Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label Lainnya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lainnya. Tampilkan semua postingan

Pilih Pilih Kamera untuk Shooting (bingung..)



Kami ingin membeli kamera video. Punya rekomendasi merk dan tipe kamera yang bagus? Demikian kerap penulis mendapat pertanyaan ketika menjadi pembicara untuk tema video jurnalistik. Dan pertanyaan serupa penulis dapatkan ketika memberi pelatihan untuk para pegawai bagian humas salah satu pemerintahan daerah di Papua.

Artikel ini merupakan jawaban atas pertanyaan yang sering dilontarkan seperti di atas tadi. Alih-alih menjawab langsung, biasanya penulis justru menanyakan balik. Sebab dari pertanyaan kembalilah akan didapatkan jawaban yang menjadi harapan si penanya, pada akhirnya. Ada beberapa hal yang mesti dilakukan ketika kita memutuskan untuk membeli kamera video yang ideal sesuai kebutuhan. Maka beberapa pertanyaan di bawah ini akan membantu untuk mendapatkan kamera yang diinginkan itu.
Kamera untuk apa?
Tentu saja untuk pengambilan gambar, merekam baik gambar maupun suara. Ini masih terlalu umum. Lebih spesifik lagi, kebutuhan apakah yang diinginkan dalam pengambilan gambar tersebut. Jika diklasifikasikan sebagai peruntukan dalam berbagai jenis, maka kamera video akan terbagi atas: kamera studio, kamera EFP (Electronic Field Production), kamera ENG (Electronic News Gathering), dan kamera home video.
Tiga jenis kamera merupakan kamera video yang digunakan oleh broadcasting televisi. Kamera studio sesuai namanya merupakan kamera yang didesain untuk keperluan shooting di dalam studio. Kamera ini biasanya terintegrasi dengan sebuah sistem yang disebut multikamera. Terhubung dengan vision mixer atau video switcher. Beberapa control kamera studio ada pada CCU atau Camera Control Unit. Pada CCU akan ada adjusment untuk iris dan gain untuk mengatur cahaya juga kontrol warna. Sehingga pada kamera studio, operator kamera tidak dibebankan untuk mengontrol kedua hal ini.
Kamera EFP, sering digunakan untuk keperluan di luar studio. Kamera ini seringkali digunakan untuk acara olahraga seperti sepakbola misalnya. Kamera EFP sebetulnya mirip dengan kamera studio. Kontrol kamera menggunakan CCU, walaupun demikian bisa juga digunakan stand alone ketika tidak terhubung dengan sistem multikamera.
Jenis kamera ENG diperuntukkan bagi para operator kamera saat liputan. Kamera ini didesain untuk keperluan peliputan berita, pembuatan feature, dokumenter dan sejenisnya.
Yang terakhir yakni kamera home video, inilah jenis kamera yang paling banyak variannya baik low-end maupun high-end. Kamera ini biasanya berbentuk compact, atau lebih dikenal sebabagai handycam.
Dari berbagai jenis atau tipe kamera inilah sudah mulai bisa dipilah bahwa jenis kamera mana yang diperlukan. Namun dengan mengetahui berbagai jenis kamera ini saja belum cukup benar, karena kenyataannya masih ada lagi tipe kamera yang diklasifikasi berdasar media rekam apa terdapat pada kamera tersebut.
Ada Beragam Media Rekam
Kamera Mini-DV. Kamera jenis ini sangat populer utamanya untuk para video jurnalis dalam liputan berita, infotainment, serta para pembuat film dokumenter. Kamera ini menggunakan kaset mini-DV sebagai media penyimpanan. Kelebihan kamera jenis ini tentu karena banyak yang masih percaya bahwa kaset merupakan media penyimpanan yang aman jika dibandingkan dengan hardisk. Kamera ini salah satunya yakni Panasonic Pro AG-DVX100BP.
DVD Camcorder. Jenis kamera ini sangat compact, media penyimpanan berupa cakram DVD. Namun jenis kamera ini tidak direkomendasikan untuk keperluan pengambilan gambar profesional karena kompresi pada hasil rekaman jenis kamera ini mengakibatkan kualitas gambar menjadi turun. Kamera jenis ini misalnya Sony DCR DVD 650
HDD Camcorder. Jika kamera mini DV media penyimpanannya dalam bentuk tape atau kaset, dan DVD Camcorder dalam bentuk cakram DVD, maka HDD Camcorder menggunakan hardisk sebagai media penyimpanannya. Seberapa besar kapasitas hardisk yang ada di kamera tersebut tergantung dari tipe yang dikeluarkan oleh produsen. Yang barangkali agak membingungkan banyak orang pikir kalau HDD Camcorder itu artinya High Definition, padahal HDD Camcorder artinya adalah Hard Disc Drive yang dalam perekaman dan penyimpanannya bisa SD atau Serial Definition maupun HD atau High Definition.
HDD Camcorder dalam hal media penyimpanan sebetulnya mirip dengan komputer, yakni ia menyimpan materi berdasar megabite yang digunakan. Salah satu kamera yang populer adalah JVC Everio GZHD7 3CCD 60GB, yang berarti kamera ini memiliki media penyimpanan sebesar 60GB.
Flash Memory Camcorder. Pada kenyataannya storage atau media penyimpanan juga mengalami perkembangan. Flash memory yang semula didesain untuk keperluan gadget dan kamera still, kini juga digunakan dalam penyimpanan file audio visual. Ada dua jenis format flash drive yang digunakan, yakni Memory Stick yang diproduksi dan hanya digunakan oleh Sony dan SD/SDHC yang digunakan oleh produk merk lainnya. Kelebihan dari flash memory tentu saja ia bisa lebih tahan banting ketimbang hardisk karena bentuknya yang sangat compact. Karena banyak yang dibuat sebagai kamera home video, hampir semua vendor mengeluarkan kamera jenis ini. Salah satunya adalah Panasonic HC X900M
Ya kini sudah makin mengkerucut bukan? Selain jenis maka media perekaman dari masing-masing kamera ini sudah bisa menjadi pertimbangan Anda dalam menentukan kamera apa yang cocok digunakan sesuai kebutuhan. Lalu hal apa saja yang perlu diperhatikan sehingga kita bisa memastikan kamera mana dibutuhkan, ini tidak berkaitan langsung dengan fisik kamera itu sendiri. Artinya yang mesti jeli kita lakukan adalah dengan mengetahui spesifikasi yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah mengenai resolusi gambar dan frame size
Dari VGA hingga Full HD
Resolusi gambar sudah menjadi perhatian para vendor sedari awal, baik untuk kebutuhan consumer maupun industri, baik untuk keperluan playback ataupun untuk perekaman. Resolusi gambar paling tinggi video saat ini adalah Full HD alias 1080p. Resolusi ini telah diakomodir oleh kamera jenis HDSLR. Frame size full HD adalah 1920 X 1080 pixel. Di bawah Full HD ada HD atau biasa disebut 720p. Pada dasarnya HD juga termasuk high definition, hanya saja frame sizenya 1280 X 720. Selanjutnya ada HDV atau High Definition Video yang memiliki format 1440 X 1080 anamorphic. Sedangkan resolusi yang masih “umum” dan masih banyak digunakan adalah SD atau standard definition. Ada dua jenis SD yang populer yakni PAL 720 X 576 untuk negara-negara di Eropa dan NTSC 720 X 480 untuk negara-negara di Amerika Utara. Sedangkan broadcasting televisi di Indonesia menggunakan format PAL. Dan resolusi terakhir adalah VGA atau video grapic array. Resolusi VGA merupakan resolusi paling rendah, namun resolusi ini masih digunakan misalnya untuk kamera ponsel.
Semakin tinggi resolusi gambar tentu saja artinya semakin baik juga gambar yang dihasilkan. Yang perlu diperhatikan dalam perihal resolusi ini adalah kompabilitas, hal ini akan berkaitan dengan editing serta hasil akhir apa yang diinginkan nantinya.
Tool Tambahan
Ketika membeli kamera video yang tanpa perencanaan terlebih dulu biasanya akan menyisakan PR, ternyata ada kebutuhan lain yang jika itu tidak terpenuhi maka pekerjaan yang menggunakan kamera video menjadi tidak maksimal. Tidak seperti halnya membeli kamera foto, banyak orang yang tidak memperhatikan perihal lensa kamera. Lensa kamera video pada umumnya memang sudah terpasang pada body kamera dan tidak bisa diganti. Namun beberapa kamera video terutama kamera video profesional memungkinkan pengguna untuk mengganti lensa. Jadi, ketika akan memutuskan membeli kamera perlu diperhatikan juga misalnya apakah hanya perlu lensa standar yang berarti tidak perlu lensa tambahan dan hanya perlu kamera yang sudah memiliki kamera standar tersebut. Atau misalnya memerlukan juga lensa tele atau wide karena untuk keperluan tertentu. Jika demikian maka sedari awal kita sudah akan tahu apakah kamera yang akan dibeli itu harus bisa ganti lensa atau tidak.
Tambahan lain yang diperlukan adalah microphone. Ya tentu saja kamera video standar sudah memiliki microphone baik yang internal (biasanya untuk kamera pro-sumer) maupun microphone external untuk kamera semi-pro dan kamera profesional. Ada banyak microphone yang bisa digunakan, namun lagi-lagi hal ini mesti diperhatikan dari sisi kebutuhan. Misalnya untuk keperluan interview bisa jadi kita memerlukan shot gun atau clip on. Microphone pun ada yang menggunakan kabel ada pula yang wireless.
Supporting utama terakhir yang tak kalah penting adalah mounting penyangga kamera. Dan yang paling umum digunakan yakni tripod, penyangga dengan tiga kaki ini ada beberapa jenis. Tripod untuk kamera video berbeda dengan tripod kamera foto. Karena kebanyakan kamera video memiliki beban yang lebih berat. Tripod yang baik ia mesti kokoh serta bisa dengan mudah digunakan untuk paning (pergerakkan horisontal) dan tilting (pergerakkan vertikal)
Ada Harga Ada Rupa
Ini nampaknya sudah sudah menjadi adagium populer baik untuk pembeli maupun bagi si penjual. Ada harga ada rupa, ada uang yang banyak ada barang yang bagus. Nyaris tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun ada kalanya ini tidak berlaku ketika misal kamera yang mahal telah dibeli namun tidak sesuai dengan kebutuhan.
Apa sebetulnya mempengaruhi harga video kamera? Jenis serta klasifikasi seperti di ataslah yang menjadi faktornya. Kamera HDD dengan hardisk 120GB tentu akan lebih mahal dari yang memiliki hardisk 60GB. Jadi tentukan,apakah memang benar kebutuhan penampungan gambar saat peliputan itu memerlukan waktu perekaman berdurasi panjang atau tidak. Demikian juga dengan lensa kamera, apakah cukup dengan lensa standar atau perlu juga lensa tele atau widelens.
Ada beberapa merk kamera: Sony, Panasonic, Canon, Ikegami, JVC, dan beberapa merk lain. Masing-masing merk kadang memiliki ciri khas yang di antaranya ialah karakter warna. Terakhir, silakan bandingkan masing-masing merk tersebut dengan kamera tipe sejenis. Jangan sampai tergiur dengan harga yang lebih murah namun ternyata ada fasilitas menu yang kurang di dalamnya, padahal misalnya hal itu diperlukan.
Purna jual atau garansi juga akan pengaruh pula pada harga. Sebelum memutuskan membeli, pastikan dengan teliti tentang garansi ini. Layanan purna jual yang baik ia akan mengakomodir keluhan anda ketika ada permasalahan pada kamera. Pembelian kamera di toko dalam negeri maupun di toko luar negeri sebetulnya tidak masalah ketika jaminan garansinya jelas.
A Man Behind The Gun
Ketika sudah yakin dengan keputusan dari hasil memilah dan akhirnya memilih kamera yang diinginkan dan diperlukan, sebetulnya ada hal yang paling esensi dari itu semua, yakni siapa yang akan menggunakan kamera tersebut. Kemampuan mengoperasikan kamera yang buruk akan berbanding terbalik dengan pilihan kamera video yang terbaik sekalipun. Belajar kamera bukan perihal mengerti manual book saja karena di dalam manual book hanya berisi penjelasan teknis. Di luar itu semua,operator kamera mesti bisa mengoptimalkan kegunaan kamera tersebut.


Say easy to making website


STBA Nusa Mandiri dari Badaris Tangerang Selatan mengadakan kegiatan, bertajuk program penguatan materi dengan mengambil tema "say easy to making website". Workshop tersebut dikemas secara menarik, hal itu terbukti dari animo peserta yang mengikuti workshop tersebut. Target awal 50 peserta namun ketika kegiatan berlangsung peserta bertambah hingga 90 orang. Peserta yang mengikuti workshop ini terdiri dari kalangan mahasiswa dan ada juga dari umum. Workshop yang diselenggarakan di STBA ciputat ini dibuka oleh ketua pelaksana dari Badaris pusat yaitu Andre Dwi Sunara, lalu sambutan dari Badaris ciputat yang diisi oleh ismiyati yang kebetulan juga sebagai mahasiswa beasiswa prestasi, (11/10/14). Menurut Setiaji selaku Wakc BSI - STBA ciputat yang ikut memberikan sambutan menuturkan bahwa workshop ini sebagai tambahan atau penguatan materi matakuliah Web programing dan berguna juga bagi mahasiswa semester lima, yang sedang merencanakan pembuatan tugas akhir untuk Outline atau peminatan web.
Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini sangat tepat waktu, materi yang disajikan pun cukup mumpuni untuk pengembangan pembuatan web. Pembicara di isi oleh team Badaris yang secara detail menjelaskan trik dan tips merancang web, workshop kali ini juga difasilitasi sertifikat dan snack, workshop FREE merupakan bentuk eksistensi Badaris BSI,  karena sebelumnya juga diadakan di BSI BSD dengan tema "membuat aplikasi program dengan robomind". Acara ditutup pukul 13.00 WIB dan direncanakan akan dibuat workshop- workshop berikutnya dengan tema yang lebih menarik, sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Laman STBA Nusa Mandiri


Kami berkomitmen membangun hubungan jangka panjang yang didasari atas kepercayaan daristakeholders. Dengan mewujudkan pendidikan berkualitas bagi mahasiswa, kami mengambil peran aktif dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang Indonesia dengan menghasilkan insan-insan kreatif, cerdas dan kompetitif. Atas dasar tanggung jawab tersebut, kami bertekad untuk menjadi perguruan tinggi swasta yang turut berpartisipasi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang handal dibidang sains dan teknologi, serta memiliki daya saing tinggi dan mampu mandiri dalam kancah global. Hal ini tercermin dalam visi, misi serta semboyan kami.

VISI

Menjadi perguruan tinggi swasta yang diakui keberadaannya dalam penerapan ilmu dan teknologi informasi di Indonesia.

MISI

  • Menyelenggarakan pendidikan tinggi informasi untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas baik moral maupun profesionalisme dan memiliki daya saing yang tinggi dimasyarakat.
  • Menjunjung dan meningkatkan nilai akademik, etika dan moral sejalan dengan kehidupan masyarakat ilmiah.
  • Selalu berupaya menyediakan sarana dan prasarana yang kondusif bagi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar sehingga dapat berlangusng secara efisien dan efektif'

Kampus dengan Sastra Inggris terbaik


Pengen kuliah di jurusan Sastra Inggris, tetapi masih bingung di universitas mana? Hasil pemeringkatan perguruan tinggi QS World University Rankings by Subject 2013 ini bisa jadi pertimbangan.

UI duduk di peringkat pertama. Namun demikian, meski masih terbaik di Indonesia, UI telah terdepak dari daftar 200 kampus terbaik di dunia untuk jurusan Sastra Inggris. Padahal tahun sebelumnya, UI masuk dalam jajaran ranking 101-150 terbaik dengan reputasi akademik dan sumber daya manusianya, masing-masing 44,3 dan 92,4 dari skala 100.

Lima kampus dengan jurusan Sastra Inggris terbaik di Indonesia adalah:
1. Universitas Indonesia
2. Universitas Sanata Dharma
3. Universitas Pendidikan Indonesia
4. Universitas Diponegoro
5. Universitas Gadjah Mada

Di Asia, lima perguruan tinggi dengan jurusan Sastra Inggris terbaik adalah National University of Singapore (NUS), University of Hong Kong, University of Tokyo, Chinese University of Hong Kong, dan City University of Hong Kong. Sementara itu, di urutan teratas masing-masing University of Oxford di Inggris, University of Cambridge di Inggris, Harvard University di Amerika Serikat, University of California, Berkeley (UCB) di AS, dan Yale University di AS.

Dalam melakukan pemeringkatan, QS World Ranking menggunakan indikator reputasi akademik, kualitas sumber daya manusia, jumlah tingginya kutipan yang dipakai peneliti, indeks H yang digunakan untuk mengukur produktivitas, dampak dari sebuah karya ilmiah para peneliti dan sarjananya, serta kekuatan spesialisasi pada disiplin ilmunya.

Mandiri Blog Kontes


Ikutilah Mandiri blog kontes, sebagai ajang insan blogger untuk berkarya lewat tulisan, Bank Mandiri merupakan Bank Terbesar di Indonesia mengajak kaum blogger untuk berpartisipasi dalam blog kontes 2012, ikutilah dan raih hadiahnya.
Daftarkan blog anda ke http://blogkontes.mandirisaja.com/


Persinggungan antara tipe film dan bentuk film

Ada pertanyaan yang kemudian muncul, yaitu bagaimana melihat persinggungan antara tipe film dan bentuk film itu sendiri, sebab secara sepintas sulit menyatukan dua klasifikasi ini.





Walaupun tidak semuanya bisa dijelaskan, namun setidaknya cukup banyak yang bisa disatukan dalam sebuah film. Untuk tipe fiksi dan bentuk naratif mungkin tidak perlu penjelasan panjang, sebab banyak sekali film fiksi-naratif yang diproduksi di seluruh dunia terutama film-film yang diputar di bioskop-bioskop. Yang perlu menjadi catatan adalah sisa dari keterkaitan antara bentuk dan tipe.

1. Naratif dan Dokumenter.

Sub-tipe doku-drama merupakan titik temu antara dokumenter dengan naratif, dimana peristiwa, tokoh, ruang dan waktunya diambil dari kehidupan nyata, namun pembuatnya harus menginterpretasi ulang dan membuatnya tampak meyakinkan bagi penonton bahwa kejadian sesungguh adalah seperti yang digambarkannya.

2. Naratif dan Animasi.

Film-film animasi kartun adalah salah satu pertemuan titik antara bentuk naratif dengan tipe animasi. Dalam layar lebar banyak sekali film animasi kartun yang diproduksi seperti Fantasia, Beauty And The Beast dan sebagainya, sedangkan di televisi kita mengenal film kartun seperti Doraemon, Crayon Sinchan, Popeye, Scoby Doo dll.

3. Naratif dan Eksperimental.

Seringkali menjadi sulit mencari contoh dari film naratif dengan bungkusan eksperimental, namun setidaknya ada beberapa contoh yang dapat digunakan seperti Un Chien Andalou (Luis Bunuel), Pink Floyd : The Wall (Alan Parker), Parfumed Nightmare (Kidlat Tahimik) dsb.

Sedangkan titik temu antara bentuk non-naratif dengan tipe yang lain adalah seperti berikut :

4. Non-Naratif (Categorical) dan Fiksi.

Sub-tipe mockumentary adalah pertemuan antara categorical dengan fiksi, dimana peristiwa, tokoh, ruang dan waktunya merupakan hal fikstif, namun pembuatannya menggunakan pendekatan struktur serta aspek teknis dari dokumenter.

5. Non-Naratif (Categorical) dan Dokumenter.

Bentuk categorical memang awalnya ditujukan untuk dokumenter dan umumnya digunakan untuk hampir seluruh jenis dokumenter seperti ilmu pengetahuan, perjalanan, sejarah, instruksional dan lain sehingga.

6. Non-Naratif (Categorical) dan Animasi.

Sebenarnya titik temu awalnya sangatlah sulit dicari contohnya, namun setelah melihat Waltz With Bashir (Ari Folman) maka animasi-categorical ini menjadi memungkinkan. Film ini menceritakan sebuah penulusuran dari memori sang sutradara, namun dikemas dengan tipe animasi sehingga terpaksa bentuk categorical-nya cenderung menguat.

7. Non-Naratif (Rethorical) dan Fiksi / Animasi.

Bentuk rethorical dan fiksi bergabung dalam film-film iklan (TVC) ataupun iklan layanan masyarakat (PSA). Film-film tersebut cenderung melakukan persuasi yang kuat terhadap masyarakat.

8. Non-Naratif (Rethorical) dan Dokumenter.

Bentuk rethorical dan dokumenter cenderung muncul pada dokumenter dengan pendekatan propaganda, seperti yang terjadi dalam film Triumph of the Wheel (Leni Refensthal) dan Why We Fight ? (Frank Cappra).

Baik bentuk categorical ataupun rethorical sangat sulit mencari titik temunya dengan eksperimental, karena kencenderungan wujudnya yang sangat absurd.

9. Non-Naratif (Abstract) dan Fiksi / Animasi / Eksperimental.

Bentuk abstract sebagian besar merupakan fiksi dan ketika pembuatannya menggunakan elemen realis ataupun dengan teknik animasi maka akan cenderung menjadi film yang bersifat eksperimental. Misalnya film Dot (Norman McLaren), Mothlight (Stan Brakhage), Berita Hari Ini Tentang Dian Sastro (Faozan Rizal) dsb

KARYA TERBAIK FESTIVAL FILM PELAJAR JOGJA 2011

KARYA TERBAIK  FESTIVAL FILM PELAJAR JOGJA 2011


Setelah melalui proses penjurian final atas 5 (lima) karya fiksi dan 5 (lima) dokumenter yang menjadi nomine (dari total 75 film), maka Dewan Juri Festival Film Pelajar Jogja 2011 menetapkan para pemenang sebagai berikut;


Karya Terbaik Kategori Fiksi;


Judul

Sekolah

Sutradara

Urutan

Tanpa Batas

SMK Cakra Buana Depok, Jawa Barat

Dita Aprilya

I

Pit Ontha

SMK YPLP Purbalingga,

Jawa Tengah

Osinur Lutfinia

II

Untuk Tuhan

dari Indonesia

SMA 60 Jakarta, DKI

Tiara Nurul R

III

Karya Terbaik Kategori Dokumenter;


Judul

Sekolah

Sutradara

Urutan

Ini Pulau Siapa

SMK 5 Bandar Lampung

Diana Wulandari

I

Antara Bayangan dan Kenyataan

SMK 1 Blitar, Jawa Timur

Ghalif P. Sadewa

II

Di Balik Harmoni Kampung Sawah

SMK 4 Bekasi, Jawa Barat

M. Mardhan A.

III

Untuk film favorit pilihan penonton, terpilih Satu Indonesia dari SMK Islam Jepara yang disutradarai oleh Haji Ahmad Ashari





Digital : Sebuah Dispositif Dalam Film

Digital : Sebuah Dispositif Dalam Film

Dalam presentasi ini, saya akan membicarakan soal digital dan dispositif. Dua hal ini sebenarnya merupakan isu yang berbeda dan memiliki sejarahnya masing-masing. Untuk menggabungkan keduanya mungkin kita bisa berangkat dari pembicaraan soal teknologi sinema. Sebenarnya sangat sulit untuk mendefinisikan secara ketat apa arti digital karena terlalu luas. Tapi rumusan mudahnya adalah sebagai berikut. Digital adalah perluasan dari kata digit, yakni prosesing angka-angka yang sering dirumuskan lewat kode binari. Digital bersifat integral, mencakup pada pengertian tentang revolusi digital, komputerisasi, imaji animasi, perkembangan media baru dan revolusi internet.

Digital dan Film

Dalam industri film, isu digital umumnya dipahami sebagai ‘membuat produksi [film]lebih murah’. Sinema digital dianggap dapat mengurangi biaya pembuatan film. Digital juga dikaitkan dengan perkembangan perangkat lunak 3D yang membuka kemungkinan imajinasi yang lebih luas luas. Teknologi 3D juga memungkinkan penonton menjadi kreator, sehingga muncul istilah interaktif yang perkembangannya sebenarnya dipengaruhi oleh virtual game. Dalam permainan ini, penonton terlibat dalam proses menentukan wujud fisik yang ingin ia lihat, jadi bukan sekadar ikut dalam proses pemaknaan.

Apakah definisi digital hanya seperti ini saja?Tidak. Saat ini kita masih berada di masa transisi, belum revolusi digital yang sepenuhnya. Dalam film, perdebatan yang terjadi adalah apakah film tetap memakai seluloid atau digital?

Digital merevolusi sinema dalam hal nilai ekonomi karena lebih murah. Digital juga mengubah alur produksi (pra-produksi-pasca) yang tidak harus sepenuhnya menggunakan seluloid ataupun digital. Dalam film Hollywood, film yang digital sepenuhnya sebenarnya masih jarang. Sejauh ini hanya film Wachovski Brothers, The Matrix Reloaded. Selain di tingkat produksi yang menggunakan digital, eksebisi/pemutaran film ini juga telah menggunakan digital. Jadi proses eksebisi terjadi dengan ditransmisikannya data film The Matrix Reloaded dari Los Angeles ke bioskop-bioskop di berbagai negara.

Sekarang ini, banyak pembuat film yang menganggap film/seluloid sudah kuno dan digital sepenuhnya adalah masa depan film. Pembuat film ini telah menggunakan perangkat lunak sejak pra-produksi hingga eksebisi. Digitalisasi memungkinkan data film disimpan dalam satu hardisk untuk disebar ke seluruh dunia.

Digital dan Dispositif Sinema

Sebenarnya sia-sia dan sulit untuk bicara soal teknologi digital secara total. Hal yang lebih menarik adalah biara tentang karakteristik imaji (citraan/gambar) dalam dispositif sinema. Dalam digital, karakteristik imaji adalah sebagai berikut:

  1. Dalam imaji digital, tidak ada perbedaan/penurunan kualitas antara master dan copy. Hal ini berbeda dengan teknologi analog. Ketika kita membuat kopi dalam teknologi analog, maka akan terjadi penurunan kualitas dari master ke copy.
  2. Dalam teknologi digital, data diubah menjadi angka. Angka inilah yang merekonstruksi imaji baik yang ingin tampak semirip mungkin dengan realita maupun fully modified hingga membuat obyek yang benar-benar berbeda.

Dua hal ini mengakibatkan perdebatan antara imaji dan realitas dalam digital tidak lagi relevan. Digital merekayasa sepenuhnya. Digital memungkinkan pembuat film mencapai taraf plastisitas pembuatan film yang sebelumnya hanya dimungkinkan dalam lukisan dan animasi. Digital tidak memiliki keterbatasan. Batas digital adalah daya penyimpanan data (storage).

Dari karateristik ini, kita bisa menyimpulkan bahwa digital bukanlah sinema. Ia adalah kelanjutan dari animasi karena subyektifitas pembuat film dalam digital adalah penuh layaknya pelukis.

Dispositif

Dalam bahasa Inggris, dispositif berarti apparatus (perangkat). Saya akan menggunakan kosakata ini untuk menjelaskan tentang teknologi digital. Baudry menulis tentang apparatus dalam dua makna. Pertama, dispositif adalah mesin mekanik film (kamera, proyektor, layar, dll). Kedua, dispositif adalah segala perangkat yang membentuk proses kepenontonan. Pengertian ini merujuk pada kondisi psikologis yang memungkinkan penonton menonton film layaknya mengintip (voyeur). Contohnya, ruangan yang gelap, tidak adanya suara lain, dll. Pemahaman kedua inilah yang memberi pijakan pada pengertian dispositif sebagai mekanisme mental penonton.

Secara garis besar, dispositive mengacu pada semua diskursus dalam tiap institusi sinema, baik yang eksplisit maupun implisit, yang terkatakan ataupun tak terkatakan. Contoh yang mudah dipahami: perdebatan tentang Ahmadiyah. Ada yang menganggap perdebatan itu menyangkut agama. Sementara yang lain soal ideologi. Itu semua disebut dispositif.

Dispositif yang muncul tentang digital terdiri dari beberapa hal, antara lain:

  1. Film hanyalah produk sains. Jadi perkembangan atas teknologi digital adalah bersifat ilmiah.
  2. Perkembangan zaman mendorong digital muncul. Zaman meminta teknologi yang dapat menangkap gambar bergerak/realitas kontemporer.

Dalam konteks ini, digital sebenarnya bukanlah persoalan film. Ia adalah perkembangan mahaluas yang menyinggung, salah satunya tentang film. Digital ada bukan karena film. Ia lebih besar daripada itu. Digital itu persoalan kemanusiaan. Yang ditantang adalah manusia dalam dimensi sosialnya, bukan hanya pembuat film. Nilai kemanusiaan macam apa? Manusia itu apa? Apakah ia perlu bersosialisasi ketika semua hasratnya bisa terpenuhi? Apakah ketika digital bisa memenuhi seluruh kebutuhannya, ia tidak memerlukan masyarakat?

Diskusi

German Mintapraja
Saya seorang penata kamera dan tertarik dengan isu revolusi kamera digital. Menurut Robert Rodriguez, film telah mati. Di kalangan penata kamera sekarang ini, terutama di Indonesia, sudah jarang orang menggunakan seluloid. Kebanyakan menggunakan kamera digital. Bahkan bagi beberapa orang, digital sudah selesai, sekarang adalah file base era. Jadi data tidak ada bentuk fisiknya. Kondisi ini sangat mengubah proses kerja (work flow) pembuatan film. Namun secanggih apapun teknologinya, tetap yang tidak berubah, yaitu kaidah-kaidah dasar sinema seperti konvensi close-up, high angle, dll.

Sekarang ini muncul DSLR (digital single lens reflex) cinema (contoh: kamera Canon 5D/7D yang sekarang banyak dipakai pembuat film). Dengan DLSR ini ada perubahan yang signifikan dalam profesi penata kamera. Mau jadi sinematografer atau fotografer? Perkembangan ini cukup menarik. Oleh karena itu, saya ingin bertanya tentang bagian akhir presentasi, yakni soal digital dan kemanusiaan. Boleh dijelaskan kemanusianyang seperti apa yang mengalami perubahan?

Mr. SPY

Dalam kasus ini, istilah ‘film is dead’ bukanlah hal yang relevan. Digital dan seluloid adalah dua hal yang berbeda karena karateristik imaji/gambar yang dihasilkannya berbeda. Digital itu ibaratnya seperti penumpang gelap dan berusaha dimasukkan ke dalam wacana sinema, kemudian sinema disuruh ‘nurut’ ke digital. Urusan digital sebenarnya cuma berusaha mencapai kualitas dengan lebih mudah dan murah. Jadi tidak ada urusan dengan kemampuan pembuat film. Yang bisa membuat film mati adalah ketika orang sudah tidak mau membuat film lagi, bukan teknologi digital.

Bicara soal kemanusiaan dan digital, film sebenarnya terlalu kecil untuk bicara itu. Terobosan digital yang paling groundbreaking adalah second life (teknologi penciptaan avatar). Kebayang nggak kalau digital total semacam second life terjadi? Ruang sudah tidak penting. Manusia mungkin tidak perlu berinteraksi secara langsung dengan manusia lain. Dan inilah yang jadi pertanyaan. Apakah manusia sebagai makhluk sosial dan manusia politik masih relevan? Jadi persoalannya adalah kemanusiaan sebagai implikasi.

Henny Septantia

Digital adalah hal penting yang dampaknya terasa, bukan hanya di film, tapi juga hal lain. Saya juga tidak percaya film is dead. Menurut anda apakah isu digital ini sudah sampai ke situasi krisis? Apakah ini sudah mencapai soal krisis kemanusiaan? Ini memang isu besar. Tapi tidak semua isu besar adalah krisis. Kalau ini sudah krisis, apa yang harus dilakukan selanjutnya?

Mr. SPY

Pertanyaan itu hanya jadi relevan kalau post-factum (sudah terjadi). Digital hanya bersifat krisis ketika revolusi digital terjadi secara total. Jika hasrat kita semua sudah terpenuhi oleh kecanggihan digital, kemungkinannya adalah kemunculan pertanyaan seperti apakah manusia butuh orang lain? Apakah manusia butuh pengetahuan lagi?

Veronika Kusumaryati

Menurut saya itu bukan hal yang baru. Contohnya, Facebook, yang awalnya dimaksudkan untuk membuat orang lebih sosial, tapi ternyata malah membuat orang asosial. Itu konsekuensi logis. Tapi persoalannya adalah bagaimana menyikap teknologi digital ini? Bagaimana dengan para pembuat film (imagemaker) menyikapi hal ini? Bagaimana memahami sejarah teknologi sinema?

Teknologi digital adalah teknologi yang ‘direstui’ Hollywood, tapi digital di sini kan hanya menyangkut teknologi HD (high definition), bukan teknologi video digital (yang banyak berkembang di Indonesia). Format bakunya tetap HD. Bagaimana memahami fenomena ini?

German Mintapradja

Saya tertarik dengan pernyataan mbak Henny soal krisis. Menurut saya, digital ini bukanlah krisis kemanusiaan tapi krisis di sinema. Kita kena imbas dari WNI yang karateristiknya pemakai, bukan pencipta. Sekarang setiap orang bisa bikin film tanpa perlu kebutuhan produksi maupun eksebisi yang standar. Akibatnya, nilai film semakin ‘turun’.

Kusen Donny

Kok menurut saya tidak terjadi krisis seperti yang dikatakan mas German. Dulu perkembangan teknologi suara menuruti keinginan penonton yang lebih suka mendengar suara yang sempurna. Tapi sebenarnya, manusia kan tidak biasa mendengar suara yang sempurna. Teknologi pun berubah, mengikuti keinginan manusia. Teknologi dalam hal ini memang membuat lebih murah, tetapi kualitas tetap berbeda, tergantung dari manusianya. Contohnya, di fotografi masih ada orang yang memakai kamera lubang jarum walaupun teknologinya sudah sangat ketinggalan. Selain soal ekonomi, saya tetap melihat ada aspek kemanusiaan. Ketika teknologi sudah sangat canggih, bagaimanapun tetap ada pilihan untuk membuat film dengan seluloid. Ini kan sama dengan kembali populernya polaroid dan kamera lom. Buat saya ini bukan krisis.

Henny Septantia

Saya sepakat dengan mas Donny. Ketika kita menganggap ini sebagai persoalan kemanusiaan, saya sepakat. Tapi ketika kita anggap ini krisis, jangan-jangan kita itu paranoid. Tiap ada perubahan baru kita takut ini akan membawa implikasi buruk ke kehidupan normal. Sungguhkan ini ancaman? Atau ini bagian dari perubahan dunia karena memang waktunya untuk digitalisasi?

German Mintapraja

Yang saya maksud krisis,adalah ketidakjelasan. Ketiadaan tujuan yang sama. Minimal harus ada konvensi yang disepakati. Krisis itu maksudnya: keilmuan sinematografi yang baku dan klasik goyang, serta soal ekonomi yang berhubungan dengan lapangan kerja yang spesifik.

Gatot Subroto

Kalau saya lihat ternyata memang dibutuhkan suatu hukum tertentu mengenai sinema digital. Ketika digital berlaku, tidak satupun sistem di dunia ini aman. Bentuknya kan bukan fisik, tapi informasi dan ini tidak bisa dijaga secara total. Hacker makin canggih. Secara umum, bukan film/celluloid is dead, tapi cinema is not dead. Bisa saja nanti muncul perangkat lunak pembuatan film sehingga semua orang bisa jadi filmmaker. Ketakutannya justru pada nilai eknomi industri. Para produser akan membayar tenaga kerja secara murah karena sudah digital. Aspek kemanusiaan dalam penciptaan kreatif jadi kehilangan nilai ekonomi.

Mr. SPY

Esensinya adalah soal manfaat. Kita pinggirkan dulu soal distopia ini. Ada dua plot dalam perkembangan digital. Di satu sisi ada teknologi Digital Video dan High Definition. Itu hal yang terpisah. DV adalah bagian dari perkembangan video. Yang mau dilawan DV adalah TV. Digital juga kemudian dipakai untuk melawan film-film Hollywood. HD itu jawaban sistem ekonomi sinema. HD membuat sistem yang lebih efisien dalam mendekati sinema.

Dalam perspektif auteur (penciptaan), HD dan DV adalah perkembangan linear karena mereka bisa jadi bagian dari eksperimen gambar. Kalau industri mau standar gambar yang kualitasnya bagus, kita lihat HD dan DV.

Kusen Donny

HD sebenarnya sudah dari tahun 1980-an. Teknologinya berasal dari HDTV. Sekarang ini, HD ingin menggantikan pola pemutaran di layar lebar.

Rina Harahap

Digital merupakan revolusi ekonomi tapi di industri film di Indonesia, pengertian ini menjadi salah kaprah, yakni dengan tidak/kurang menghargai filmmaker dan kru secara layak. Karena digital berarti murah, produser jadi menganggap murah hal lainnya juga.

Henny Septantia

Yang disampaikan Rina dan Gatot soal penghargaan terhadap filmmaker tidak ada urusannya dengan teknologi. Di Jepang teknologi berkembang, tapi standar penghargaan tetap tinggi. Itu soal mental feodal.

German Mintapraja

Saya setuju dengan mbak Henny. Itu hanya senjata para produser untuk menekan biaya dan upah kru. Itu kan jadi strategi para praktisi dalam negosiasi dengan produser. Saya cenderung hanya mau syuting proyek dengan seluloid.

Diskusi selesai.