-contoh, serta penyertaan nara sumber pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan kredibilitasnya.
Sebuah feature hendaknya ditulis dengan gaya bertutur, deskriptif, sedemikian rupa sehingga susunan kata dan kalimatnya mampu menggambarkan atau melukiskan suatu profil atau peristiwa tertentu. Oleh karena itu, feature sesungguhnya sebuah “cerita”, tapi bukan cerita mengenai fiksi melainkan mengenai fakta. A feature is a story about facts, not about fiction (feature ialah cerita tentang fakta, bukan tentang fiksi). Sedangkan karya tulis tentang fiksi disebut novel, cerita pendek.
Jadi, feature adalah jenis berita yang sifatnya ringan dan menghibur. Ia menjadi bagian dari pemenuhan fungsi menghibur (entertainment) sebuah surat kabar.
Ada berapa jenis feature-kah yang selama ini dikenal dalam dunia jurnalistik?
Menurut Wolseley dan Campbell terdapat enam jenis feature:
1. Feature minat insani (human interest feature)
2. Feature sejarah (hystorical feature)
3. Feature biografi (biografical feature)
4. Feature perjalanan (travelogue feature)
5. Feature yang mengajarkan keahlian (how-to-do feature)
6. Feature ilmiah (scientific feature)
Berikut ini penjelasan singkat mengenai beberapa jenis feature.
Feature human interest (human interest feature)
ialah feature yang langsung menyentuh keharuan, kegembiraan, kejengkelan atau kebencian, simpati, dan sebagainya. Misalnya, cerita tentang penjaga mayat di rumah sakit, kehidupan seorang petugas kebersihan di jalanan, liku-liku kehidupan seorang guru di daerah terpencil, suka-duka menjadi dai di wilayah pedalaman, atau kisah seorang penjahat yang dapat menimbulkan kejengkelan.
Feature sidebar
ialah feature yang memberitakan bagian-bagian lain dari sebuah peristiwa besar yang di dalamnya mengandung unsur human interest. Seperti, nasib para pengungsi yang kehilangan rumah ketika banjir bandang menimpa mereka.
Feature biografi (biografical feature).
Misalnya, riwayat hidup seorang tokoh yang meninggal, tentang seorang yang berprestasi, atau seseorang yang memiliki keunikan sehingga bernilai berita tinggi. Itu sebabnya, kamu bisa menuliskan tentang profil para pemimpin Islam di masa lalu, misalnya. Atau kamu juga bisa cerita tentang kisahnya al-Khawarizmi, ilmuwan muslim yang menemukan angka nol. Misalnya riwayat hidup seorang tokoh yang meninggal, tentang seorang yang berprestasi atau seorang yang memiliki keunikan sehingga bernilai berita tinggi (Contoh tayangannya : Program Silet, dll).
Feature profil (profile features)
menceritakan tentang sisi hidup publik figur, organisasi, dan komunitas masyarakat, misalnya berita tentang proses hidup seorang pengusaha sukses yang berawal dari gelandangan, cerita sukses sebuah LSM dalam membangun masyarakat pedalaman, atau cerita ngiris komunitas masyarakat tertentu. Profile feature tidak hanya cerita sukses saja, tetapi juga cerita kegagalan seseorang. Tujuannya agar pembaca dapat bercermin lewat kehidupan orang lain.
Feature perjalanan (travelogue feature).
Misalnya menceritakan pengalaman berkesan dari sebuah perjalanan. Misalnya kunjungan ke tempat bersejarah di dalam ataupun di luar negeri, atau ke tempat yang jarang dikunjungi orang. Atau kunjungan ke tempat bersejarah di dalam ataupun di luar negri, atau ke tempat yang jarang dikunjungi orang. Dalam feature jenis ini, biasanya unsur subjektifitas menonjol, karena biasanya penulisannya yang terlibat langsung dalam peristiwa/perjalanan itu mempergunakan “Aku”, “Saya”, atau “Kami” (sudut pandang ‘Point Of View’ orang pertama) (Contoh tayangannya : Program Menantang batas, Koper & Ransel, dll).Dalam feature jenis ini, biasanya unsur subjektivitas menonjol, karena biasanya penulisnya yang terlibat langsung dalam peristiwa/perjalanan itu mempergunakan “aku”, “saya”, atau “kami” (sudut pandang-point of view-orang pertama). Ambil contoh tentang perjalanan menunaikan ibadah haji. Perjalanan ke tanah suci itu bisa kamu tuangkan dalam sebuah tulisan bergaya feature yang menarik. Itu sebabnya, disarankan untuk membawa buku catatan kecil untuk menuliskan semua peristiwa yang dialami sebagai bahan penulisan.
Feature “dibalik layar” (explanatory features)
menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi dibalik suatu peristiwa. Misalnya, cerita/berita tentang fakta-fakta yang menyebabkan buruh mogok kerja.
Feature sejarah (hystorical feature)
yaitu feature tentang peristiwa masa lalu, namun masih menarik diberitakan masa kini, seperti berita tentang peran Soeharto pada penumpasan PKI yang sering diberitakan media massa menjelang beliau wafat. Tulisan tentang peristiwa masa lalu, misalnya peristiwa proklamasi kemerdekaan, atau peristiwa keagamaan, dengan memunculkan “tafsir baru” sehingga tetap terasa aktual untuk masa kini. (Contoh tayangannya : Program Silet, Program Khusus, dll).Misalnya juga peristiwa Keruntuhan Khilafah Islamiyah, sejarah tentang Istana al-Hamra dan benteng Granada. ‘Melongok’ kejayaan Islam di masa lalu. Sejarah tentang kekejaman tentara Salib saat membantai kaum muslimin, sejarah pertama kali Islam masuk ke Indonesia dan sebagainya. Banyak kok sejarah yang bisa kita tulis dengan jenis feature ini.
Feature musiman (seasonal features)
bercerita tentang peristiwa unik dan menarik yang terjadi secara rutin, baik setiap tahun, setiap momen, atau setiap musim. Misalnya, cerita riuh-gembira orang-orang kampung ketika lebaran (hari raya Idul fitri) tiba, dsb.
Feature tren (trend features)
ialah feature yang menceritakan tentang gaya hidup komunitas tertentu atau masyarakat pada umumnya dalam jangka waktu tertentu. Misalnya gaya hidup remaja desa ketika HP masuk ke kampung-kampung.
Feature petunjuk praktis (tips)
disebut juga how-to-do feature, ialah feature yang menjelaskan tentang bagaimana suatu perbuatan atau aktifitas dilakukan. Yaitu mengajar keahlian, how to do it. Misalnya tentang memasak, merangkai bunga, membangun rumah, dan sebagainya (contoh tayangan : Program Sisi Lain, Good Morning, dll). Atau tentang bagaimana caranya merawat mobil agar irit bensing, memasak, merangkai bunga, membangun rumah, seni mendidik anak, panduan memilih perguruan tinggi, cara mengendarai bajaj, teknik beternak bebek, seni melobi calon mertua (he..he..he..) dan sebagainya.
Feature ilmiah (scientific feature)
ialah feature mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai oleh kedalaman pembahasan dan objektivitas pandangan yang dikemukakan, menggunakan data dan informasi yang memadai. Feature ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dimuat di majalah teknik, komputer, pertanian, kesehatan, kedokteran, dll. Bahkan surat kabar pun sekarang memberi rubrik Science Feature.
terus gimana sih cara nulis feature yang baik? nah, ini dia penjelasannya.
Sebetulnya hampir sama dengan teknik menulis artikel lainnya, hanya saja dalam menulis feature kita dituntut untuk lebih ‘menyentuh’ dan memberikan nuansa lain dari sekadar sebuah berita. Itu sebabnya, feature bisa berfungsi sebagai penjelasan atau tambahan untuk berita yang sudah disiarkan sebelumnya, memberi latar belakang suatu peristiwa, menyentuh perasaan dan mengharukan, menghidangkan informasi dengan menghibur, juga bisa mengungkap sesuatu yang belum tersiar sebagai berita.
Yang perlu mendapat perhatian dalam penulisan feature ini, adalah lead yang menarik. Nah, lead dalam feature inilah yang sepertinya penting, meski bukan pokok memang. Bahkan jangan lupa, selain lead, kita juga harus membuat tubuh dan endingnya dari tulisan tersebut. Sangat boleh jadi ‘ending’ sebuah feature sama pentingnya dengan lead. Jadi rasa-rasanya harus bisa menarik dan menggoda pembaca. Misalnya memberikan kesimpulan atau mungkin ada ‘celetukan’ atau sindiran yang menggoda pembaca. Di sinilah editor biasanya paling pusing untuk memotong tulisan jenis feature, nggak gampang lho. Sama sulitnya dengan ‘mengobrak-abrik’ naskah cerpen. Kenapa? Karena semua bagian dalam feature itu penting. Itu saja.
Nah, harus diakui bahwa yang terpenting dalam pembuatan tulisan berjenis feature ini adalah lead. Kekuatannya ada di sana. Lead ibarat pembuka jalan. Jadi upayakan benar-benar menarik dan mengundang rasa penasaran pembaca untuk terus membaca. Sebab, gagal dalam menuliskan lead pembaca bisa ogah meneruskan membaca. Gagal berarti kehilangan daya pikat. Itu sebabnya, penulis feature harus pintar betul menggunakan kalimatnya. Bahasa rapi, terjaga, bagus dan kelihaian dalam cara memancing itu haruslah jitu. Memang sih, tak ada teori yang baku tentang menulis lead sebuah feature
Dokumenter Televisi, Bukan Sekadar Dokumentasi
Dokumenter Part9

Repotnya jadi Produser Dokumenter
Oleh Supriyadi
The two most important roles of a documentary producer are to create a safe working environment for the cast and crew and to hire the best people to execute the director’s vision. A documentary producer must be a master of negotiation and people management. (Mechelle Pellebon)
Ada banyak profesi dalam film maupun acara televisi yang berkaitan dengan produser, yakni executive producer,ass.producer, line producer, news producer,sport producer, documentary producer, promo producer, co-producer, dan masih banyak lagi. Secara umum produser mempunyai tanggung jawab dalam sebuah produksi film atau televisi dari mulai pra produksi, produksi, hingga paska produksi. Walaupun secara umum memiliki tanggung jawab yang sama, namun jika dilihat dari hasil karya atau jenis produksi yang dihasilkan, masing-masing produser memiliki kekhasan sendiri,hal ini dikarenakan adanya perbedaan “cara menangani” acara-acara yang spesifik tadi. Dan kali ini kita akan membahas tentang bagaimana produser dokumenter bekerja.
Menentukan Kru
Tentang bagaimana menentukan kru, sudah kita bahas pada artikel sebelumnya, di sana saya tidak hanya membicarakan bagaimana menentukan atau memilih kru, tapi bagaimana membangun tim atau kru yang baru. Di sini saya jelaskan kembali, bahwa salah satu tugas produser adalah memilih kru untuk sebuah produksi dokumenter. Tidak semua cameraman terbiasa dengan pembuatan dokumenter, apalagi misalnya cameraman studio. Cameraman dokumenter harus jeli melihat situasi dan kondisi yang bisa terjadi kapan saja di lapangan. Yang paling memungkinkan dari cameraman lain adalah cameraman berita. Jadi, sebagai produser dokumenter harus dengan cermat ketika memilih kru yang akan diajak kerjasama. Juga ketika memilih siapa yang akan menjadi sutradara dokumenter tersebut, beberapa produser lebih nyaman bekerjasama dengan sutradara “langganannya”. Maka tidak mengherankan kalau “sutradara yang itu” selalu dengan “produser yang itu” juga. Ini sebenarnya tidak hanya terjadi dalam proyek dokumenter, di feature film pun sebetulnya demikian juga. Alasannya hamper sama, sudah ketemu chemistrynya.
Pendanaan Dokumenter
Produser dokumenter harus mampu untuk presentasi pada client atau investor, jika film dokumenter itu orderan atau pesanan dari investor bahkan produser harus terlibat pada banyak tahapan tender/bidding. Jadi, produser dokumenter memang harus jago ngomong, harus bisa memaparkan gagasan serta konsep dokumenter yang akan dibuatnya. Tema bukan segala-galanya dalam film dokumenter, bahkan tidak sedikit tema sudah ditentukan oleh si penyandang dana, yang paling penting adalah bagaimana agar tema tersebut bisa dipaparkan dalam sebuah gagasan sehingga film dokumenter nantinya bisa menjadi karya yang baik, karya dengan story telling yang baik. Ketika mengikuti beberapa kali tender project dokumenter, terkadang saya suka senyum sendiri melihat berbagai gaya produser dalam presentasi, terutama ketika melihat produser yang belum terbiasa presentasi di hadapan klien bule.
Membuat budget untuk pembuatan karya dokumenter haruslah cermat, produser harus bisa mengestimasi budget riset hingga paska produksi sedetail mungkin. Demikian juga ketika client/donor sudah mematok anggaran pembuatan dokumenter, produser tidak boleh akal-akalan mensiasati budget dengan asal tebak. Jangan pernah menganggap donor tidak paham dengan budgeting produksi dokumenter.
Produser dan Penulis Naskah
Di beberapa produksi dokumenter, tidak sedikit profesi penulis naskah dokumenter dihandle oleh produser sendiri. Dokumentator Michael Moore misalnya, dalam karya dokumenternya, selain sebagai produser dia sendiri yang menangani penulisan naskahnya, Roger and Me, dan Sicko, juga dokumentator Morgan Spurlock dengan karya terkenalnya Super Size Me. Inilah salah satu hal yang unik dalam pembuatan dokumenter, satu orang bisa merangkap untuk dua bahkan sampai tiga jabatan. Produser juga, sutradara juga, penulis naskah juga. Ini tidak hanya terjadi di luar sana, di Indonesia juga demikian. Beberapa film dokumenter disutradarai dan ditulis oleh orang yang sama, seperti dokumentator mas Tonny Trimarsanto sama mas Wiranegara misalnya. Kenapa jabatan bisa rangkap begitu? apalagi kalau bukan masalah budget dan masalah efesiensi.
Di Lapangan
Benar bahwa di lokasi shooting, apa saja bisa terjadi. Yang paling penting adalah bagaimana agar produser setiap saat bisa mengantisipasi segala kondisi, sampai kondisi ekstrim sekalipun. Apa yang harus dilakukan oleh produser? Ya persiapan yang matang, persiapan dilakukan jauh sebelum pergi ke lapangan. Hasil riset di lapangan sebelumnya baiknya dievaluasi dulu, dibuat check list segala kebutuhan yang diperlukan. Pakailah orang lokal sebagai mitra kerja produser, tidak hanya sebagai porter tapi kru lokal bisa diajak kerjasma sebagai mediator produser dan juga sutradara dengan lingkungan dimana dokumenter itu dibuat. Selalu berkomunikasi dengan sutradara, jangan sampai ada mis antara produser dengan sutradara. Diskusi baiknya dilakukan, pada saat sebelum shooting dan pada saat setelah shooting, untuk evaluasi.
Saat Paska Produksi
Ketika shooting selesai bukan berarti pekerjaan selesai,jadi produser memang repot. Proses selanjutnya sudah menanti yakni paska produksi. Produser biasanya sudah memilih editor ketika shooting belum dimulai. Ribuan shot yang tercerai berai harus diurai menjadi satu kesatuan cerita oleh editor atau penyunting gambar. Sebelum melakukan penyuntingan gambar, editor akan memaparkan konsep editing pada produser dan sutradara. Kalau sutradara mempunyai treatment atau shooting script sebagai panduan di lapangan, maka editor harus memiliki post-script sebagai panduannya, editor membuat paper edit yang dijabarkan pada sutradara dan produser. Produser dokumenter selalu memantau pekerjaan editor, memantau di sini bukan berarti intervensi, karena editor sudah tau apa yang akan dan harus dikerjakan. Produser memberikan target kapan rough cut harus selesai, dan ini tentu saja didiskusikan dan disepakati bersama dengan editor sebelumnya. Dalam presentasi pada klien, produser bisa melibatkan editor untuk mendengarkan masukan dari klien. Pada kenyataanya tidak jarang pula editor memberikan masukan pada produser dan sutradara.
Produser dokumenter memiliki tanggung jawab atas sukses tidaknya sebuah produksi dokumenter, kegagalan karya film dokumenter berarti kegagalan seorang produser dokumenter. Tulisan ini saya dedikasikan buat Niken yang sedang membuat karya dokumenter.….
Dokumenter Part8

Editing Dokumenter
Oleh Supriyadi
Ketika proses shooting selesai, maka tahap selanjutnya yakni editing sebagai bagian dari proses paska produksi, merupakan tahapan yang sangat menarik dalam pembuatan dokumenter. Kolaborasi atau kerjasama antar sutradara dengan editor sudah dimulai. Seperti halnya dalam editing feature film, editing dokumenter melalui berbagai tahapan. Dan saat ini saya akan mencoba sharing tentang apa dan bagaimana tahapan editing dokumenter.
Preview Hasil Shooting
Ratusan atau bisa jadi ribuan shot yang sudah dihasilkan oleh sutradara dan cameraman, namun shot-shot tersebut tidak akan memiliki makna apa-apa ketika belum disusun oleh editor menjadi satu kesatuan cerita. Karena itu peran seorang editor sangatlah penting. Sebelum melakukan penyuntingan gambar, preview hasil shooting. Semua materi shot harus dilihat oleh editor. Dan kalau memungkinkan ada baiknya pada proses melihat hasil shooting ini, sutrdara menemani editor. Dengan demikian sutradara bisa berdiskusi dengan editor mengenai shot-shot yang sudah dihasilkannya itu.
Logging
Terkadang buat sebagian editor ini merupakan proses yang membosankan. Logging secara sederhana berarti pencatatan time code seluruh shot hasil shooting. Time code merupakan kode waktu yang terdapat pada materi shot. Pencatatan time code awal serta akhir shot. Jadi logging merupakan manajemen file, yang berfungsi untuk memudahkan ketika melakukan penyuntingan gambar nantinya. Catatan logging tersebut dibuat ke dalam logging list atau logging sheet. Logging sheet merupakan panduan untuk capture atau pemindahan materi tape ke dalam komputer editing.
Paper Edit
Ada dua naskah dalam dokumenter, yang pertama adalah pre-shot script yakni script yang dibuat oleh penulis naskah sebagai panduan dokumentator di lapangan. Dan yang ke dua, dinamakan pro-shot script, yakni naskah yang dibuat setelah shooting selesai. Pro-shot script dinamakan juga paper edit. Kenapa paper edit ini diperlukan oleh editor dokumenter? Ini salah satu yang membedakan antara feature film dengan dokumenter. Ketika editor merasa bahwa pekerjaan editing dokumenter terasa berat, maka transcript wawancara dituangkan ke dalam paper edit. Makanya tidak heran, akan ditemukan banyak kertas coretan di meja editing dokumenter. Kertas ini sangat membantu editor untuk membuat struktur cerita yang akan direkontruksi. Tidak ada aturan baku dalam format paper edit, yang paling penting.
Editing Assembly
Tahap ini merupakan tahapan setelah logging dan capturing. Editing Assembly dilakukan untuk melihat gambaran secara umum dokumenter tersebut. Untuk dokumenter berdurasi satu jam, biasanya assembly edit sekitar 140 menit, atau empat puluh persen lebih banyak. Ini bukan rumusan umum, tapi menurut pengalaman pribadi serta sharing dengan editor dokumenter lainnya estimasi durasi di atas umum dilakukan. Dalam editing assembly, belum ada musik serta voice over serta efek. Yang jelas, dalam assembly edit sudah terlihat cerita di dalamnya. Pada hasil assembly edit memang belum bisa untuk presentasi, tapi sutrdara sudah bisa melihat gambaran umumnya. Editor sudah bisa membayangkan tema apa yang bisa dibuang atau tidak terpakai,
Rough Cut
Namanya simpel, rough cut alias motong kasar tapi ini merupakan tahapan sebenarnya dalam editing. Editor sudah membuat kontruksi cerita sesuai dengan post-script yang sudah dibuat sebelumnya. Penambahan draft narasi atau voice over (kalau pendekatannya essay) sudah bisa dilakukan. Durasi hasil editing rough cut biasanya tidak lebih dari sepuluh persen dari durasi film dokumenter yang sudah jadi nantinya. Hasil rough cut sudah bisa dipresentasikan pada klien atau investor. Untuk menjajaki apakah film dokumenter tersebut sudah bagus secara editingnya, ada baiknya film tersebut dipertontonkan pada penonton awam, atau bisa saja minta komentar dari kawan anda.
Fine Cut
Ini merupakan proses editing akhir sebelum film dokumenter tersebut benar-benar akan direlease. Pada tahapan ini editor sudah membuat struktur final dengan durasi hampir persis pada durasi sebenarnya, menambahkan musik ilustrasi, serta efek. Pada tahap ini, hasil editing fine cut sudah bisa dipresentasikan kembali. Untuk beberapa dokumenter terkadang harus mempresentasikan di hadapan advisor. Ini biasanya menyangkut konten atau isi, misalnya seperti dokumenter intruksional.
Penjelasan tahapan editing dokumenter di atas mungkin masih terlalu simpel, kalau ada waktu senggang nanti saya akan edit serta tambahkan lagi. Jadi…tulisan ini masih bersambung….
Dokumenter Part7

Narasumber dalam Dokumenter
Oleh Supriyadi
Narasumber dalam dokumenter adalah hal yang sangat penting, narasumber sebagai subyek bukan sebagai obyek. Itulah uniknya dokumenter, memperlakukan manusia sebagai subyek. Narasumber memiliki karakter yang berbeda, artinya lebih baik menggunakan pendekatan subyektif ketimbang generalisasi. Ribet? Gak ah. Mari kita diskusikan……
Mengenali Narasumber
Tak kenal maka tak sayang, sebuah adagium klasik sederhana tapi masih relevan sampai saat ini. Narasumber dalam dokumenter adalah hal terpenting setelah ide/gagasan serta bagaimana story telling sang dokumentator. Banyak cara bagaimana menginisiasi calon narasumber kita, dan riset merupakan langkah awal. Kenali calon narasumber dengan berbagai referensi. Jika narasumber merupakan orang terkenal pasti tidak aka nada kesulitan untuk bahan referensi, tapi bagaimana kalau narasumber kita adalah orang biasa-biasa saja?
Prepare Interview vs Casual Interview
Wawancara yang baik seharusnya dilakukan persiapan yang matang, di antaranya dengan menginisiasi calon narasumber kita. Dan yang paling penting lagi adalah goal apa yang ingin dicapai oleh dokumentator atas narasumber tersebut. Ketika goalnya sudah jelas, maka buatlah list pertanyaan, buatlah pertanyaan yang mudah di urutan pertama. Hal ini dilakukan agar narasumber “tidak kaget”, dan dengan demikian dokumentator bisa menginisiasi narasumber ketika di lapangan. Bebrapa praktisi menyarankan untuk membuat semacam pre arrange question, yakni pertanyaan pembuka yang bisa jadi nantinya tidak dipakai ketika proses editing berjalan.
Berbeda dengan tehnik prepare interview, tehnik lainnya yakni casual interview memiliki pendekatan agak sedikit berbeda. Ketika narsumber ditemui secara on the spot alias langsung di lapangan, maka dokumentator harus memiliki kejelian. Pada waktu pembuatan dokumenter bulan lalu di Aceh, penulis beberapa kali menemui narasumber on the spot. Aceh sebelum paska tsunami dan perjanjian damai Henlinski memang sudah berbeda, namun bukan berarti trauma pada masa Gerakan Aceh Merdeka/GAM serta pemberlakuan Daerah Operasi Militer/DOM sirna begitu saja, traumatik itu masih ada. Ini tentu menyulitkan saya dan tim ketika mewawancarai narasumber, apalagi yang ditanyakan seputar politik. Tanpa kehadiran kamera masih banyak informasi yang bisa penulis eksplorasi, tapi ketika kamera dihadapkan pada mereka, freezeee….. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh penulis dan tim? Pendekatan personal. Teori-teori dalam buku jurnalistik investigasi yang sangat Amerika itu tidak berlaku, ini Aceh kawan! Banyak kejadian unik di lapangan, jangankan rakyat biasa, untuk mewancarai mahasiswa yang notabene sangat kritis saja diperlukan pendekatan khusus.
Don’t stretch to the point, ini salah satu kuncinya. Saya ngobrol dengan mereka dari hal-hal yang ringan sampai pada hal yang menarik buat mereka. Dan mereka itu saya jadikan kita, berarti kami dan mereka. Setelah semuanya sudah terasa nyaman barulah kamera saya on kan,bla…bla…bla….ngalor-ngidul sudah menghabiskan hampir setengah kaset,narasumber bercerita panjang lebar tentang hal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan materi dokumenter, barulah pada poin yang ingin digali oleh penulis.
Gotcha! Penulis dapat semua informasi yang diperlukan. Juga demikian, ketika penulis berhasil ngobrol dengan seorang petani di salah satu daerah di Aceh Besar. Bicara tentang bagaimana dia bertani, darimana benih dia dapat, hingga pada poin utama bagaimana keadaan eks kombatan GAM saat ini dan bagaimana politik mutakhir di Aceh saat ini.
Dalam teori memang banyak dibahas bagaimana menggali narasumber agar bisa menyampaikan informasi selengkap mungkin, tapi tidak dibicarakan bagaimana membuat narasumber nyaman. Nyaman dalam arti personal, dan ini bukan generik. Secara umum ada dua kriteria interview yang baik: yakni riset yang baik serta kemampuan mendengarkan yang baik. Butuh kesabaran yang ekstra ketika kita menjadi pendengar, dengan demikian kita akan peka terhadap apa yang disampaikan oleh narasumber. Tidak sedikit informasi baru akan kita gali ketika kita mendapat tuturan sang narasumber, pertanyaan ke dua, ke tiga, atau bahkan ke empat atas jawaban pertama tadi. Secara psikologis jelas bahwa lawn bicara kita akan merasa nyaman, merasa punya teman, ketika mereka kita dengarkan dengan baik.
Bersambung……
Dokumenter Part6

Prepare Shooting Dokumenter
Oleh Supriyadi
“A documentary you can’t miss.More, a touching portrait of the building of a country.”
Benoîte Labrosse – Alternatives
Ketika shooting script sudah selesai dibuat, berarti pelaksanaan shooting sudah bisa dilakukan. Shooting script merupakan panduan dokumentator di lapangan, shooting script ibarat sebuah peta yang akan menghantarkan anda agar “tidak tersesat di jalan”. Tapi peta tetaplah peta, di lapangan segala sesuatu bisa saja terjadi. Lalu hal apa saja yang perlu dipersiapkan ?
Peralatan Shooting
Seperti halnya tentara yang akan bertempur di medan perang, persenjataan yang lengkap beserta amunisi serta strategi yang matang sudah harus dipersiapkan. Pun demikian ketika kita akan berangkat menuju lokasi shooting. Yakinkan bahwa semua peralatan shooting tidak ada yang ketinggalan. Buatlah daftar peralatan yang harus dibawa. Kamera sebagai bagian vital peralatan shooting sebaiknya dicek terlebih dahulu. Jika anda harus menyewanya, jangan terlalu percaya pada penyewa kalau peralatan dalam kondisi baik jika anda belum mengeceknya. Lakukan perekaman untuk mengetes apakah hasil rekaman itu baik atau tidak. Battere, hingga saat ini belum ada kamera video yang bisa dioperasikan tanpa ada arus listrik baik AC maupun DC. Bawalah paling tidak dua battere untuk keperluan shooting, beberapa battere memiliki indikator berapa lama bisa digunakan, tapi kalau tidak ada kondisi battere bisa dicek di display kamera. Dengan demikian anda bisa memprediksi kebutuhan battere di lapangan nantinya. Saran saya, bawa juga charger battere karena swaktu-waktu anda bisa mengisi battere yang sudah kosong. Tripod,penyangga kamera agar gambar yang dihasilkan lebih steady, tidak goyang. Pastikan semua panel yang ada di tripod bisa berfungsi dengan benar, misalnya apakah paning head tidak bermasalah? kalau konsep pembuatan dokumenter anda dengan gaya handheld berarti anda tidak mebutuhkan tripod atau penyangga kamera ini. Audio Set, seperangkat alat perekaman suara terdiri atas microphone, transmitter serta receivernya (kalau menggunakan tipe wireless) juga harus dicek. Begitu juga kalau menggunakan kabel mic. Reflektor, ada banyak jenis reflektor tapi tidak mungkin anda bawa semua jenis reflektor ke lapangan bukan? kalau saya sendiri lebih suka yang simple, yang bisa dilipat dan berwarna silver/perak. Ini sepertinya jadi favorit para dokumentator lain juga. Reflektor warna perak ini bisa memantulkan cahaya dengan baik. Kalau yang mau lengkap coba gunakan yang 5 in one, seperti namanya ini reflector satu set ada 5 jenis dalam satu paket(white difusser, soft,black,silver, dan gold). Tape/Cassette, kalau di senjata perang ini tape atau kaset itu ibarat peluru atau amunisi. Kalau untuk bikin feature film kebutuhan kaset bisa diprediksi dengan mudah, lain halnya untuk dokumenter jangan pelit untuk membawa kaset lebih. Beberapa kamera tidak menggunakan kaset alias tapeless,nah kalau seperti ini berarti anda harus mempersiapkan hardisk cadangan untuk media penyimpanannya.
Logistik
Jangan pernah menyepelekan logistik! hehehe…pake tanda seru biar keliatan serius. Tapi beneran lho kalo logistik itu penting banget. Tidak semua makanan gampang didapat di daerah, kalaupun ada apakah makan tersebut cocok untuk kru? Nah,kalau begitu bebarti sebelum berangkat shooting baiknya kita mempersiapkan makanan juga. Produser atau manajer produksi sudah harus memastikan berapa bujet yang dibutuhkan di lapangan, baik bujet keseluruhan maupun bujet setiap harinya. Ada kalanya harus membawa uang cash yang banyak, kenapa? karena di hutan tidak ada ATM, paling gak di empat hutan yang pernah saya datangi tidak pernah menemukan mesin ini. Hemm..bercanda lagi, tapi bener bahwa kita harus membawa cukup uang. Riyyani Djangkaru, mantan pembawa acara dokumenter televisi “Jejak Petualang” di Trans 7 cerita ke saya, suatu saat dia dan kru menshoot babi dan ubi yang dijual di pasar. Dan…owww, sebelum di shoot mereka meminta bayaran. Gak nyangka kan kalau shooting ubi dan babi ada bayarannya? Ya, artinya memang harus menyediakan uang lebih alias kontijensi/contigency.
Kru Lokal
Sebelum pengambilan gambar alias shooting, kita pasti sudah sering ke lokasi shooting tersebut. Di Gothe Hauss, sekitar setahun yang lalu saya sempat menanyakan pada Dominic Morissete dokumentator asal Perancis, berapa lama dia riset ke lapangan waktu buat film “Afghan Chronicles”. Dia menjelaskan tidak kurang dari dua tahun dia bolak-balik ke Afghanistan. Dia juga memanfaatkan kru lokal sana untuk membantu pembuatan dokumenter tersebut. Waktu saya buat dokumenter “SMP Terbuka Pulau Tunda” saya juga dibantu oleh orang lokal sana. Kenapa kru lokal ini penting? karena yang paling tahu tentang semua kondisi ya pasti orang lokal sana. Kru yang dimaksud tidak hanya sebagai porter saja, tapi bisa juga kita jadikan sebagai pemandu kita. Dan bagusnya lagi, dengan melibatkan orang lokal akan memperkecil atau mengurangi segala kecurigaan masyarakat di sana.
Hemmm..cukupkah persiapan untuk shooting dokumenter dengan prepare seperti yang saya tuliskan di atas? sepertinya belum…maklum lah artikel ini saya tulis dalam sambil mengerjakan hal lain, lagi nulis naskah dokumenter, supervisi editing, meeting beberapa project kantor, bimbingan TA, sama facebook sialan yang suka mengganggu,…hehehe...Dokumenter Part5

Oleh Supriyadi
Tadi malam jam 1.40 seorang mahasiswa saya bertanya melalui chat facebook, kenapa tidak ada bahasan script writer dalam dokumenter. Maka 10 jam kemudian saya menulis artikel ini, masih dalam rangkaian serial artikel dokumenter. Untuk membuat naskah dokumenter, memiliki tahapan-tahapan yakni : penyusunan data/riset/observasi pada subyek, penulisan sinopsis, penulisan treatment, dan penulisan naskah itu sendiri. Penyusunan data bisa dilakukan dengan menghimpun data tulis (buku, majalah,jurnal,internet) ,foto-foto,dan footage audio video. Sinopsis merupakan ringkasan cerita, menjelaskan tentang tema serta subyek apa yang akan dalam sebuah dokumenter. Treatment meupakan pengembagan dari sinopsis, dengan membaca treatment saja kita bisa tau gagasan serta dengan cara apa dokumenter tersebut ingin dibuat. Bahasan tentang naskah dokumenter saya akan jelaskan detail di ujung alinea artikel ini.
Essay dan Narrative
Pendekatan dalam pembuatan dokumenter secara garis besar ada dua macam, yakni essay dan narrative. Lalu kenapa ada essay/esai dan narrative/naratif? Hal ini akan menyangkut pada masalah bagaimana dokumentator menyampaikan pesan. Dengan pendekatan esai dokumentator mempresentasikan realita menggunakan penutur narasi, penutur narasi ini disebut narator. Penjelasan mengenai suatu hal dijelaskan dengan naskah yang dibacakan secara voice over oleh narrator. Dalam dokumenter televisi terkadang dokumenter disajikan oleh presentator. Dalam “Jejak Petualang” Trans 7 acara dipandu oleh host, selain menjadi host ada kalanya juga sebagai narrator. Dokumenter televise “Potret” di SCTV tidak menggunakan host tapi menggunakan narrator untuk menyampaikan pesannya.
Nah, ini akan berbeda jika dokumentator menggunakan pendekatan naratif dalam pembuatan dokumenternya. Dengan naratif, tidak menggunakan narrator serta presentator, dalam pendekatan naratif memanfaatkan penuturan dari nara sumber yang ada pada dokumenter yang kita buat. Sumber yang dimaksud adalah subyek utama serta subyek pendukung lainnya. Dokumenter dengan gaya pendekatan naratif ini yang beberapa dokumentator kita menyebutnya sebagai dokumenter murni. Agak kurang tepat sebetulnya. Menurut Klaus Wildenhan, seorang dokumentator ternama asal Jerman bahwa yang dimaksud dengan “pure documentary” merupakan metode film maker yang merekam dengan sabar menunggu hingga ada ‘sesuatu’ yang terjadi pada subyek di depan kamera. Jadi dokumenter murni adalah metode atau cara, tidak ada urusan dengan pake narasi atau tanpa narasi. Dan entah kenapa dokumenter tanpa narasi ini yang biasanya memenang dalam festival.
Naskah atau Tanpa Naskah
Ada dua tingkat dalam penulisn naskah dokumenter, yakni pre-shot atau shooting script dan pro-shot script. Shooting scrip merupakan naskah panduan untuk dokumentator ketika akan melakukan pengambilan gambar. Sedangkan pro-shot script, naskah sebagai panduan editor ketika akan melakukan penyuntingan gambar, isitlah lain untuk pro-shot script adalah paper edit.
Menulis naskah untuk feature film/fiksi atau non fiksi akan berbeda dengan menulis untuk media cetak. Kenapa demikian? Film adalah karya visual, tulisan seorang penulis naskah film tidak dibaca dalam film tersebut, yang terlihat merupakan gambar dalam sebuah layar. Ini berarti, seorang penulis naskah harus bisa menulis secara visual. Film merupakan gambar bergerak, artinya penulis naskah harus mampu menterjemahkan visual ke dalam bentuk tulisan.
Dalam naskah dokumenter ada tiga elemen penting yakni : elemen visual, elemen audio, serta elemen story/cerita. Naskah dokumenter tidak hanya merupakan kumpulan kata atau kalimat saja, akan tetapi merupakan kompilasi konsep elemen-elemen telling story. Perpaduan elemen penting inilah yang akan menjadikan sebuah film dokuemnter yang baik. Jadi, ini agak mirip dengan film fiksi, yakni bagaimana film tersebut harus bisa mengemukakan gagasan, selain menceritakan fakta sebagai ciri khas dari dokumenter. Artinya dokumenter juga harus memiliki struktur. Struktur bisa dibuat secara kronologis, tematis, maupun dialektikal. Ending atau akhir film dokumenter bisa dibuat open end, yakni menggambarkan persoalan yang masih bisa dibuka, mempersilahkan penonton untuk “melanjutkan” realita yang ada di dokumenter tersebut. Dan bisa juga dibuat closed end, dokumentator memberikan penyelesaian pada filmnya.
Selain struktur yang jelas, penulis naskah dokumenter sudah harus memikirkan ploting. Plot yang terdiri atas archplot, miniplot, dan antiplot. Archplot ini biasanya penulis naskah menyebut dengan desain plot klasik. Cerita dengan desain archplot dibuat secara linear, secara urut dan biasanya dibuat closed end. Sedangkan miniplot merupakan bentuk minimalis dari arcplot. Yang paling ekstrim membuat ploting dengan antiplot, tidak linear seperti halnya archplot.
Hemmm….sepertinya tulisan ini tidak cukup menjelaskan secara detail seperti janji saya di atas ya. Kalau begitu tentang naskah dokumenter ini nanti saya lanjutkan.
Dokumenter Part4

Memilih Kru atau Membuat Kru?
Oleh Supriyadi
Dengan judul artikel di atas, penulis tidak bermaksud bermain-main dengan kata-kata, alih-alih menjadi pencerahan buat pembaca malah nanti jadi membingungkan. Anggap saja tulisan berseri tentang dokumenter ini menjadi pengantar untuk mahasiswa saya yang tidak sempat mengikuti perkuliahan “Dokumenter TV” di kelas. Tapi tetap saja kalau berdiskusi dan bahasan dengan studi kasus masih enak dengan cara tatap muka.
Kru adalah orang yang terlibat dalam proses sebuah produksi, ada yang hanya terlibat di pra produksi saja, di produksi saja, di paska produksi saja, ada di keduanya, ada juga yang terlibat di semua tahapan produksi. Secara detail sudah saya jelaskan di tulisan “Crew Film & Television”, namun secara spesifik tentang kru film dokumenter akan dijelaskan kembali di sini. Yuk kita mulai….yuksssssssss.
Kru Film Dokumenter
Film dokumenter tidak hanya semata merepresentasikan realitas, tetapi mengubah sesuatu. Paling tidak, dirinya sebagai filmmaker berubah setelah membuat sebuah film. Bagaimanapun filmmaker adalah bagian dari apa yang ia filmkan, demikian kata Nicholas Philibert seorang sutradara dokumenter asal Perancis. Maka gak heran kalau ada yang bilang, di film fiksi The Director is God sedangkan dalam dokumenter The God is director.
Secara khusus tidak ada perbedaan antara kru film dokumenter dengan kru film fiksi, yang membedakan jika dilihat dari jumlah kru saja. Pada kru film dokumenter biasanya memiliki jumlah kru yang sedikit. Kru film dokumenter terdiri atas sutradara, cameraman, gaffer, soundman, serta production manager.
- Sutradara, orang yang bertanggung jawab pada semua aspek produksi film, baik sinematik artistic maupun secara teknis.
- Cameraman atau sinematografer adalah orang yang melaksanakan aspek teknis dalam pengambilan gambar, dia juga membantu sutradara dalam memilih sudut, penyusunan dan rasa dari pencahayaan dan kamera.
- Gaffer, orang yang bertanggung jawab pada pencahayaan atau lighting. Pada beberapa produksi dokumenter, utamanya jika menggunakan video, tanggung jawab gaffer dirangkap oleh seorang cameraman karena hampir dipastikan seorang cameraman memahami aspek pencahayaan.
- Soundman, bertanggung jawab pada audio atau suara yang dihasilkan pada saat pengambilan gambar atau shooting.
- Production Manager, orang yang bertanggung jawab atas detail produksi dari awal hingga akhir produksi.
Memilih atau Membuat Kru?
Banyak yang menyarankan ketika kita akan membuat film dokumenter baiknya kita memilih kru yang kredibel. Kru yang tidak hanya berpengalaman dalam membuat film, bahkan lebih spesifik lagi kru yang berpengalaman dalam membuat film dokumenter. Weisssssss….tunggu dulu, itu untuk pembuatan dokumenter profesional. Kalau untuk yang baru pertama bikin dokumenter gimana? Solusi memilih sepertinya kurang tepat, gimana mau memilih kalau kita belum pernah bikin dokumenter sebelumnya. Yang tepat adalah membuat atau membangun/develop kru. Ini tidak berbicara tentang amatir atau profesional, toh apapun karya kita harus dibuat seprofesional mungkin. Membuat tim atau kru pasti tidak semudah memilih. Hal-hal di bawah mungkin jadi panduan anda ketika mau menentukan tim:
- Tim Riset, ini terdiri dari orang-orang yang senang dengan data-data, bisa mengolah data, senang melakukan observasi. Selain terdiri dari orang yang independen di luar kru produksi, baiknya bahkan seharusnya sutrdara terlibat di sini.
- Sutaradara, ini jabatan yang teramat penting. Ini bukan masalah keren-kerenan. Tentukan siapa yang paling kredibel menjadi sutradara. Sutradara adalah orang yang bertanggung jawab atas semua hasil karya baik secara artistik maupun teknik sinematik. Dia juga harus mampu menjadi leader untuk kru yang lainnya. Sutradara harus mampu mentransformasikan gagasannya, agar tujuan atau pesan yang ingin disampaikan bisa dipahami oleh penontonnya.
- Cameraman,soundman,gaffer: ketiga kru ini harus memiliki kemampuan tehnik di bidang masing-masing. Jadi ketika anda memutuskan untuk membangun tim baru, yakinkan bahwa kru yang dibuat ini memang memiliki kemampuan atau juga keinginan sesuai bidang-bidang ini.
Ketika kita membangun tim yang baru, bagaimana agar nantinya tim ini mampu bekerjasama dengan baik. Kelemahan tim yang baru dibuat biasanya ketika ada kesalahan cenderung saling menyalahkan satu sama lain, dan hal ini berbahaya. Peran produser, dalam dokumenter biasa dirangkap juga oleh sutradara, sangat dituntut agar semuanya bisa berjalan baik. Ini menyangkut manajemen sumber daya manusia/SDM, dan SDM ini pasti memiliki karakter yang berbeda-beda. Sutradara dan juga kru yang lain harus memahami karakter masing-masing.
Komitmen
Cuma satu kata, komitmen. Tapi ini sangat penting. Komitmen ada baiknya dibuat jauh sebelum produksi dimulai, bahkan sebelum tahap pre-production. Komitmen bisa dibuat bersama, pertama tentu saja komitmen pada job desc masing-masing, ke dua atas prakarsa bersama. Bersambung….
Dokumenter Part3

Dokumenter tanpa Riset!
Oleh Supriyadi
Ide dan gagasan sudah didapat, dan ide itu bisa diimplementasikan menjadi karya audio visual film dokumenter karena sudah memenuhi variable-variabel yang sudah kita (atau mungkin klien/investor) tentukan. Jadi apa langkah berikutnya? Riset! Sederhanya riset itu merupakan upaya pengumpulan dan pengolahan data. Semua data yang diperlukan untuk mendukung ide/gagasan awal tadi.
Riset, riset itu sebenarnya timeless, tidak ada batasan waktu, yang membatasi hanyalah deadline. Deadline yang sudah disepakati dalam time schedule yang sudah dibuat produser yang sebelumnya sudah diinformasikan pada klien atau investor. Beberapa dokumentaris bahkan menyebutkan bagus tidaknya film dokumenter dilihat dari seberapa lama riset itu dilakukan. Semua dokumentaris sepakat bahwa film dokumenter yang baik harus didukung oleh riset di lapangan yang baik dan mendalam. Di salah satu kesempatan diskusi, Garin Nugroho menjelaskan, “Film dokumenter itu tidak bisa dibuat tanpa riset dan data yang asal-asalan”. Sepertinya Garin sedang mengkritik utamanya pada para pembuat dokumenter pemula karena karya dokumenternya miskin data.
Metode Riset
Banyak sekali metode riset yang bisa membantu para pembuat dokumenter, yang paling umum dan banyak disarankan adalah metode riset observasi partisipasi. Dengan metode ini, periset terlibat langsung dengan subyek yang diriset. Dengan demikian periset akan mengenal secara jelas tentang segala hal yang ada di subyek. Harus diingat, ketika periset akan melakukan observasi, dia harus memiliki data-data awal terlebih dahulu, data itu bisa saja didapat dari berbagai literatur atau hasil penelitian sebelumnya, jika subyek pernah dilakukan penelitian. Dengan data awal, periset bisa membuat list pertanyaan yang akan bermanfaat untuk guiding pada observasi di lapangan. Yang dimaksud guiding di sini yakni sebuah panduan yang tidak kaku, karena sangat dimungkinkan periset bisa menambah beberapa pertanyaan untuk menggali informasi dari subyek. (Tentang tehnik wawancara akan dibahas pada seri berikutnya). Riset dalam documenter sebenarnya sedikit mirip dengan riset lainnya yakni, geografis, demografis, sosiografis, psikografis. Jadi, periset paling tidak harus memahami ke empat unsur ini. Ada buku tentang riset yang bagus banget karya Dr.John Smith, text book ini banyak dijadikan refrensi para dokuemntaris, sayangnya saya sendiri blom memiliki buku ini.
Siapakah yang akan menjadi periset?
Sutradara dokumenter akan sangat terbantu oleh hasil riset yang baik dengan data yang valid yang dibutuhkan dalam film dokumenter tersebut. Periset bisa terdiri dari beberapa orang yang tergabung dalam tim periset/researcher team. Di antara anggota tim, baiknya salah satu periset merupakan orang yang paling tau tentang daerah subyek riset yakni orang lokal itu sendiri. Misalnya ketika kita akan membuat film dokumenter tentang Papua ya bagusnya orang Papua sendiri, yang tau seluk beluk lokasi di sana. Bersambung…..
Dokumenter Part2

Seorang kawan mengeluh, tidak banyak orang menonton film dokumenter yang dia buat. Karya pertama dan mungkin akan menjadi karya yang terakhir, kini sang kawan menjadi pembuat film fiksi. Tak masalah, karena hidup memang pilihan. Kalau lebih nyaman menjadi sineas fiksi kenapa harus dipaksakan menjadi documentary maker?
Banyak yang bilang film dokumenter itu membosankan, benarkah demikian? Arrrggghhh….gak juga. Kalaupun ada dokumenter yang “membosankan” memang ada, tapi yang menarik jauh lebih banyak. Karena membosankan gaknya menurut saya tidak selalu dari film itu sendiri, bisa jadi kita sebagai penontonnya. Yang “dijual” dari dokumenter adalah ide, ya ide atau gagasan. Ide seperti apakah itu? Ya ide apa saja, yang menarik buat si pembuat dan penontonnya. Bagaimana ide dokumenter didapat? Ide bisa didapat dengan berbagai cara, dan ide bisa didapat dari mana saja. Ketika artikel ini sedang saya tulis, salah seorang mahasiswa saya telpon : Pak, untuk tugas dokumenter saya ada ide tentang bendera, bagus gak pak? Waduh, saya bingung untuk menjawabnya. Alih-alih saya bilang bagus atau gak, saya malah balik tanya, bendera apa? memang ada apa dengan bendera? jualan bendera? emang kita harus mengibarkan bendera?
Ide yang baik biasanya harus ada pesan yang disampaikan, mungkin basi ya dengernya. Masalahnya, bicara film dokumenter berarti berbicara tentang karya audio visual, berbicara audio visual berarti berbicara tentang media, tentang medium. Medium is message, demikian kata ahli komunikasi Marshall McLuhan. Berbicara tentang media berarti berbicara tentang pesan, bahkan seperti McLuhan tadi, media bisa menjadi pesan itu sendiri. Artinya, selain idea tau gagasan yang paling penting lagi adalah pesan apa yang mau disampaikan pada penonton. Hanya “sekedar” menyampaikan fakta-fakta saja, atau ada pesan sesuatu yang ingin disampaikan. Jadi, jauh sebelum dokumenter itu dibuat, sutradara harus memikirkan apa dan bagaimana pesan itu disampaikan. Yang artinya gaya, bentuk, serta struktur seperti apa yang akan dipakai nantinya ketika akan membuat dokumenter. Secara detail, hal akan dibahas pada serial tulisan ini selanjutnya. Saat ini kita fokuskan pada ide, pencarian ide, perumusan ide, dan bagaimana mengimplementasikan ide.
Think Small. Think Local.
Hemmm…tidak ada yang aneh dengan sub judul di atas. Kalau sebagian banyak orang menyarakan untuk berpikir seluas-luasnya tanpa batas, saya menyarankan anda untuk “berpikir” dari hal-hal kecil dulu. Kenapa demikian? Iya ini untuk memudahkan anda menemukan ide dalam film dokumenter. Hal kecil di sini maksudnya dari masalah-masalah yang ada di sekitar kita, lingkungan yang dekat dengan kita, lingkungan dimana kita tinggal. Masalah sosial tak akan ada habis-habisnya untuk dijadikan tema film dokumenter. Kepekaan kita waktu mengamati sesuatu, akan memudahkan kita untuk menemukan ide. Ide terkadang lahir dari ”lamunan”, tapi saya tidak menyarankan anda untuk berlama-lama melamun untuk mencari ide. Wawasan kita pada berbagai hal sangat membantu bagaimana ide itu bisa digali. Daya nalar dan sense kita bisa dilatih agar kepekaan kita mampu menghadirkan ide-ide yang bisa jadi sebetulnya ada di dekat kita, di depan mata kita, di lingkungan sekitar kita. Artinya, ide itu sebetulnya ada dimana-mana, tinggal bagaimana kita mampu untuk menangkapnya. Setelah ide didapat, langkah berikutnya adalah riset, observasi. Tentang riset akan di bahas pada seri berikutnya. Selamat mencari ide!
Dokumenter Part1

Buat Film Dokumenter itu Seru!
Oleh Supriyadi
A documentary is the sum of relationships during period of shared action and living, a composition made from the sparks generated during a meeting hearts and minds.
(Michael Rabiger, Directing Documentary hal 31)
Seperti halnya pembuatan film fiksi, pada pembuatan film dokumenter akan melewati tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh pembuatnya. Tahapan tersebut terdiri atas : pre production, production, post production. Dalam pre production pembuatan dokumenter termasuk di dalamnya, pemilihan subyek atau tema, melakukan riset, menentukan kru, memilih peralatan yang akan digunakan, menentukan metode yang akan dipakai, serta membuat skedul shooting. Dalam tahap production, ini gak kalah seru juga dalam tahap akhir alias pre-production. Tapi sebelum itu kita bahas semua, yuk kita telusuri sedikit asal muasal film dokumenter.
Sampai saat ini masih terjadi perdebatan tentang definisi film dokumenter, namun secara sederhana film dokumenter merupakan film yang menampilkan fakta yang ada dalam kehidupan atau film yang menampilkan tentang kenyataan. Dari definisi di atas, berarti semua film non fiksi merupakan dokumenter dong ya? Biarlah perdebatan menjadi perdebatan, seperti halnya perdebatan tentang “seberapa boleh” subyek dalam dokumenter disutradarai/diarahkan/didirect. Maka, buku Directing Documentary karya Michael Rabiger menjadi menarik perhatian saya, dan ini menjadi salah satu buku referensi tulisan ini. Di dalam beberapa literatur disebutkan bahwa istilah documentary atau documenter pertama digunakan oleh John Grierson. Saat itu Grierson dengan nama samaran The Moviegoer menulis resensi sebuah film, Moana karya documentary maker Robert Flaherty. Moana sendiri dibuat pada tahun 1926.
Tentang Ide
Membuat film documenter itu memang seru, yang paling mengesankan buat saya waktu buat film dokumenter pertama “SMP Terbuka Pulau Tunda”. Menggunakan kapal motor kecil saat itu ombak laut sedang tidak bersahabat, cameraman saya sempet muntah-muntah, perjalanan malam hari menuju salah satu gugusan Kepulauan Seribu memakan waktu lebih lama dari biasanya. Ide tentang pembuatan film ini berasal dari kawan saya yang sudah sering mondar-mandir ke Kepulauan Seribu. Seperti halnya film fiksi, ide dalam dokumenter bisa dari siapa saja. Yang paling penting adalah apakah ide itu cukup menarik untuk dijadikan sebuah film dokumenter? Menarik bagi anda belum tentu menarik bagi yang lain, begitu juga sebaliknya.
Persiapan
Hampir semua documentarian/documentary film maker atau dokumentaris (istilah om Gerson) sepakat bahwa riset merupakan hal yang teramat penting dalam sebuah dokumenter. Riset meruapakan bagian dari persiapan dalam pembuatan film documenter. Tentang persiapan yang perlu diperhatikan , Rabiger menyarankan : Define hypothetical approach to subject, List the action sequences, Check reality, Check written resources, Do the legwork, Develop trust, Develop a working hypothesis, Preinterview, Make final draft proposal revision, Write a treatment, Obtain permission, Secure crew, Make a shooting schedule, Make a budget, Plan shooting style, Do trial shooting. Bersambung……
Note : tulisan ini terdiri dari 10 seri, didedikasikan untuk para mahasiswa saya di AKOM Broadcast BSI, bagi yang lain yang ingin mengutip tulisan silahkan.
OUTLINE DESAIN PRODUKSI DOKUMENTER TV

Lembar Judul Karya
Lembar Persetujuan dan Pengesahan Dosen Pengajar
Lembar Konsultasi Bimbingan Karya Produksi
Kata Pengantar
Daftar Isi
A. Latar Belakang Program
Latar belakang program berisi tentang alasan memilih program tsb, dan alasan pemilihan
B. Tujuan dan Program
Berisi tentang tujuan pembuatan program yang dibagi atas tujuan untuk masyarakat, tujuan
C. Refrensi Pustaka dan Audio Visual
Buku dan program audiovisual apa saja yang menjadi literatur dalam pembuatan program
D. Deskripsi Program (Untuk Tugas Akhir Masuk Dalam Lembar Kerja Produser)
Kategori Program : ( Hiburan, Education, Informasi )
Media : ( Televisi dan Radio )
Format Program : ( Dokumenter, Berita, Drama Televisi, Talk Show, Game show, dll)
Judul Program : ( Jejak Sang Tomi)
Durasi Program : 24.menit ( 144 second )
Target Audience : - Umur : Anak ( 6 -12)
Remaja ( 13 – 17)
Dewasa ( 18 – 35 )
Orang tua ( 36 – keatas)
- Jenis Kelamin :
- Status Ekonomi Sosial : A ( Kelas Atas )
B ( Menengah keatas)
C ( Menengah kebawah)
D ( Kelas bawah)
( Maksimal pemilihan SES 2 tingkatan)
Karakteristik Produksi : Live, live record / Taping, Record ( Single Camera dan Multi Camera).
Jam tayang + Alasan : 10.00 – 10.30 WIB
Alasan : Pada jam – jam tersebut para ibu – ibu rumah tangga sedang berada dirumah.
Pengisi Acara ( Khusus untuk Non Drama)
E. Lembar Kerja Produksi Dokumenter
· Konsep Program
· Working Schedule
· Breakdown Budgeting
· Shooting Schedule
· Equipment List (Check List Harian)
· Surat izin riset dan liputan.
Lembar Kerja Sutradara
· Konsep Kerja Sutradara
· Konsep kerja Director
· Out Line Naskah
· Treatment
Lembar Kerja Penulis Naskah (Reporter)
· Konsep penulisan naskah
· Term Of Refrence (TOR)
· Transkip Wawancara
· Naskah VO
Lembar Kerja Penata Kamera
· Konsep kerja Kameraman
· Camera Report (Shot list)
· Spesifikasi kamera
Lembar Kerja Editor
· Konsep Kerja Editor
· Laporan Editing
· Logging Picture
· Proses Pembuatan Program ID
· Spesifikasi Editing
Penutup
CV. Crew
Starting Leader Broadcasting BSI
1. Colour Bar
Durasi siar adalah 5 detik. Tone suara tidak boleh diganti dengan suara atau musik.
2. Logo BSI
Durasi siar adalah 5 detik. Logo Berada ditengah frame, dibawahnya harus ditulis dengan huruf besar: “AKADEMI KOMUNIKASI JURUSAN PENYIARAN”. Font yang digunakan “Arial” dengan font size 24 pt.
3. Program ID
Durasi siar adalah 5 detik. Dalam program ID terdapat informasi judul, format progam, jenis acara, durasi dan sutradara. Ditulis dengan menggunakan jenis font “Arial” dengan font size 24 pt.
4. Counting Leader
Counting leader yang digunakan adalah counting leader Adobe Premiere. Dimulai dari angka 5.
5. OBB & Judul Program
Bisa berisi tampilan grafis, trailer (cuplikan-cuplikan gambar) yang diakhiri dengan tulisan judul program. Durasi siar 20-30 detik
6. Content Acara
Berupa isi dari progam audio visual yang akan disajikan.
7. Kerabat Kerja (Credit Title)
Berisi nama-nama dari kru yang terlibat dalam pembuatan program tersebut. Ditulis dengan menggunakan jenis font “Arial” dengan font size 24 pt.
8. Ucapan terimakasih
Ucapan ditulis secara berurutan. Dimulai dari Ketua Jurusan, Dosen pembimbing 1 dan dosen pembimbing 2, Dosen-dosen BSI, baru kemudian ucapan terimakasih kepada pihak-pihak lainnya. Ditulis dengan menggunakan jenis font “Arial” dengan font size 24 pt.
9. Copyright
Copyright © Broadcasting_BSI dibawahnya ditulis tahun pembuatan atau tahun diproduksinya karya ini. Ditulis dengan menggunakan jenis font “Arial” dengan font size 24 pt.
10. CV Crew
Berisi foto masing2 kru yang terlibat beserta nama, jabatan, nomor induk mahasiswa. Ditulis dengan menggunakan jenis font “Arial” dengan font size 24 pt.
11. Behind The Scene
Bentuknya adalah slide show foto-foto selama masa produksi. Durasi maksimal menit 2 menit (boleh kurang).