Pilih Pilih Kamera untuk Shooting (bingung..)
Say easy to making website
Laman STBA Nusa Mandiri
VISI
MISI
- Menyelenggarakan pendidikan tinggi informasi untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas baik moral maupun profesionalisme dan memiliki daya saing yang tinggi dimasyarakat.
- Menjunjung dan meningkatkan nilai akademik, etika dan moral sejalan dengan kehidupan masyarakat ilmiah.
- Selalu berupaya menyediakan sarana dan prasarana yang kondusif bagi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar sehingga dapat berlangusng secara efisien dan efektif'
Kampus dengan Sastra Inggris terbaik
Pengen kuliah di jurusan Sastra Inggris, tetapi masih bingung di universitas mana? Hasil pemeringkatan perguruan tinggi QS World University Rankings by Subject 2013 ini bisa jadi pertimbangan.
UI duduk di peringkat pertama. Namun demikian, meski masih terbaik di Indonesia, UI telah terdepak dari daftar 200 kampus terbaik di dunia untuk jurusan Sastra Inggris. Padahal tahun sebelumnya, UI masuk dalam jajaran ranking 101-150 terbaik dengan reputasi akademik dan sumber daya manusianya, masing-masing 44,3 dan 92,4 dari skala 100.
Lima kampus dengan jurusan Sastra Inggris terbaik di Indonesia adalah:
1. Universitas Indonesia
2. Universitas Sanata Dharma
3. Universitas Pendidikan Indonesia
4. Universitas Diponegoro
5. Universitas Gadjah Mada
Di Asia, lima perguruan tinggi dengan jurusan Sastra Inggris terbaik adalah National University of Singapore (NUS), University of Hong Kong, University of Tokyo, Chinese University of Hong Kong, dan City University of Hong Kong. Sementara itu, di urutan teratas masing-masing University of Oxford di Inggris, University of Cambridge di Inggris, Harvard University di Amerika Serikat, University of California, Berkeley (UCB) di AS, dan Yale University di AS.
Dalam melakukan pemeringkatan, QS World Ranking menggunakan indikator reputasi akademik, kualitas sumber daya manusia, jumlah tingginya kutipan yang dipakai peneliti, indeks H yang digunakan untuk mengukur produktivitas, dampak dari sebuah karya ilmiah para peneliti dan sarjananya, serta kekuatan spesialisasi pada disiplin ilmunya.
Mandiri Blog Kontes
Persinggungan antara tipe film dan bentuk film
Ada pertanyaan yang kemudian muncul, yaitu bagaimana melihat persinggungan antara tipe film dan bentuk film itu sendiri, sebab secara sepintas sulit menyatukan dua klasifikasi ini.
Walaupun tidak semuanya bisa dijelaskan, namun setidaknya cukup banyak yang bisa disatukan dalam sebuah film. Untuk tipe fiksi dan bentuk naratif mungkin tidak perlu penjelasan panjang, sebab banyak sekali film fiksi-naratif yang diproduksi di seluruh dunia terutama film-film yang diputar di bioskop-bioskop. Yang perlu menjadi catatan adalah sisa dari keterkaitan antara bentuk dan tipe.
1. Naratif dan Dokumenter.
Sub-tipe doku-drama merupakan titik temu antara dokumenter dengan naratif, dimana peristiwa, tokoh, ruang dan waktunya diambil dari kehidupan nyata, namun pembuatnya harus menginterpretasi ulang dan membuatnya tampak meyakinkan bagi penonton bahwa kejadian sesungguh adalah seperti yang digambarkannya.
2. Naratif dan Animasi.
Film-film animasi kartun adalah salah satu pertemuan titik antara bentuk naratif dengan tipe animasi. Dalam layar lebar banyak sekali film animasi kartun yang diproduksi seperti Fantasia, Beauty And The Beast dan sebagainya, sedangkan di televisi kita mengenal film kartun seperti Doraemon, Crayon Sinchan, Popeye, Scoby Doo dll.
3. Naratif dan Eksperimental.
Seringkali menjadi sulit mencari contoh dari film naratif dengan bungkusan eksperimental, namun setidaknya ada beberapa contoh yang dapat digunakan seperti Un Chien Andalou (Luis Bunuel), Pink Floyd : The Wall (Alan Parker), Parfumed Nightmare (Kidlat Tahimik) dsb.
Sedangkan titik temu antara bentuk non-naratif dengan tipe yang lain adalah seperti berikut :
4. Non-Naratif (Categorical) dan Fiksi.
Sub-tipe mockumentary adalah pertemuan antara categorical dengan fiksi, dimana peristiwa, tokoh, ruang dan waktunya merupakan hal fikstif, namun pembuatannya menggunakan pendekatan struktur serta aspek teknis dari dokumenter.
5. Non-Naratif (Categorical) dan Dokumenter.
Bentuk categorical memang awalnya ditujukan untuk dokumenter dan umumnya digunakan untuk hampir seluruh jenis dokumenter seperti ilmu pengetahuan, perjalanan, sejarah, instruksional dan lain sehingga.
6. Non-Naratif (Categorical) dan Animasi.
Sebenarnya titik temu awalnya sangatlah sulit dicari contohnya, namun setelah melihat Waltz With Bashir (Ari Folman) maka animasi-categorical ini menjadi memungkinkan. Film ini menceritakan sebuah penulusuran dari memori sang sutradara, namun dikemas dengan tipe animasi sehingga terpaksa bentuk categorical-nya cenderung menguat.
7. Non-Naratif (Rethorical) dan Fiksi / Animasi.
Bentuk rethorical dan fiksi bergabung dalam film-film iklan (TVC) ataupun iklan layanan masyarakat (PSA). Film-film tersebut cenderung melakukan persuasi yang kuat terhadap masyarakat.
8. Non-Naratif (Rethorical) dan Dokumenter.
Bentuk rethorical dan dokumenter cenderung muncul pada dokumenter dengan pendekatan propaganda, seperti yang terjadi dalam film Triumph of the Wheel (Leni Refensthal) dan Why We Fight ? (Frank Cappra).
Baik bentuk categorical ataupun rethorical sangat sulit mencari titik temunya dengan eksperimental, karena kencenderungan wujudnya yang sangat absurd.
9. Non-Naratif (Abstract) dan Fiksi / Animasi / Eksperimental.
Bentuk abstract sebagian besar merupakan fiksi dan ketika pembuatannya menggunakan elemen realis ataupun dengan teknik animasi maka akan cenderung menjadi film yang bersifat eksperimental. Misalnya film Dot (Norman McLaren), Mothlight (Stan Brakhage), Berita Hari Ini Tentang Dian Sastro (Faozan Rizal) dsb
KARYA TERBAIK FESTIVAL FILM PELAJAR JOGJA 2011
Setelah melalui proses penjurian final atas 5 (lima) karya fiksi dan 5 (lima) dokumenter yang menjadi nomine (dari total 75 film), maka Dewan Juri Festival Film Pelajar Jogja 2011 menetapkan para pemenang sebagai berikut;
Karya Terbaik Kategori Fiksi;
| Judul | Sekolah | Sutradara | Urutan |
| Tanpa Batas | SMK Cakra Buana Depok, Jawa Barat | Dita Aprilya | I |
| Pit Ontha | SMK YPLP Purbalingga, Jawa Tengah | Osinur Lutfinia | II |
| Untuk Tuhan dari Indonesia | SMA 60 Jakarta, DKI | Tiara Nurul R | III |
Karya Terbaik Kategori Dokumenter;
| Judul | Sekolah | Sutradara | Urutan |
| Ini Pulau Siapa | SMK 5 Bandar Lampung | Diana Wulandari | I |
| Antara Bayangan dan Kenyataan | SMK 1 Blitar, Jawa Timur | Ghalif P. Sadewa | II |
| Di Balik Harmoni Kampung Sawah | SMK 4 Bekasi, Jawa Barat | M. Mardhan A. | III |
Untuk film favorit pilihan penonton, terpilih Satu Indonesia dari SMK Islam Jepara yang disutradarai oleh Haji Ahmad Ashari
Digital : Sebuah Dispositif Dalam Film

Dalam presentasi ini, saya akan membicarakan soal digital dan dispositif. Dua hal ini sebenarnya merupakan isu yang berbeda dan memiliki sejarahnya masing-masing. Untuk menggabungkan keduanya mungkin kita bisa berangkat dari pembicaraan soal teknologi sinema. Sebenarnya sangat sulit untuk mendefinisikan secara ketat apa arti digital karena terlalu luas. Tapi rumusan mudahnya adalah sebagai berikut. Digital adalah perluasan dari kata digit, yakni prosesing angka-angka yang sering dirumuskan lewat kode binari. Digital bersifat integral, mencakup pada pengertian tentang revolusi digital, komputerisasi, imaji animasi, perkembangan media baru dan revolusi internet.
Digital dan Film
Dalam industri film, isu digital umumnya dipahami sebagai ‘membuat produksi [film]lebih murah’. Sinema digital dianggap dapat mengurangi biaya pembuatan film. Digital juga dikaitkan dengan perkembangan perangkat lunak 3D yang membuka kemungkinan imajinasi yang lebih luas luas. Teknologi 3D juga memungkinkan penonton menjadi kreator, sehingga muncul istilah interaktif yang perkembangannya sebenarnya dipengaruhi oleh virtual game. Dalam permainan ini, penonton terlibat dalam proses menentukan wujud fisik yang ingin ia lihat, jadi bukan sekadar ikut dalam proses pemaknaan.
Apakah definisi digital hanya seperti ini saja?Tidak. Saat ini kita masih berada di masa transisi, belum revolusi digital yang sepenuhnya. Dalam film, perdebatan yang terjadi adalah apakah film tetap memakai seluloid atau digital?
Digital merevolusi sinema dalam hal nilai ekonomi karena lebih murah. Digital juga mengubah alur produksi (pra-produksi-pasca) yang tidak harus sepenuhnya menggunakan seluloid ataupun digital. Dalam film Hollywood, film yang digital sepenuhnya sebenarnya masih jarang. Sejauh ini hanya film Wachovski Brothers, The Matrix Reloaded. Selain di tingkat produksi yang menggunakan digital, eksebisi/pemutaran film ini juga telah menggunakan digital. Jadi proses eksebisi terjadi dengan ditransmisikannya data film The Matrix Reloaded dari Los Angeles ke bioskop-bioskop di berbagai negara.
Sekarang ini, banyak pembuat film yang menganggap film/seluloid sudah kuno dan digital sepenuhnya adalah masa depan film. Pembuat film ini telah menggunakan perangkat lunak sejak pra-produksi hingga eksebisi. Digitalisasi memungkinkan data film disimpan dalam satu hardisk untuk disebar ke seluruh dunia.
Digital dan Dispositif Sinema
Sebenarnya sia-sia dan sulit untuk bicara soal teknologi digital secara total. Hal yang lebih menarik adalah biara tentang karakteristik imaji (citraan/gambar) dalam dispositif sinema. Dalam digital, karakteristik imaji adalah sebagai berikut:
- Dalam imaji digital, tidak ada perbedaan/penurunan kualitas antara master dan copy. Hal ini berbeda dengan teknologi analog. Ketika kita membuat kopi dalam teknologi analog, maka akan terjadi penurunan kualitas dari master ke copy.
- Dalam teknologi digital, data diubah menjadi angka. Angka inilah yang merekonstruksi imaji baik yang ingin tampak semirip mungkin dengan realita maupun fully modified hingga membuat obyek yang benar-benar berbeda.
Dua hal ini mengakibatkan perdebatan antara imaji dan realitas dalam digital tidak lagi relevan. Digital merekayasa sepenuhnya. Digital memungkinkan pembuat film mencapai taraf plastisitas pembuatan film yang sebelumnya hanya dimungkinkan dalam lukisan dan animasi. Digital tidak memiliki keterbatasan. Batas digital adalah daya penyimpanan data (storage).
Dari karateristik ini, kita bisa menyimpulkan bahwa digital bukanlah sinema. Ia adalah kelanjutan dari animasi karena subyektifitas pembuat film dalam digital adalah penuh layaknya pelukis.
Dispositif
Dalam bahasa Inggris, dispositif berarti apparatus (perangkat). Saya akan menggunakan kosakata ini untuk menjelaskan tentang teknologi digital. Baudry menulis tentang apparatus dalam dua makna. Pertama, dispositif adalah mesin mekanik film (kamera, proyektor, layar, dll). Kedua, dispositif adalah segala perangkat yang membentuk proses kepenontonan. Pengertian ini merujuk pada kondisi psikologis yang memungkinkan penonton menonton film layaknya mengintip (voyeur). Contohnya, ruangan yang gelap, tidak adanya suara lain, dll. Pemahaman kedua inilah yang memberi pijakan pada pengertian dispositif sebagai mekanisme mental penonton.
Secara garis besar, dispositive mengacu pada semua diskursus dalam tiap institusi sinema, baik yang eksplisit maupun implisit, yang terkatakan ataupun tak terkatakan. Contoh yang mudah dipahami: perdebatan tentang Ahmadiyah. Ada yang menganggap perdebatan itu menyangkut agama. Sementara yang lain soal ideologi. Itu semua disebut dispositif.
Dispositif yang muncul tentang digital terdiri dari beberapa hal, antara lain:
- Film hanyalah produk sains. Jadi perkembangan atas teknologi digital adalah bersifat ilmiah.
- Perkembangan zaman mendorong digital muncul. Zaman meminta teknologi yang dapat menangkap gambar bergerak/realitas kontemporer.
Dalam konteks ini, digital sebenarnya bukanlah persoalan film. Ia adalah perkembangan mahaluas yang menyinggung, salah satunya tentang film. Digital ada bukan karena film. Ia lebih besar daripada itu. Digital itu persoalan kemanusiaan. Yang ditantang adalah manusia dalam dimensi sosialnya, bukan hanya pembuat film. Nilai kemanusiaan macam apa? Manusia itu apa? Apakah ia perlu bersosialisasi ketika semua hasratnya bisa terpenuhi? Apakah ketika digital bisa memenuhi seluruh kebutuhannya, ia tidak memerlukan masyarakat?
Diskusi
German Mintapraja
Saya seorang penata kamera dan tertarik dengan isu revolusi kamera digital. Menurut Robert Rodriguez, film telah mati. Di kalangan penata kamera sekarang ini, terutama di Indonesia, sudah jarang orang menggunakan seluloid. Kebanyakan menggunakan kamera digital. Bahkan bagi beberapa orang, digital sudah selesai, sekarang adalah file base era. Jadi data tidak ada bentuk fisiknya. Kondisi ini sangat mengubah proses kerja (work flow) pembuatan film. Namun secanggih apapun teknologinya, tetap yang tidak berubah, yaitu kaidah-kaidah dasar sinema seperti konvensi close-up, high angle, dll.
Sekarang ini muncul DSLR (digital single lens reflex) cinema (contoh: kamera Canon 5D/7D yang sekarang banyak dipakai pembuat film). Dengan DLSR ini ada perubahan yang signifikan dalam profesi penata kamera. Mau jadi sinematografer atau fotografer? Perkembangan ini cukup menarik. Oleh karena itu, saya ingin bertanya tentang bagian akhir presentasi, yakni soal digital dan kemanusiaan. Boleh dijelaskan kemanusianyang seperti apa yang mengalami perubahan?
Mr. SPY
Dalam kasus ini, istilah ‘film is dead’ bukanlah hal yang relevan. Digital dan seluloid adalah dua hal yang berbeda karena karateristik imaji/gambar yang dihasilkannya berbeda. Digital itu ibaratnya seperti penumpang gelap dan berusaha dimasukkan ke dalam wacana sinema, kemudian sinema disuruh ‘nurut’ ke digital. Urusan digital sebenarnya cuma berusaha mencapai kualitas dengan lebih mudah dan murah. Jadi tidak ada urusan dengan kemampuan pembuat film. Yang bisa membuat film mati adalah ketika orang sudah tidak mau membuat film lagi, bukan teknologi digital.
Bicara soal kemanusiaan dan digital, film sebenarnya terlalu kecil untuk bicara itu. Terobosan digital yang paling groundbreaking adalah second life (teknologi penciptaan avatar). Kebayang nggak kalau digital total semacam second life terjadi? Ruang sudah tidak penting. Manusia mungkin tidak perlu berinteraksi secara langsung dengan manusia lain. Dan inilah yang jadi pertanyaan. Apakah manusia sebagai makhluk sosial dan manusia politik masih relevan? Jadi persoalannya adalah kemanusiaan sebagai implikasi.
Henny Septantia
Digital adalah hal penting yang dampaknya terasa, bukan hanya di film, tapi juga hal lain. Saya juga tidak percaya film is dead. Menurut anda apakah isu digital ini sudah sampai ke situasi krisis? Apakah ini sudah mencapai soal krisis kemanusiaan? Ini memang isu besar. Tapi tidak semua isu besar adalah krisis. Kalau ini sudah krisis, apa yang harus dilakukan selanjutnya?
Mr. SPY
Pertanyaan itu hanya jadi relevan kalau post-factum (sudah terjadi). Digital hanya bersifat krisis ketika revolusi digital terjadi secara total. Jika hasrat kita semua sudah terpenuhi oleh kecanggihan digital, kemungkinannya adalah kemunculan pertanyaan seperti apakah manusia butuh orang lain? Apakah manusia butuh pengetahuan lagi?
Veronika Kusumaryati
Menurut saya itu bukan hal yang baru. Contohnya, Facebook, yang awalnya dimaksudkan untuk membuat orang lebih sosial, tapi ternyata malah membuat orang asosial. Itu konsekuensi logis. Tapi persoalannya adalah bagaimana menyikap teknologi digital ini? Bagaimana dengan para pembuat film (imagemaker) menyikapi hal ini? Bagaimana memahami sejarah teknologi sinema?
Teknologi digital adalah teknologi yang ‘direstui’ Hollywood, tapi digital di sini kan hanya menyangkut teknologi HD (high definition), bukan teknologi video digital (yang banyak berkembang di Indonesia). Format bakunya tetap HD. Bagaimana memahami fenomena ini?
German Mintapradja
Saya tertarik dengan pernyataan mbak Henny soal krisis. Menurut saya, digital ini bukanlah krisis kemanusiaan tapi krisis di sinema. Kita kena imbas dari WNI yang karateristiknya pemakai, bukan pencipta. Sekarang setiap orang bisa bikin film tanpa perlu kebutuhan produksi maupun eksebisi yang standar. Akibatnya, nilai film semakin ‘turun’.
Kusen Donny
Kok menurut saya tidak terjadi krisis seperti yang dikatakan mas German. Dulu perkembangan teknologi suara menuruti keinginan penonton yang lebih suka mendengar suara yang sempurna. Tapi sebenarnya, manusia kan tidak biasa mendengar suara yang sempurna. Teknologi pun berubah, mengikuti keinginan manusia. Teknologi dalam hal ini memang membuat lebih murah, tetapi kualitas tetap berbeda, tergantung dari manusianya. Contohnya, di fotografi masih ada orang yang memakai kamera lubang jarum walaupun teknologinya sudah sangat ketinggalan. Selain soal ekonomi, saya tetap melihat ada aspek kemanusiaan. Ketika teknologi sudah sangat canggih, bagaimanapun tetap ada pilihan untuk membuat film dengan seluloid. Ini kan sama dengan kembali populernya polaroid dan kamera lom. Buat saya ini bukan krisis.
Henny Septantia
Saya sepakat dengan mas Donny. Ketika kita menganggap ini sebagai persoalan kemanusiaan, saya sepakat. Tapi ketika kita anggap ini krisis, jangan-jangan kita itu paranoid. Tiap ada perubahan baru kita takut ini akan membawa implikasi buruk ke kehidupan normal. Sungguhkan ini ancaman? Atau ini bagian dari perubahan dunia karena memang waktunya untuk digitalisasi?
German Mintapraja
Yang saya maksud krisis,adalah ketidakjelasan. Ketiadaan tujuan yang sama. Minimal harus ada konvensi yang disepakati. Krisis itu maksudnya: keilmuan sinematografi yang baku dan klasik goyang, serta soal ekonomi yang berhubungan dengan lapangan kerja yang spesifik.
Gatot Subroto
Kalau saya lihat ternyata memang dibutuhkan suatu hukum tertentu mengenai sinema digital. Ketika digital berlaku, tidak satupun sistem di dunia ini aman. Bentuknya kan bukan fisik, tapi informasi dan ini tidak bisa dijaga secara total. Hacker makin canggih. Secara umum, bukan film/celluloid is dead, tapi cinema is not dead. Bisa saja nanti muncul perangkat lunak pembuatan film sehingga semua orang bisa jadi filmmaker. Ketakutannya justru pada nilai eknomi industri. Para produser akan membayar tenaga kerja secara murah karena sudah digital. Aspek kemanusiaan dalam penciptaan kreatif jadi kehilangan nilai ekonomi.
Mr. SPY
Esensinya adalah soal manfaat. Kita pinggirkan dulu soal distopia ini. Ada dua plot dalam perkembangan digital. Di satu sisi ada teknologi Digital Video dan High Definition. Itu hal yang terpisah. DV adalah bagian dari perkembangan video. Yang mau dilawan DV adalah TV. Digital juga kemudian dipakai untuk melawan film-film Hollywood. HD itu jawaban sistem ekonomi sinema. HD membuat sistem yang lebih efisien dalam mendekati sinema.
Dalam perspektif auteur (penciptaan), HD dan DV adalah perkembangan linear karena mereka bisa jadi bagian dari eksperimen gambar. Kalau industri mau standar gambar yang kualitasnya bagus, kita lihat HD dan DV.
Kusen Donny
HD sebenarnya sudah dari tahun 1980-an. Teknologinya berasal dari HDTV. Sekarang ini, HD ingin menggantikan pola pemutaran di layar lebar.
Rina Harahap
Digital merupakan revolusi ekonomi tapi di industri film di Indonesia, pengertian ini menjadi salah kaprah, yakni dengan tidak/kurang menghargai filmmaker dan kru secara layak. Karena digital berarti murah, produser jadi menganggap murah hal lainnya juga.
Henny Septantia
Yang disampaikan Rina dan Gatot soal penghargaan terhadap filmmaker tidak ada urusannya dengan teknologi. Di Jepang teknologi berkembang, tapi standar penghargaan tetap tinggi. Itu soal mental feodal.
German Mintapraja
Saya setuju dengan mbak Henny. Itu hanya senjata para produser untuk menekan biaya dan upah kru. Itu kan jadi strategi para praktisi dalam negosiasi dengan produser. Saya cenderung hanya mau syuting proyek dengan seluloid.
Diskusi selesai.





