Pojok Spy

Blog ini berisi tentang kegiatan dan aktifitas, yang bersifat Akademik, Praktisi dan Informasi

  • Home
  • Publikasi
  • Contact
  • Download
Latest Updates

About Me

Foto saya
My Profil
Lihat profil lengkapku

Materi Tulisan

  • Dokumenter
  • Drama TV
  • Editing
  • Lainnya
  • Lighting
  • Lowongan
  • Pencahayaan Produksi
  • Pengumuman
  • Penyutradaraan
  • Perencanaan Prog TV
  • Produksi Berita TV
  • Safety Riding
  • Script Writer
  • Sinematografi
  • Tata Artistik
  • Teknik Kamera
  • Teknologi
  • Tips dan Triks
  • Tulisan

Kategori Tulisan

  • Dokumenter (12)
  • Drama TV (8)
  • Editing (6)
  • Lainnya (24)
  • Lighting (2)
  • Lowongan (9)
  • Pencahayaan Produksi (2)
  • Pengumuman (3)
  • Penyutradaraan (10)
  • Perencanaan Prog TV (4)
  • Produksi Berita TV (4)
  • Safety Riding (1)
  • Script Writer (4)
  • Sinematografi (13)
  • Tata Artistik (9)
  • Teknik Kamera (8)
  • Teknologi (5)
  • Tips dan Triks (24)
  • Tulisan (18)

Link Situs

  • Benarif
  • BSI
  • BSI Radio
  • BSI TV
  • Creative Disc
  • Cyber College
  • Drama Dag Dig Dug
  • Film Pelajar
  • http://romisatriawahono.net
  • http://tvkampus.isi-ska.ac.id
  • Ilmu Komputer
  • Kaskus
  • LPPM Nusa Mandiri
  • Misteri Digital
  • O Channel
  • STBA Nusa Mandiri
  • STMIK Nusa Mandiri
  • The Next Academi

Facebook Badge

Home » Sinematografi
Tampilkan postingan dengan label Sinematografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sinematografi. Tampilkan semua postingan

Mirrorless dan DSLR


Saat mendengar istilah “interchangeable lens camera” (ILC) alias kamera dengan lensa yang bisa diganti-ganti, biasanya yang terbayang adalah kamera DSLR berikut jajaran lensa berukuran besar dan berat.
Tapi tak semua ILC dapat digolongkan sebagai Digital Single-Lens Reflex (DSLR). Dalam beberapa tahun terakhir, telah beredar ILC jenis baru yang ukurannya jauh lebih ringkas. Kategori kamera ini lazim dikenal dengan istilah Mirrorless ILC (MILC) atau untuk singkatnya “mirrorless” saja.

Apa itu kamera mirrorless? Sesuai julukannya yang berarti “tanpa cermin”, mirrorless sejatinya adalah DSLR yang dihilangkan bagian pemantul cahayanya (mirrorbox). 
Tanpa mirrorbox yang berfungsi membelokkan cahaya dari lensa ke jendela bidik optis, ukuran kamera mirrorless bisa dibuat jauh menciut dibandingkan DSLR, sambil tetap mempertahankan kualitas tangkapan gambar dan lensa yang bisa diganti-ganti.

Diagram keluaran Panasonic mengenai perbedaan kamera mirrorless Lumix GF1 dan DSLR Lumix L10. Terlihat mekanisme mirrorbox DSLR terdiri dari cermin utama (main mirror) yang membelokkan cahaya dari lensa ke OVF dan sensor metering (AE Sensor), serta cermin kedua (sub mirror) yang membelokkan cahaya ke AF sensor di bagian bawah kamera untuk melakukan autofokus. Sebaliknya, konstruksi mirrorless jauh lebih sederhana karena cahaya diteruskan secara langsung ke sensor gambar, yang kemudian meneruskan hasil tangkapan gambarnya sebagai preview di layar LCD atau EVF.



Antara mirrorless dan DSLR

Lantaran tak memiliki mirrorbox, kamera mirrorless memiliki sejumlah perbedaan mendasar dengan DSLR di samping bentuknya yang relatif lebih kecil dan konstruksi yang lebih sederhana (tanpa komponen mekanik untuk mirrorbox).
Pertama, mirrorless tidak memiliki jendela bidik optik (OVF, optical viewfinder). Proses pembidikan gambar atau framing dilakukan lewat layar LCD atau jendela bidik elektronik (EVF, electronic viewfinder). 
Cara kerja EVF sebenarnya sama dengan layar LCD, yakni menyalurkan gambar lewat sensor yang terus menerus aktif. Hanya saja penempatan dan ukurannya yang berbeda, yakni dibuat serupa jendela bidik optis untuk “dikeker” dengan sebelah mata.
EVF memiliki kelebihan dibanding OVF, misalnya pengguna bisa langsung melihat  perubahan hasil exposure saat menyesuaikan paramenter seperti aperture, ISO, atau white balance. Bisa pula ditambahkan overlay aneka informasi berguna, seperti level indicator atau histogram untuk memandu exposure. Kekurangannya, EVF lebih boros daya karena kamera harus senantiasa mengaktifkan sensor dan layar jendela bidik supaya pengguna bisa melihat gambar.
OVF pada DSLR menayangkan gambar dari lensa (Through The Lens, TTL) dengan membelokkan cahaya melalui mekanisme mirrorbox dan pentaprisma, seperti tampak dalam area berwarna kuning di gambar kiri. EVF pada mirrorless memiliki cara kerja sama dengan layar LCD, yakni menayangkan gambar yang ditangkap oleh sensor. Hanya saja, peletakan dan ukurannya berbeda.


Pengguna DSLR bisa melihat obyek yang ada di depan lensa (Through The Lens, TTL) melalui OVF saat kamera sedang tidak dinyalakan.
Ini karena mekanisme mirrorbox meneruskan cahaya dari lensa menuju pentaprisma, lalu viewfinder, tanpa harus mengenai sensor.
Sebaliknya, EVF pada mirrorless akan tampak gelap gulita saat kamera tidak menyala. Jika kamera menyala dan sensor aktif, barulah gambar yang "dilihat" oleh lensa bisa ditampilkan di EVF mirrorless. Ketika dipakai membidik melalui LCD, baik mirrorless maupun DSLR (lewat Live View) menggunakan prinsip kerja yang sama, yakni meneruskan gambar yang ditangkap sensor ke layar.






Posted by My Profil at 13.42.00, Add Comment
Read more

Materi gambar 5D dan 7D untuk Program TV


Apa kabar? Ini topik menarik! "Still Camera" Canon 5D + Stabilizer Set, sudah menjadi bagian dari produksi profesional. Benar, produksi Video Klip banyak yang menggunakan 5D dan 7D. Salah satu yang paling populer adalah Video Klip Sarah Bareilles yang diproduksi dengan budget sedikit tapi hasilnya sangat bagus:

Sarah Bareilles
http://www.youtube.com/watch?v=Vht_mMPxW0Q (Preview)
Lalau apakah kamera ini cocok untuk syuting Reality TV? jawabannya, yes and no. Yes, karena kamera ini simple dan tidak menarik perhatian. Kalau syuting ditengah keramaian, suasana reality bisa terbangun dengan wajar. Kelemahan, memang ada pada audio, yang harus direkam terpisah. Beberapa teknik syuting reality menggunakan wireless mic yang dipasang pada objek, lalu direkam terpisah. Agak ribet memang, tapi ini demi kualitas suara yang bagus. Dan supaya mudah untuk sinkronisasikan gambar dan suara, gunakanlah perekaman suara digital, kalau mau mudah, gunakan hand held digital audio recording sejenis Tascam DR07 yang dipasang di objek atau narasumber (misalnya dalam kantong baju atau dijaket), kualitasnya lumayan, tapi kita bisa menggunakan WAV maupun Mp3 yang datanya akurat. Nah, selebihnya ya, memang harus sabar saat editing....

Tascam DR07
http://pro-audio.musiciansfriend.com/product/TASCAM-DR07-Handheld-Digital-Recorder-Limited-Edition?sku=H65526

Compatible dengan Final Cut? ini cerita lama, persaingan antara Mac dan PC. Software Final Cut didirikan oleh Macromedia dan Apple, tujuannya untuk melawan dominasi Avid Video yang merajai dunia post editing di tahun 1990an. Final Cut saat ini sudah menjadi software editing yang dipakai dikampus2x film dan broadcast seluruh Amerika. Bahkan Final Cut Express, dibuat khusus untuk publik dengan harga dibawah $300, sementara Final Cut Pro 7 terus diupgrade setiap setahun sekali. Dan bila tidak meng-upgrade maka tidak compatible dengan produk2x baru Mac. Sebenarnya, dengan sistem Tapeless dan memory Card, kita bisa mengupload data lebih cepat. Caranya? coba buka website Mac, dan cari data2x terbaru untuk software upgrade. Tapi musti diingat, serial number software harus asli bukan bajakan. Kalau punya bajakan, jangan coba untuk meng-upgrade, nanti datanya terbaca, dan bisa ketahuan kalau memakai software bajakan....

Lalu, scale 1920x1080 adalah kualitas HD digital yang paling standard untuk Canon, yang menggunakan CMOS sensor dalam proses digital. CMOS memang khas Canon, gunanya untuk mengukur sensitifitas circuit pixel yang muncul dalam data-2x gambar. Nah, memang, konsep digital ini untuk ditayangkan ditelevisi digital NTSC bukan Pal, sehingga tidak perlu ada penurunan kualitas atau diconvert....

Lalu, buat apa syuting HD kalau ditayangkan kualitas SD? Ini kemajuan digital. Saya sih yakin, Indonesia akan masuk era digital, soon or later.... Saya dengar TVRI sudah masuk digital? berarti tidak ada batasan ranah frekuensi, penyiaran akan semakin canggih. Tapi soal content? belum tentu maju juga...hehehe....

At last, untuk program TV, camera ini cocok untuk format Reality Show, Gimmick Show, atau Fashion Show. Apalagi, kalau ditambahkan dengan GlideCam, wow, kualitasnya keren dan lebih simple daripada steadycam....

Just my 2 cents!
Posted by My Profil at 14.06.00, Add Comment
Read more

Mengenal Chroma Key

Mengenal Chroma Key



Apa itu Chroma key?, Chroma key adalah kunci untuk teknik pencampuran dua atau bingkai foto bersama, di mana warna (atau kecil berbagai warna) dari satu gambar akan dihapus (atau dibuat transparan), menyatakan lain gambar belakangnya. Teknik ini juga disebut sebagai keying warna, warna-pemisahan overlay (CSO; terutama oleh BBC ), greenscreen, dan bluescreen.

Teknik Seperti ini umumnya di gunakan di Program Berita di TV, seperti pembawa acara sedang menyampaikan ramalan cuaca, di sampingnya ada gambar peta, padahal aslinya adalah layar biru / hijau.

Jadi ilustrasinya, pada saat melakukan pengambilan gambar, objek di shooting dengan menggunakan latar belakang warna hijau atau biru kemudian pada proses editingnya backgraound hijau atau biru tersebut diganti dengan background digital lain.

Chroma Key:

Film pertama yg diketahui menggunakan efek Chroma Key adalah film ‘The Thief of Bagdad’ yg di buat Oleh Larry Butler dan memenangi Grammy Award di tahun 1940. Dia menggunakan ‘matte-traveling’ atau bisa di sebut Teknik Chroma Key jaman dulu untuk membuat efek Karpet terbang



Di tahun 1950, Warner Bros dan mantan Peneliti dari Kodak Arthur Widmer mengembangkan Blue screen dan mengadaptasikannya di film ‘The Old Man and The Sea’

Proses pembuatan:

Subjek utama adalah difilmkan atau dipotret dengan latar belakang yang terdiri dari warna tunggal atau kisaran warna yang relatif sempit, biasanya biru atau hijau karena warna-warna ini dianggap sebagai warna terjauh dari warna kulit..

Hijau saat ini digunakan sebagai latar belakang lebih dari warna lain karena gambar sensor di kamera video digital yang paling sensitif terhadap hijau, karena pola Bayer mengalokasikan piksel lainnya ke saluran hijau, meniru mata manusia dan meningkatkan kepekaan terhadap cahaya hijau. Oleh karena itu, saluran kamera hijau mengandung yang bising dan dapat menghasilkan tombol. Selain itu, kurangnya cahaya dibutuhkan untuk menerangi hijau, melainkan karena sensitivitas yang lebih tinggi untuk hijau dalam sensor gambar. Bright juga disukai sebagai latar belakang biru karena mungkin cocok’ untuk warna mata atau barang umum dalam pakaian, seperti celana jeans , atau jas hitam-biru tua. Biru digunakan sebelum memasukkan gambar digital menjadi biasa karena perlu untuk proses optik, tetapi dibutuhkan pencahayaan lebih dari hijau. Namun, bisa juga lebih lanjut dalam spektrum visual dari merah, warna dominan di kulit manusia.


Faktor yang paling penting untuk kunci adalah pemisahan warna latar depan (subjek) dan latar belakang (layar) – bluescreen yang akan digunakan jika subjeknya didominasi oleh hijau (untuk tanaman misalnya), meskipun kamera menjadi lebih sensitif terhadap cahaya hijau. Dalam TV warna digital, warna diwakili oleh tiga bagian (merah, hijau, biru). Chroma key dicapai dengan perbandingan numerik sederhana antara video dan warna yg dipilih sebelumnya. Jika warna pada titik tertentu pada layar cocok (baik persis, atau dalam rentang), maka video pada titik yang diganti dengan latar belakang video alternatif.

Background Chroma Key:


Biru umumnya digunakan untuk program ramalan cuaca dan untuk efek khusus karena merupakan pelengkap untuk warna langit bumi ataupun kulit manusia. Penggunaan warna biru juga berhubungan dengan fakta bahwa lapisan emulsi film biru memiliki kristal terbaik dan dengan demikian detail yang bagus dan sedikit gandum (dibandingkan dengan lapisan emulsi merah dan hijau ) Dalam dunia digital, Hijau telah menjadi warna yang digemari karena kamera digital mempertahankan lebih rinci dalam saluran hijau dan memerlukan cahaya kurang dari biru. Hijau tidak hanya memiliki nilai luminance lebih tinggi dari biru, tetapi juga dalam format digital awal kanal hijau adalah sampel dua kali sebanyak biru, sehingga lebih mudah untuk bekerja dengan warna biru. Pilihan warna terserah para Spesialis efek untuk kebutuhan gambar tertentu. Dalam dekade terakhir, penggunaan hijau telah menjadi dominan dalam efek khusus di film. Juga, latar belakang hijau lebih difavoritkan daripada biru untuk luar syuting dimana langit biru yang mungkin muncul dalam frame dan secara tidak sengaja bisa diganti dalam proses. Meskipun hijau dan biru adalah yang paling umum, warna apapun dapat digunakan. Merah biasanya dihindari karena di area normal pigmen kulit manusia, tetapi dapat sering digunakan untuk benda dan adegan yang tidak melibatkan masyarakat.

Kenapa Harus warna Biru dan Hijau:


Sebenarnya bisa menggunakan warna lain , namun untuk pengambilan objek pada manusia banyak menggunakan warna ini karena kedua warna tersebut tidak ada dalam unsur warna manusia.
Posted by My Profil at 13.19.00, 2 Comments
Read more

Sinematografi Part10

Sinematografi Part10

Candid Camera, Ada Dimana Kameranya ?

Oleh Supriyadi

Kita tertawa begitu melihat ada orang yang gak sadar bahwa dia sebetulnya sudah dikerjain di depan kamera. Spontanitas dari perilaku subyek menjadi hal yang menarik karena ada “kejujuran” yang sudah menjadi barang langka di dunia ini, tapi apakah candid camera benar-benar jujur?

Candid Camera alias kamera tersembunyi, awalnya merupakan nama acara serial televisi yang diproduksi oleh Allen Funt, sebelumnya adalah acara di radio Candid Microphone yang dimulai pada Juni 1947 tahun yang lalu. Setahun kemudian Allen memproduksi untuk acara televisi, ditayangkan untuk beberapa stasiun televisi termasuk pada jaringan televisi kabel (source: wikipedia). Sukses ini ditiru oleh banyak televisi di dunia, dan tentu saja termasuk di Indonesia. Konsep candid camera sudah dipatentkan sama si empunya konsep, artinya jika akan membuat acara yang sama harus minta izin dengan membeli royalti. Alih-alih demikian, yang ada banyaknya yang “nyolong” begitu saja walaupun dengan dalih modifikasi….upsss tapi bukan ini bahasan kita, tentang hak cipta akan menjadi bahasan lain.

Reportase Investigasi

Pada perkembangannya, metode kamera tersembunyi dipakai untuk membuat acara televisi reportase investigasi. Menggunakan konsep ini, karena tidak semua subyek “rela” diliput untuk menjadi bahan tayangan, maka kamera tersembunyi adalah salah satu solusinya. Dengan kamera tersembunyi, target tidak menyadari kalau aktivitas dia sedang direkam. Pengamanan ketat di rumah tahanan Salemba, bisa dengan begitu mudah “diakali” dengan investigasi hidden camera. Pesta narkoba dengan begitu jelas terekam oleh salah satu kamera yg “dititipkan” pada orang yang punya akses di dalam rutan. Video ini sempat ditayangkan di salah satu tv swasta di Indonesia dan mendapat tanggapan yang luas dari penonton. Kenapa kamera bisa lolos dari pemeriksaan petugas rutan? Karena alat perekam audio visual tersebut dibawa dengan cara disembunyikan. Itulah salah satu tehnik investigative reporting, dengan benar-benar melakukan investigasi dalam peliputan pada subyek atau pada nara sumbernya, bukan seperti pada salah satu acara infotaintmen yang punya judul dengan embel-embel investigasi padahal tidak melakukan investigasi samasekali.

Reality Show

Tidak ada catatan yang pasti apakah konsep candid camera ini pertama kali digunakan untuk acara reportase investigasi atau reality show. Tapi lagi-lagi, di televisi Amerikalah pertama kali acara reality show ditayangkan. Tidak semua acara reality show memakai konsep kamera tersembunyi, tapi memang sebagian besar memakai tehnik ini dengan tujuan agar acara lebih kelihatan real. Karena sudah banyaknya acara reality show termasuk di Indonesia yang menggunakan tehnik ini, maka penonton “merasa” bahwa semua reality show menggunakan tehnik candid.

Menyembunyikan Kamera


Secara teknis, saat ini seharusnya tidak sulit sebetulnya untuk menyembunyikan kamera. Jika jaman dulu kamera berukuran besar, sehingga perlu penganan khusus untuk benar-benar menyembunyikan kamera. Kini banyak jenis kamera yang didesain secara compact, kamera ukuran kecil tapi dengan resolusi gambar yang baik.


Kalau dibagi dua dalam hal perencanaannya, ada acara televisi yang terencana dan ada yang “tidak terencana” (unplan). Konsep candid camera sebaiknya direncanakan dengan baik bahkan melebihi dari apa yang biasanya dilakukan pada acara televisi yang terencana lainnya. Kenapa demikian? Karena akan banyak hal yang terjadi yang “tidak terduga” sebelumnya, ini yang dinamakan momen. Jadi, yang perlu diperhatiakan ketika akan memproduksi acara candid adalah bagaimana mensiasati untuk bisa menangkap momen.


Gak seperti halnya shooting dalam keadaan normal, shooting dengan konsep candid camera tentu saja tidak boleh ketauan oleh subyek atau target. Caranya? Yang dengan menyembunyikan kamera tersebut.

Berdasarkan lokasi, maka ada dua jenis tempat yakni dalam ruangan dan luar ruangan. Di luar ruangan atau outdoor, penempatan kamera akan lebih sulit ketimbang di dalam ruangan atau indoor. Penempatan kamera di luar ruang, karena bersifat terbuka maka ada tehnik lain ketimbang bagaimana menempatkan kameranya. Teknis itu yakni penyamaran seoranag cameraman ketika sedang melakukan pengambilan gambar secara candid. Tapi yang paling umum kamera diletakan di dalam tas yang didesain khusus agar kamera tetap bisa melakukan perekaman.


Kamera tersembunyi akan lebih mudah jika dilakukan di dalam ruangan, properti yang ada dalam ruangan bisa dijadikan untuk tempat meletakan kamera. Di ruang tamu, kamera bisa diletakan di antara hiasan yang ada di ruang tersebut. Di dalam kamar, kamera disembunyikan di lampu penerangan kamar. Sedangkan di dapur, kamera bisa diset diantara perabotan dapur.

Menyamar


Yang dimaksudkan penyamaran tentu saja penyamaran yang dilakukan oleh cameraman yang melakukan pengambilan gambar secara candid. Kalau pengambilan gamar dilakukan di sebuah mall maka baiknya cameraman menyamar menjadi salah seorang pengunjung mall demikian juga jika dilakukan di tempat hiburan lainnya. Intinya, dengan penyamaran demikian tidak akan menaruk curiga pada siapapun jika kita sebetulnya sedang melakukan pengambilan gambar bahkan pada target yang kita ambil gambarnya.

Banyak Kamera


Momen tidak akan terulang dua kali, momen harus bisa ditangkap dengan jelas. Maka, biasanya acara dengan konsep hidden camera akan menggunakan lebih dari satu kamera. Dengan menggunakan lebih dari satu kamera, dimungkinkan untuk bisa menangkap semua momen yang terjadi bahkan momen yang tidak terduga.

courtesy : prime media & antv

Posted by My Profil at 07.23.00, Add Comment
Read more

Sinematografi Part9

Sinematografi Part9

Film Satu Shot

Oleh Supriyadi

In film, a shot is a continuous strip of motion picture film, created of a series of frames, that runs for an uninterrupted period of time. Shots are generally filmed with a single camera and can be of any duration. A shot in production, defined by the beginning and end of a capturing process, is equivalent to a clip in editing, defined as the continuous footage between two edits. (wikipedia)


Banyak yang bertanya, kenapa film fiksimini “Berpisah” dari karya fiksimini Acha Chan hanya dibuat dengan satu shot. Kenapa satu shot? Inilah salah satu konsep pembuatan film. Tentang pengertian shot, penjelasan wikipedia di atas cukup jelas. Jadi, yang dinamakan satu shot itu pengambilan satu gambar secara kontinyu tanpa ada interupsi cutting, tanpa ada jeda. Ini merupakan metode awal mula sejarah pembuatan film dimana tehnik editing belum ditemukan.

Tapi ternyata konsep ini menjadi salah satu trend. Tentu saja untuk pembuatan film panjang, sequence shot, atau satu shot ada dalam satu rangkaian adegan cerita. Beberapa video klip menggunakan konsep ini. Bahkan para filmmaker dunia pernah membuat film dengan hanya satu shot saja.

Dalam film “Zerkalo” sutradara Andrei Tarkovsky asal Russia, membuat eksperimen satu shot. Dua anak kecil sehabis makan keluar meninggalkan ruangan meninggalkan meja makan. Botol di atas meja makan terjatuh. Gambar bergerak melewati cermin yang memantulkan gambar dua anak tersebut bediri di depan pintu. Dari ruang berbeda satu anak ke luar menuju halaman belakang. Terlihat seorang perempuan dan laki-laki berdiri melihat gubuk yang terbakar diiringi hujan. Sang anak mendekat untuk ikut melihat kebakaran gubuk tersebut. Dan ini hanya satu shot tanpa terputus.

Tim artistik berperan sangat penting untuk menghidupkan suasana mistis yang diinginkan. Untuk tempat dipilih sebuah ruangan yang diubah menjadi gudang. Ada meja tua di samping jendela dengan barang-barang yang bermakna simbolis di sekitarnya. Lilin, jam klasik, buku, majalah, patung garuda wisnu kencana, topeng, boneka usang di atas bantal dan koran dengan headline; “Penculikan Bayi Makin Meningkat”. Dan yang paling utama adalah klise dan foto.

Dalam film nampak shot dimulai dengan angin yang bertiup kencang mengibaskan tirai dan membuat lilin yang menyala terjatuh lalu membakar klise. Kamera lalu bergerak seakan mencari asal suara tangisan yang berasal dari foto. Untuk lebih dramatis foto dibuat menangis darah. Selain karena ‘air mata’ biasa tidak tampak jelas, ‘tangisan darah’ menyimbolkan kesedihan yang teramat dalam. Foto dibuat khusus untuk film ini, menampilkan sosok perempuan dengan ekspresi ‘misterius’.

Apakah adegan di film ini alami? Tentu saja tidak! Angin yang bertiup berasal dari blower yang dioperasikan oleh kru yang bersiap di balik jendela. Untuk menjatuhkan lilin, angin saja tidak cukup. Maka lilin dililit benang dengan rapi dan kru menariknya di balik jendela. Untuk membakar klise, dengan api lilin saja tentu membutuhkan waktu lama. Maka klise sebelumnya disiram dengan minyak Zippo. Nah, saat kamera bergerak ke arah foto ada kru yang bertugas segera memadamkan api agar seluruh properti tidak habis terbakar. Dari mana asal ‘tangisan darah’? Ada dua orang kru yang sekuat tenaga meniup dua selang yang dihubungkan ke kedua mata di foto tersebut. Cairan darah dibuat dari campuran susu yang diberi pewarna tekstil merah. Agar ‘cairan darah’ mudah mengalir sebelum menyuntikan campuran susu terlebih dahulu disuntikan Altis, sejenis cairan antiseptic yang berfungsi untuk pelumas. Setelah itu kedua orang kru meniup selang kuat-kuat. Butuh kerja keras untuk meniupnya karena selang berukuran kecil dengan panjang 2,5 m. Terbayang kan bagaimana ekspresi kru saat meniupnya?

Tentu saja, untuk mendapatkan satu shot yang diinginkan tersebut dibutuhkan kekompakan tim. Selain sutradara dan cameraman, ada 5 orang kru yang bekerja saat pengambilan gambar. Perlu 8 kali take sampai akhirnya sutradara berteriak ‘Cut! And wrap!’ alias bungkuuusss! Pengulangan yang membuat kami perlu mengganti klise 4 kali dan foto 2 lembar. Ternyata repot ya membuat satu shot saja. Tapi ini repot yang menyenangkan. Tidak percaya?! Silakan mencoba!


Posted by My Profil at 07.30.00, 2 Comments
Read more

Sinematografi Part8

Sinematografi Part8

Waktu saya SMA (sekarang SMU ya ?), di depan teman-teman sekelas saya sering berlaga seolah-olah sedang mengambil gambar/ shooting. Wah….pasti mau jadi cameraman ya ?, komentar teman-teman saat itu. Mungkin malaikat ikut meng-amini, sehingga lima tahun kemudian saya merasakan jadi seorang kameramen. Jadi kali ini bergaya dengan kamera beneran. Menjadi seorang kameramen (benarnya : kamerawan atau penata kamera) sebetulnya tidak terlalu sulit. Benar, banyak teori photographi yang harus dimiliki. Akan tetapi, dengan sering latihan saya yakin andapun bisa menjadi seorang kameramen. Bahkan kameramen profesional sekalipun ! Diantara profesi yg berhubungan dengan kamera (video/film) antara lain, asisten penata kamera, penata kamera, dan penata photographi (director of photograhy). Karena jenis acara banyak sekali, biasanya kameramen memiliki spesialisasi. Ada kameramen dokumenter, talkshow, musik, dan tentu saja ada kameramen berita. Di stasiun televisi, setidaknya ada 2 departemen besar, departemen news & affair dan departemen program (drama & non drama). Dan kameramen berita adalah di bawah departemen news & affair. Di berbagai spesialisasi kameramen tadi, kameramen berita adalah yang paling simpel. Terkadang seorang kameramen berita “diperbolehkan” melanggar kaidah-kaidah teori photographi yang berlaku. Hal ini biasanya karena ada sikon tertentu yg menyebabkan seorang kameramen berita tidak bisa optimal. Namun, kalau saran saya seoptimal mungkin kaidah-kaidah (standard operation/SOP) tersebut bisa dilakukan. Kameramen berita di bagi menjadi dua, kameramen di studio menggunakan kamera studio dan kameramen lapangan atau liputan menggunakan kamera video liputan. Bagaimana seorang kameramen berita bekerja ? Tidak seperti pada pembuatan acara televisi lainnya, untuk liputan berita ke lapangan tidak perlu kru dg jumlah yang banyak. Seorang kameramen hanya ditemani seorang reporter saja. Produser berita memberikan tugas pada tim liputan berita untuk meliput berita yang diinginkan. Kameramen dan reporter menuju lokasi kejadian. Kameramen meliput momen yang terjadi, kalau bisa memenuhi kaidah 5 W + 1 H (who, what, when, where, why, + how). Atas permintaan reporter biasanya kameramen juga mengambil beberapa gambar yang dipandang perlu. Tidak seperti acara lain dimana pengambilan gambar/shooting dilakukan sesuai nazca dan pengarahan sutradara, pada acara berita seorang kameramen harus memiliki inisiatif tinggi dalam setiap pengambilan gambar. Kalau bisa gambar-gambar yang terekam harus edit on camera, hal ini untuk memudahkan dalam pengerjaan paska produksi. Untuk liputan live atau langsung, seminimal mungkin tidak ada kesalahan dalam pengambilan gambar, tentu saja karena dalam siaran langsung tidak bisa retake/diulang. Bekerjasama dg reporter, seorang kameramen harus jeli agar berita yang diliput memiliki nilai lebih. Koordinasi di lapangan juga harus terjaga apalagi terkadang di lapangan sering terjadi rebutan dalam pengambilan gambar. Membuat sudut pandang atau angle yang baik adalah hal utama juga kestabilan dalam handheld kamera. Beradaptasi dengan sikon Sepertinya hal ini sepele, namun hemat saya hal ini sangat penting. Terkadang banyak situasi yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Jika kita tidak bisa berdapatasi dengan situasi tsb bisa berakibat buruk. Pada liputan perang sebagai contoh, kalau kita tidak pintar untuk memilih lokasi maka tidak menutup kemungkinan bisa terjadi hal yang tidak diinginkan. Bekerja dengan cepat Cepat, akurat, dan terpercaya. Demikian motto Liputan 6 SCTV. Seorang kameramen wajib berkerja cepat. Kenapa ? karena nilai berita harus selalu hangat. Jika tidak maka berita liputan yang kita dapatkan jadi basi, keduluan oleh liputan lainnya. Bagaimana kameramen bisa bekerja cepat ? Walaupun dalan liputan berita biasanya tidak banyak persiapan yang dibutuhkan, tapi seorang kameramen berita harus sudah memiliki konsep liputan yang akan dilakukan atau nilai berita apa yang ingin disampaikan. Memahami peralatan Paham dengan peralatan, terutama kamera, adalah point yang penting sekali. Banyak jenis kamera dengan format beraneka ragam memiliki karakteristik berbeda. Seorang kameramen harus paham betul fungsi semua kontrol di kamera. Tentu tidak lucu kalau kameramen kehilangan momen berita penting gara-gara kameramen tersebut susah untuk memfokus kamera atau membuka/menutup iris.

Bahasa Kamera

Bahasa kamera merupakan bahasa standar broadcast internasional. Jadi bahasa ini umum digunakan di stasiun televisi manapun. Shot Orang

ECU : Extreme close-up (shot yang detail)

VCU : Very close-up (shot muka, dari dahi ke dagu)

BCU : Big close-up (seluruh kepala)

CU : Close up (dari kepala sampai dada)

MCU : Medium close-up (dari kepala sampai
perut)

MS : Medium shot (seluruh badan sebelum kaki)

Knee : Knee Shoot (dari kepala hingga lutut)

MLS : Medium long shot (keseluruhan badan)

LS : Long shot (keseluruhan, ¾ sampai 1/3 tinggi layar)

ELS : Extra long shot (XLS), long shot yang lebih ekstrim

Zoom In : Obyek seolah-olah mendekat ke kameraZoom Out : Obyek seolah-olah menjauh dari kamera

Pan Up : Kamera bergerak (mendongak) ke atas

Pan Down : Kamera bergerak ke bawah

Tilt Up : sama dengan pan up

Tilt Down : sama dengan pan down

Pan Kiri : Kamera bergeser ke kiri

Pan Kanan : Kamera bergeser ke kanan

Track In : Kamera track (bergerak) mendekat ke obyek

Track Out : Kamera track (bergerak) menjauh dari obyek

Dolly In : sama track in

Dolly Out : sama track out

Untuk jenis shot yang sering digunakan adalah :

  1. Long Shot atau Full Shot, keseluruhan
  2. Wide Shot atau Cover Shot, keseluruhan obyek dalam adegan
  3. Close Shot atau Tight Shot, kelihatan detail
  4. Shooting Groups of people, bisa single shot, two shot, three shot dst sebagai gambaran keseluruhan.

Jenis-jenis Kamera

Kamera Studio

Kamera jenis ini selain memiliki kemampuan tersendiri juga ada beberapa adjustment yang dikontrol, alat tersebut bernama camera control unit atau lebih dikenal dengan CCU. Seperti system kamera jenis lainnya, kamera studio bertumpu pada pelurusan sirkuit akan tetapi tehnik digital sekarang memiliki pre-set pada semua penyetelan sirkuit terutama pada kamera studio modern.

Karena ukuran kamera studio sangat berat maka kamera studio biasanya terpasang pada dolly agar bisa berpindah atau digeser secara halus.

Kamera Broadcast Portable Kamera jenis ini lebih ramping, cocok untuk digunakan di studio maupun di lapangan. Dengan lensa zoom dan viewfinder yang lebih besar maka kamera portabel juga digunakan di studio produksi. Dan karena lebih ramping disbandingkan dengan kamera studio, unit kamera ini bisa bekerja di lapangan secara langsung. Kamera portabel memiliki semua sirkuit yang dibutuhkan serta memiliki fungsi-fungsi yang otomatis. Kamera jenis ini juga memiliki videotape recorder sebagai bagian dari body kamera. Kamera Ringan atau Lightweight Camera Untuk kebutuhan dilapangan produsen juga membuat jenis kamera yang ringan. Hampir sama dengan jenis kamera portabel namun jenis kamera ini lebih kecil lagi. Bisa digunakan secara hand-held atau memakai tripod. Kamera Kecil Kamera ini lebih populer dengan nama handycam. Jenisnya kecil, dibuat karena untuk pertimbangan harga yang murah. Digunakan untuk home use, handycam banyak dijumpai di pasaran. Sinematrography Elektronik Jenis kamera ini adalah jenis kamera televisi yang didisain dengan karakter yang menyerupai kamera film. Menggunakan tape yang selanjutnya di transfer ke dalam bentuk seluloid.

Bagian-bagian Kamera

Kamera televisi secara normal didisain khusus agar cocok untuk aplikasi tertentu. Sebuah kamera studio misalnya, memiliki viewfinder yang besar agar kameramen bisa dengan mudah mengoreksi fokus secara akurat. Seorang kameramen berita akan lebih nyaman dengan kamera yang kompak karena mudah untuk dibawa walaupun harus berpindah-pindah tempat. Lensa Lensa kamera merupakan “mata” yang berfugsi menerima gambar secara natural. Lensa kamera memiliki peyesuai area, lensa jenis ini disebut lensa zoom., tapi sistim lensa yang fix yang paling banyak digunakan. Beam Splitter (pembagi cahaya) Di dalam sistim tv warna, warna gambar natural sebenanya di bagi menjadi tiga versi identik yakni cahaya berwarna merah, hijau dan biru yang direflesikan dari sebuah subyek. Hal ini bisa dilakukan dengan tiga metode, yakni

  • Dichroic mirror
  • Prisma blok khusus
  • atau Filter bergaris

Tabung Kamera, solid-state image sensors (CCD) Secara sederhana, urutan teratas kamera televisi memiliki 3 tabung yang terbagi atas componen merah, hijau, dan biru pada gambar berwarna. Informasi gambar secara detail dan brightness (luminance) dipancarkan dari gabungan gelombang warna yang diterima. Kini kamera video memiliki CCD yang canggih, sesuai dengan jenis kamera yg dikeluarkan. Viewfinder Letak viewfinder lajimnya berada di paling atas kamera atau berada di samping kiri kamera. Viewfinder memiliki yayar monochrome atau hitam putih, namun kini ada juga yg telah memiliki layar warna. Mounting Mounting kamera adalah bagian paling bawah dari kamera yang berfungsi untuk menyandarkan kamera pada tripod, agar kamera bisa digerakan sesuai keinginan dari kameramen.

Kontrol Kamera

Semua jenis kamera memiliki tiga urutan control :Untuk penyesuaian selama pengambilan gambarPenyesuaian kembali kondisi ketika perubahan diinginkanAtau ketika kamera “didiamkan sendirian”. Pada kamera studio sebagian kontrol distel di CCU yang terpisah dari kamera. Seorang CCU Man akan mengontrol terang gelap serta keseimbangan warna dan lainnya agar gambar yang dihasilkan bisa maksimal. Jadi seorang kameramen akan konsentrasi pada framing saja. Pertanyaanya, bagaimana kalau kameramen menggunakan kamera portabel atau kamera kombo ¿ Siapa yg menadjust setting kamera ¿ Jadi seorang kameramen harus memiliki kemampuan untuk menaddjust atau menyetel setting kamera. Lensa Kamera Lensa kamera adalah mata kamera atau jantung dari kamera itu sendiri, seorang cameraman harus konsen benar. Sistim pada lensa kamera secara normal memiliki tiga penyetelan atau adjustment yang bisa distel secara manual atau semi otomatis. Fokus, penyetelan jarak dimana gambar harus jelas/fokus.f-stop, penyetelan variable diafragma iris di dalam lensaZoom, merubah jarak focal (focal length) disesuaikan berapa banyak pemandangan/ gambar bisa dicapai. Secara keseluruhan yang bisa dilakukan pada control lensa adalah agar gambar atau shot bisa jelas/fokus, gambar bisa memiliki kedalaman atau depth of field yg baik, shot memiliki sudut yang baik, serta “besar kecilnya” gambar yang diinginkan. Sudut Lensa Umumnya layar televisi memiliki proporsi 4:3. Lensa kamera secara normal bisa mengkap gambar dengan proporsi yang sama, 4:3. Hitungan ini menjadi acuan bagaimana agar kita bisa memanfaatkan lens angle atau sudut lensa. Selain lensa yang normal, terdapat juga narrow lens untuk pengambilan gambar yang jauh serta widelens, untuk mendapatkan gambar lebih lebar lagi. Kontrol Zoom Control zoom berfungsi untuk mendekatkan atau menjauhkan obyek. Pada tombol ini terdapat kode W (wide angle) dan T (Telephoto). Jika tombol zoom ditekan di kode W maka gambar atau obyek kelihatan mendekat (zoom in), jika control zoom dg kode T yg ditekan maka obyek akan menjauh (zoom out). Fokus Untuk membuat gambar menjadi fokus, setel atau adjust lensa dg memutar ring fokus. Hal ini juga bisa disesuaikan dengan merubah control zoom. Fokus juga akan jauh lebih mudah jika obyek yg kita shooting memiliki cahaya yang cukup. f-numbers (f-stops) f-stop sebenarnya bisa dihitung. Ini persis seperti pada lensa photo still (tustel). Angka-angka tersebut adalah f/1.4 2 2.8 4 5.6 8 11 16 22 32. Dalam kenyataanya angka-angka tersebut bisa 3.5 4.5 6.3 biasanya digunakan. Sebagai contoh dalam bukaan pertama dari f/8 ke f/4 artinya gambar lebih terang empat kali lipat. Agar kita memiliki depth of field yang baik harus memiliki pencahayaan yang cukup. Exposure dan Iris Orang sering beranggapan kalau gambar yang bagus adalah gambar yang terang. Pada kenyataanya hal ini tidak selalu benar. Yang benar adalah jika obyek memiliki tones yang benar. Dalam kamera standar memiliki auto-iris, kalau fasilitas ini di aktifkan, maka secara otomatis lensa akan menyetelnya, rongga lensa terbuka. Fasilitas auto-iris bermanfaat ketika seorang kameramen harus berpindah-pindah tempat dimana pencahayaan belum tentu sama. Sayangnya, jika fasilitas ini dipakai kadangkala obyek menjadi tidak konstan. Jadi baiknya adalah fasilitas ini digunakan pertama kali, selanjutnya gunakan manual iris. Jika pindah lokasi atau pencahayaan berbeda lakukan dg auto iris kembali, estela itu kembali ke manual.

Jenis-jenis Mounting

Monopod

Tripod Kamera

  • Tripod Collapsible
  • Tripod Pneumatic
  • Tripod Rolling atau Tripod Dolly

Pedestal Kamera

Pedestal Field

Pedestal Studio

Crane Kamera

  • Crane-arm
  • Motorized dolly
  • Large crane

Mounting Khusus

Low shot (Low tripod, high hat, camera sled)

High Shot (Camera clamp, Hydraulic platforms, SkyCam)

Perlengkapan yang harus disiapkan sebelum shooting

Agar tidak ada perlengkapan shooting yang ketinggalan, biasanya dibuat Pre-rehearseal checkout list. Diantaranya :

  1. Preliminaries (kamera dicek apakah hidup ? atau perlu warm up terlebih dahulu)
  2. Kabel Kamera (yakinkan semua kabel bisa berfungsi baik)
  3. Mounting/tatakan kamera
  4. Viewfinder
  5. Cable guards (berfungsi untuk mengamankan kamera)
  6. Lens cap (penutup lensa), agar lensa tidak kena debu dsb.
  7. Focus (cek apakah fokusnya baik)
  8. Zoom (cek apakah zoom bisa berjalan normal)
  9. Batere Kamera
  10. Kaset
  11. Lampu
  12. Microphone

Pustaka :

  1. The Technique Televisión Production, Twelfth Edition, Peral Millerson. Focal Press
  2. The Work of The Motion Picture Cameraman, Hasting Houese
    New York
  3. Video Camera
    Technique, American Cinematograher
Posted by My Profil at 13.13.00, Add Comment
Read more

Sinematografi Part7

Sinematografi Part7

Ada Makna di Balik Shot

Oleh Supriyadi

Melalui unsur verbal dan visual (nonverbal), diperoleh dua tingkatan makna, yakni makna denotatif yang didapat pada semiosis tingkat pertama dan makna konotatif yang didapat dari semiosis tingkat berikutnya. Pendekatan semiotik terletak pada tingkat kedua atau pada tingkat signified, makna pesan dapat dipahami secara utuh (Barthes, 1998:172-173).

Saya setuju dengan tesis yang dikemukanan ahli semiotika dunia Roland Barthes di atas, namun pada tulisan saya kali ini justru akan lebih banyak melihat dari makna pertama utamanya unsur visual (gambar) yakni makna denotatif. Penulis akan mencoba bagaimana makna-makna verbal itu dihasilkan dari sisi praktisi, si pembuat pesan ( sinematografer, videografer, filmmaker, videomaker, broadcaster). Secara spesifik penulis akan mengurai ada makna apa di balik sebuah shot. Ketika kita menonton sebuah film atau tayangan televisi, sebenarnya kita sedang menyaksikan rangkaian shot dalam sebuah scene, dan rangkaian scene dalam sebuah sequence, dan seterusnya hingga kita melihat tayangan atau film secara utuh. Disadari atau tidak disadari sebenarnya penonton telah disuguhi ratusan bahkan ribuan shot yang muncul silih berganti di layar televisi setiap harinya.

Pasti ada pesan yang ingin disampaikan oleh si pembuat dalam menciptakan rangkaian shot-shot tadi, sayangnya tidak semua pesan bisa disampaikan dengan baik dan celakanya hal ini karena ”kesalahan” dari si pembuat pesan. Shot semestinya tidak semata urusan teknis mekanis dan estetis,menyampaikan pesan akan ”berurusan” dengan falsafah, the philosophy of the shot. Wah serumit itukah? mari kita pahami sampai tuntas.

Belum ada kesepakatan tentang definisi yang benar-benar pas tentang apa itu sebenarnya shot. Ketika kita menekan tombol rec atau start sampai kita tekan sekali lagi tombol yang sama, maka itu adalah satu shot. Walaupun hanya satu detik atau bahkan sampai satu jam dari awal sampai akhir, baik bergerak maupun diam.

SHOT SIZE/Type of Shot

Shot size/type of shot atau ukuran shot adalah besar kecilnya subjek dalam sebuah frame.Type of shot itu terdiri atas :

  • ECU : Extreme Close Up (detail shot)
  • VCU : Very Close Up (shot wajah) dari atas kepala sampai dagu
  • BCU : Big Close Up (tight CU, full kepala), wajah memenuhi layar
  • CU : Close Up, dari keapala sampai pundak
  • MCU : Medium Close Up,
  • Knee, 3/4Shot :
  • MLS : Medium Long Shot
  • LS : Long Shot
  • ELS : Extra Long Shot (extereme LS, XLS)

Masing-masing ukuran shot di atas akan memiliki makna yang berbeda-beda ketika diimplementasikan pada pengambilan sebuah gambar/shooting.

Long Shots, secara umum penggunaan shot jauh ini akan dilakukan jika :

  • Untuk mengikuti area yang lebar atau ketika adegan berjalan cepat
  • Ketika subjek
  • Untuk menunjukkan dimana adegan berada/menujukkan tempat
  • Untuk menujukkan progres
  • Untuk menjukkan bagaimana posisi subjek memiliki hubungan dengan yang lain

Medium Shots, type shot seperti ini yang paling umum kita jumpai dalam film maupun televisi. Jenis shot ini adalah paling aman, karena tidak ada penekanan khusus seperti halnya pada Long Shots dan Close Shots. Semua adegan bisa ditampilkan dengan netral di sini.

Close Shots, televisi adalah media close up. Awalnya premis ini karena berkaitan dengan hal teknis. Pertama, acara dengan media televisi harus ditampilkan secara close up karena ukuran televisi yang kecil jika dibandingkan dengan layar di bioskop. Ke dua, berbeda juga dengan bisokop, acara televisi ditonton sambil lalu, akan lebih cocok menampilkan gambar-gambar dengan close shot/padat.

Tapi,yang perlu dipahami juga justru makna-makna yang ditampilkan ketika shot-shot itu dibuat secara close up. Efek close up biasanya, akan terkesan gambar lebih cepat, mendominasi, menekan. Ada makna estestis, ada juga makna psikologis.

MOVEMENT

Terdapat paradoks dalam menciptakan camera movement untuk menghasilkan perubahan visual ketika mencoba membuat invisible movement. Secara teknis hal ini dimaksudkan untuk menghindari bergesernya perhatian penonton. Caranya adalah dengan melakukan pergerakkan kamera yang mengikuti pergerakkan subjek. Tapi yang harus diperhatikan tentu saja adalah tujuan atau motivasi dari pergerakkan kamera itu dibuat. Secara umum, menurut Peter Ward dalam Digital Video Camerawork, motivasi itu antara lain :

  • Untuk menambah interest visual
  • Mengekresikan kegembiraan
  • Meningkatkan ketegangan
  • Memberikan interes pada subjek baru
  • Memberikan perubahan angle/sudut pandang.

Secara khusus, ada dua kaidah dalam mengontrol camera movement, yakni menyesuaikan gerakkan dengan aksi subjek sehingga gerakan kamera akan distimulasi oleh aksi dan yang kedua adanya kebutuhan untuk menjaga komposisi yang baik selama pergerakkan.

Hampir di keseluruhan shot yang ditampilkan dalam film Emergency Room atau E.R. menggunakan konsep ini, dengan demikian efek dramatis tercipta sehingga penonton akan merasakan bagaimana suasana yang sangat dinamis di setiap ruang rumah sakit. Demikian juga di beberapa filmnya Rudy Soedjarwo, walaupun menurut saya masih terasa nanggung. Jadi, apa sebenarnya motivasi Rudy membuat film dengan konsep handheld tersebut ?

ANGLE

Secara mekanis, angle atau sudut pengambilan gambar itu berhubungan erat dengan lensa kamera, baik jenis lensa yang digunakan maupun penempatan kamera itu sendiri. Masih menurut Ward, ruang internal shot sering menonjolkan kualitas emosional dari adegan. Perspektif yang normal untuk membangun shot sering digunakan secara gamblang dan langsung. Tinggi lensa akan mengendalikan bagaimana penonton mengidentifikasi subyek. Lensa rendah akan mengurangi detail level latar belakang dan menghilangkan indikasi antara latar belakang dengan objek. Posisi lensa yang tinggi memiliki efek sebaliknya.

Low Angle

Pengambilan gambar dengan low angle, posisi kamera lebih rendah dari objek akan mengakibatkan objek lebih superior, dominan, menekan.

High Angle

Kebalikan dari low angle, akan mengakibatkan dampak sebaliknya, objek akan terlihat imperior, tertekan

Dengan mengetahui dampak pesan yang akan tersampaikan dari sudut pengambilan gambar ini, diharapan sinematografer atau videografer bisa mengkonstruksi shot-shot yang akan dibuat sesuai dengan pesan apa yang ingin kita sampaikan pada penonton.

Satu sekuens yang sama akan dimaknai berbeda ketika pemlihan angle shot yan berbeda pula. Misalnya adegan demontrasi mahasiswa, rangkaian petama : 1.long shot para demontrans, 2. high angle demonstran teriak-teriak, 3. low angle polisi sedang menggebuki demonstran. 4. high angle demontran kesakitan, sedangkan rangkain ke dua : 1.long shot para demontrans, 2. low angle demonstran teriak-teriak, 3. high angle polisi sedang menggebuki demonstran. 4. low angle demontran.Dalam sekuens pertama, penonton akan memaknai rangkaian shot tersebut bahwa ada demontrasi yang dilakukan mahasiswa, polisi dengan superioritasnya bisa menangani aksi demontrasi itu dengan sikap represif, mahasiswa teretekan. Sedangkan dalam rangkain shot pada sekuens ke dua, penonton akan melihat demontrasi yang dilakukan mahasiswa walapun dijaga oleh para polisi, mahasiswa terlihat superior dan mendominasi bahkan lebih gagah dari para polisi.

Ya, ini baru satu aspek saja yakni dari angle atau sudut pengambilan gambar bisa mengahsilkan efek yang berbeda pada penonton. Jadi, angle menjadi elemen makna atau pesan. Pesan apa yang ingin disampaikan pemberi pesan ?

Secara detail, Ward mengemukan bahwa sudut lensa mana yang dipilih tergantung dari tujuan shot, yang terdiri atas :

  • Menonjolkan subyek prinsip
  • Menyediakan variasi ukuran shot
  • Memberikan kelebihan tambahan terhadap subyek yang dipilih
  • Menyediakan perubahan sudut atau ukuran shot untuk memungkinkan terjadinya inter cutting yang tidak menonjol
  • Menciptakan komposisi shot yang baik
  • Meningkatkan arah mata
Posted by My Profil at 13.02.00, Add Comment
Read more

Sinematografi Part6

Sinematografi Part6

Tehnik Kamera

Oleh Supriyadi

Hand-held merupakan tehnik menggunakan kamera tanpa menggunkana mounting seperti tripod atau monopod. Tehnik ini menggunakan ke dua tangan sebagai bantuan dalam mengoperasikan kamera. Tehnik ini memungkinkan untuk mengurangi/mereduce goyangan atau shake. Gambar di bawah merupakan contoh cara menggunakan kamera tanpa bantuan tripod. Dengan cara ini diharapkan pengambilan gambar akan lebih stabil walaupun pengambilan gambar dilakukan dalam waktu yang lama.

handheld1-web1

  1. Menggunakan ke dua tangan untuk menahan kamera
  2. Posisi kameraman sambil duduk, menggunakan lutut sebagai penahan tangan
  3. Lutut kaki kiri menahan di lantai/tanah, tehnik ini dinamakan kneeling.
  4. Pengambilan gambar dengan cara kamera dipanggul sambil tiarap
  5. Posisi punggung kameraman sambil menyender pada dinding
  6. Menggunakan ke dua siku tangan sebagai penahan
  7. Kamerman menyenderkan salah satu sisi badan pada tembok sebagai penahan
  8. Kaki kanan atau kiri di atas step atau tangga yang lebih tinggi dari posisi kaki lainnya.
  9. Mengggunakan tiang sebagai alat bantu

handheld2-web

Gambar Ilustrasi dari Om Gerald

Posted by My Profil at 12.51.00, Add Comment
Read more

Sinematografi Part5

Sinematografi Part5

TENTANG CROSS SHOT

Oleh Supriyadi

Cross Shot merupakan metode paling umum ketika kita mau membuat sekuens dialog dengan dua subyek. Dengan cross shot, arah pandang mata atau eye direction subyek tertata dengan benar. Jika subyek 1 melihat subyek 2, maka subyek 2 ”harus” melihat subyek 2 sebagai lawan bicaranya.

  1. Buatlah shot master, ke dua subyek yang sedang berdialog diambil, misalnya 30 derajat dari kiri depan, seperti pada Gambar
  2. Buat cover shot pertama, shot subyek pria diambil Close Up, 45 derajat dari kiri depan
  3. Buatlah cover shot ke dua, subyek wanita diambil Close Up, 45 derajat dari kanan depan

kedai-1-web

Shot pertama, master shot

kedai-2-web

Cover Shot 1, Pria

kedai-3-web

Cover Shot 1,wanita

Maka ketika shot-shot di atas digabungkan pada waktu editing, akan menghasilkan rangkaian shot seperti di bawah ini :

kedai-1-web
kedai-2-web
kedai-3-web

gambar-edit
gambar-edit1
Posted by My Profil at 12.50.00, Add Comment
Read more

Sinematografi Part4

Sinematografi Part4

Mengatasi Shot Bermasalah

Oleh Supriyadi

Di lapangan, ketika penata kamera akan melakukan pengambilan gambar, dia harus merencanakan komposisi yang bagus. Terkadang di lapangan hal ini tidak mudah dilakukan, seperti pada Gambar 1 misalnya, ada dua subyek yang memiliki jarak yang cukup jauh padahal kita ingin mendapatkan shot ke dua subyek tersebut. Masalah pertama secara teknis jika jarak lensa kamera dengan ke dua subyek itu jauh, mungkin tidak masalah karena penata kamera bisa mendapatkan shot tersebut. Tapi jika jarak lensa dengan ke dua subyek terlalu dekat maka tidak akan mendapatkan gambar yang diinginkan. Masalah kedua, secara artistik bisa jadi gambar 1 tidak terlalu baik.

hal-97-a-web

Gambar 1

Untuk mengatasi shot bermasalah seperti pada Gambar 1, maka lakukanlah pengambilan gambar seperti pada Gambar 2. Sudut pengambilan gambar pada Gambar 2 dilakukan dengan cara memposisikan kamera pada belakang salah satu subjek. Tehnik ini dinamakan Over The Shoulder atau OTS atau OS.

hal-97-b-web

Gambar 2

Gambar Ilustrasi : Rety Palupi
Posted by My Profil at 12.48.00, Add Comment
Read more

Sinematografi Part3

Sinematografi Part3

Tentang Komposisi

Oleh Supriyadi

Television takes the process much further by making people visually available, and not in the frozen modality of newspaper photographs, but in movement and action.(Fairclough 1995, 38-9).

Jelas di sini bahwa televisi memiliki kelebihan dibandingkan dengan media lainnya. Menurut pakar televisi, John Fiske, bahwa televisi dan film merupakan “teks” yang bisa dibaca. Tentu di sini teks dalam arti yang sangat luas. Setiap yang ditampilkan oleh televisi dan film akan selalu dimaknai oleh penontonnya. Film dan televisi memiliki tiga bentuk, yakni ikon yang terdiri dari suara dan gambar, simbol (dialog dan tulisan), serta indeks sebagai efek dari film itu sendiri.

Televisi merupakan jendela dunia, dan kita percaya bahwa “kamera tidak pernah bohong”. We know of course that ’the dog in the film can bark but it cannot bite’ (Hall 1980, 131). Dulu penonton bisa jadi ketika melihat tontonan baik televisi maupun film sebagai suatu realitas, namun kini penonton sudah sadar bahwa ada “sesuatu” di balik itu semua. Umberto Eco, salah seorang pakar semiotic bahkan mengkritik dengan menyebutkan medium is not “neutral”. Namun siapun tidak bisa dipungkiri, bahwa film dan terutama televisi memiki pengaruh yang kuat pada penontonnya. Dalam opera sabun atau sinetron misalnya, Ien Ang (1985) melihat bahwa karena begitu “dekatnya” cerita opera sabun dengan penontonnya, seolah penonton terwakili oleh actor serta cerita yang ada di tontonan tersebut.

Memahami acara apa yang ditampilkan dalam film maupun televisi memang sangat menarik, ukuran shot, angle, pergerakan subyek, pergerakan kamera, secara sadar atau tidak pasti memiliki arti. Hal ini berarti bukan masalah teknis mekanis saja. Frame, shot, scene, serta sekuens yang memiliki relasi di antaranya yang dikerjakan oleh seorang editor di paska produksi juga memiliki arti. Kalau dalam sebuah karangan, shot berarti kata, scene berarti kalimat, dan sekuens bearti paragraf.

Apakah yang dimaksud komposisi di sini ? sebagian orang mungkin berfikir bahwa komposisi merupakan suatu tindakan seni atau cara untuk merangkai, menata, dan membentuk berbagai unsur yang hendak ditampilkan dalam suatu shot menjadi tampilan yang baik, menarik, dan enak dilihat.

Komposisi yang baik harus terdiri dari unsur-unsur yang tampil menarik dan saling bersinergi. Kesemuanya berpadu menjadi kesatuan yang jelas, selaras dan harmonis. Menurut Gerald Millerson dalam Television Production, ada tiga hal yang bisa dilakukan dalam membuat komposisi gambar, yakni :

  1. Komposisi by Design
  2. Komposisi by Arrangement
  3. Komposisi by Selection

Prinsip Komposisi

Sebenarnya tidak ada aturan khusus tentang komposisi. Apapun yang anda letakan dalam sebuah scene tidaklah terlalu penting. Yang paling penting adalah bagaimana cara anda meletakan benda tersebut. Bagaimana anda mengorganisir gambar sehingga penonton bisa menikmati gambar tersebut. Komposisi shot tidak hanya masalah pengemasan gambar saja, tapi harus diingat bagaimana gambar-gambar tersebut bisa berkesinambungan.

Proporsi Gambar

Tidak ada formula atau rumusan khusus untuk menghasilakn proporsi gambar yang indah, namun beberapa abad silam seniman lukis menemukan formula yang bisa diterima sebagai prinsip dasar panduan membuat gambar yang harmonis. Prinsip dasar ini dinamakan Golden Section atau biasa juga disebut Golden Mean. Pelukis, pemahat serta arsitek telah menggunakan metode ini dalam mengekspresikan gagasannya untuk menghasilkan karya yang indah.

rule-3
Rule of Third

Frame dibagi menjadi tiga bagian baik horizontal maupun vertikal. Menurut teori ini, gambar yang baik adalah ketika salah satu subyek yang kita inginkan berada pada titik pertemuan garis vertikal dan horizontal tersebut.

Kedalaman (Depth) Komposisi

Sering kali kita bosan dengan komposisi gambar terutama ketika melihat subyek statis dalam frame atau tidak ada pergerakan kamera sama sekali. Ada beberapa cara untuk membuat kedalaman dalam gambar, pertama dengan membuat shot dengan menggunakan foreground, yakni subyek lain di depan subyek pertama. Pada Gambar 1, tidak ada unsur subyek sebagai foreground, maka gambar ini kelihatan flat atau datar. Sedangkan pada Gambar 2, ada foreground yakni pohon. Maka pada Gambar 2 lebih kelihatan ada depth atau kedalaman.

hal-91-a-web

Gambar 1

hal-91-b-web

Gambar 2

Gambar Ilustrasi : Rety Palupi
Posted by My Profil at 12.45.00, Add Comment
Read more

Sinematografi Part2

Sinematografi Part2
Edit in-Camera

Oleh Supriyadi

Ada beberapa metode yang bisa digunakan ketika kita akan melakukan penyuntingan gambar atau editing. Namun kalau dibagi dua, pertama penyuntingan gambar bisa dilakukan pada tahapan paska produksi (dan ini paling umum dilakukan), kedua penyuntingan gambar dilakukan pada saat pengambilan gambar, istilah ini disebut edit in-camera.

Pada tulisan kali ini, saya akan mencoba menjelaskan metode yang kedua yang umum disebut edit in-camera. Tidak seperti pada metode pertama, metode edit in-camera memerlukan penanganan khusus. Bisa jadi, dengan metode edit in-camera, tidak akan menghasilkan rangkaian shot sebaik waktu kita melakukan penyuntingan gambar di paska produksi. Namun konsep edit in-camera kadang diperlukan misalnya ketika pekerjaan mengharuskan deadline yang ketat. Jadi, dengan edit in-camera akan mengurangi waktu proses penyuntingan gambar. Berdasarkan pengalaman pribadi serta rekomendasi beberapa expert, berikut adalah poin-poin yang harus diperhatikan ketika kita menggunakan konsep atau metode editing di kamera :

  • Edit on Your Mind, bayangkan sekuens seperti apa yang akan dibuat. Ini sebetulnya hal yang paling pokok ketika kita akan menggunakan metode edit in-camera. Seorang cameraman sudah harus bisa membayangkan bagaimana membuat alur cerita jauh sebelum pengambilan gambar dilakukan.
  • Shot List, daftar shot yang akan diambil pada saat pengambilan gambar atau shooting. Shot list dibuat sedemikian rupa berdasarkan cerita yang akan ditampilkan, dibuat secara linear sehingga akan memudahkan dalam membuat urutan shot yang akan dilakukan.
  • Durasi Shot,tidak ada aturan seberapa lama sebuah shot yang baik dilakukan. Yang paling penting adalah apakah dalam durasi yg kita buat itu informasi sudah tersampaikan pada penonton atau belum.
  • Kontinyuitas, kesinambungan antar shot sangatlah penting. Antar shot akan memiliki kesinambungan jika memiliki beberapa unsur yang sama antar satu shot dengan lainnya. Diantara kesinambungan itu antara lain kesinambungan posisi, gerak, cahaya, warna, dan sebagainya.
  • General to Detail, dalam editing di paska produksi, seorang editor bisa bermain-main dengan posisi atau letak shot yang dalam terminology editing disebut juksta posisi. Tentang shot mana yang pertama disusun dalam satu sekuens dan seterusnya menjadi penting. Salah satunya adalah apakah shot detail terlebih dahulu lalu shot yang umum atau sebaliknya.

Edit in-camera merupakan tehnik pengambilan gambar dalam pembuatan sebuah karya video dimana sekuens akan terlihat secara utuh di layar. Jadi, metode ini hanya cocok untuk pembuatan video tertentu saja misalnya tentang aktivitas yang berlangsung tanpa interupsi cut dari videomaker.

Sebagai gambaran, berikut merupakan contoh sekuens dengan menggunakan metode edit in-camera. “Unjuk rasa besar-besaran mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi di depan gedung KPK, demonstran terdiri dari berbagai unsur organisasi masyarakat. Salah seorang koordinator lapangan pengunjuk rasa mengecam keras semua yang terlibat dalam kriminalisasi KPK”. Shotlist yang bisa dibuat oleh cameraman bisa seperti di bawah ini :

  • Shot 1 : Establish Shot pengunjuk rasa
  • Shot 2 : Medium Shot satu kelompok pengunjuk rasa
  • Shot 3 : Close Up beberapa sepanduk
  • Shot 4 : Medium Close Up beberapa pengunjuk rasa
  • Shot 5 : Close Up wawancara koordinator lapangan
  • Shot 6 : Medium Shot pengunjuk rasa

Shotlist di atas merupakan contoh sederhana yang dibuat cameraman (atau reporter) untuk mempermudah membuat sekuens, yang sudah disusun sedemikian rupa secara linear, dan ini merupakan tyahapan yang harus dilakukan jika akan menggunakan metode edit in-camera.

Teknologi terus berkembang, jika dulu pada video kamera hanya bisa menyimpan rekaman gambar pada kaset/tape dan piringan dvd, kini beberapa kamera sudah menggunakan teknologi tapeless atau tanpa kaset. Ada media penyimpanan lain selain tape yakni hardisk dan memory yang memiliki kapasitas penyimpanan yang besar. Dan teknologi ini memungkinkan penggunaan metode edit in-camera secara teknis. Yakni, seorang cameraman bisa melakukan penyuntingan gambar di kamera. Misalnya, ketika ada shot yang dipikir tidak perlu, shot tersebut bisa didelete, susunan shotpun bisa siatur sedemikian rupa sehingga sesuai keinginan kita dalam merangkai cerita. Teknologi ini memang belum sempurna, tapi bukan hal mustahil ke depannya akan terus diperbaharui, sehingga metode edit in-camera bisa menjadi perpaduan antara konsep editing dan tehnik editing yang sempurna.

Posted by My Profil at 12.42.00, Add Comment
Read more
Langganan: Postingan (Atom)

Postingan Populer

  • Teknologi Live Streaming dari Live-U BackPack
    LiveU merupakan alat live streaming yang cukup populer di Amerika . Biasanya dipakai untuk Sport Live maupun News. However, karena int...
  • Jadi Floor Director itu, Keren!
    [ Oleh : Supriyadi ] Tiga puluh menit lagi on air! Begitu ”perintah” produser setengah jam sebelum siaran langsung sebuah acara telev...
  • Perencanaan Set (FloorPlan, Elevation Plan, Studio Plan)
    Perencanaan set diawali dari memahami kebutuhan naskah dan aspirasi dari sutradara. Perencanaan set sangat berkaitan dengan fasilitas, wakt...
  • KARYA TERBAIK FESTIVAL FILM PELAJAR JOGJA 2011
    Setelah melalui proses penjurian final atas 5 (lima) karya fiksi dan 5 ( lima ) dokumenter yang m enjadi nomine (dari total 75 film) , ...
  • TV Programming
    Tentang TV Programming Oleh Supriyadi Sebagai penonton, kita disuguhi berbagai acara televisi dari waktu ke waktu. Acara-acara itu ...
  • Entertain or Die, Shoot the Details
    "Entertain or Die" atau "Menghibur atau Mati". Loh, kok? Ungkapan ini ditulis oleh Steve Stockman, penulis dan sutra...
  • Digital : Sebuah Dispositif Dalam Film
    Dalam presentasi ini, saya akan membicarakan soal digital dan dispositif. Dua hal ini sebenarnya merupakan isu yang berbeda dan memiliki s...
  • Quiet Quitting
    Pernah dengar istilah quiet quitting? Bukan berarti karyawan diam-diam mengundurkan diri, melainkan mereka tetap bekerja, namun hanya sebata...
  • Associate Producer atau Assistant Producer, Dia Harus Bisa Apa?
    AP di atas maskudnya singkatan dari Associate Producer, sebuah profesi dalam produksi program acara televisi dan film. Nah artikel ini hen...
  • Tips Menjadi REPORTER
    Siapa Itu Reporter? Berdasar arti kata yang berasal dari bahasa asing, “pembuat laporan”. Fungsi Reporter Bayangkan musafir, yang mengembara...

Arsip Blog

  • ▼  2025 (1)
    • ▼  Juni (1)
      • Quiet Quitting
  • ►  2019 (6)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2017 (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2016 (4)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2015 (8)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (3)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (9)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  Mei (1)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2013 (11)
    • ►  November (3)
    • ►  Oktober (4)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (3)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juni (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2011 (30)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (6)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juni (5)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (3)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (7)
  • ►  2010 (47)
    • ►  Desember (2)
    • ►  November (4)
    • ►  Oktober (41)
  • ►  2009 (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2008 (54)
    • ►  Desember (5)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (6)
    • ►  Juli (2)
    • ►  Juni (7)
    • ►  Mei (30)

New Release

New Release

Buku Referensi

  • - Audio in Media, Stanley Alten
  • - Broadcasting Televisi, Supriyadi
  • - Countinuity Editing Premiere, Supriyadi
  • - Dokumenter Televisi, In Docs
  • - How to be A Cameramen, Diki Umbara dan Wahyu Wari Pintoko
  • - Kunci Sukses Menulis Skenario, Elizabeth Lutters
  • - Media dan Teknologi dalam Pembelajaran, Benny A. Pribadi
  • - Membuat Dokumenter TV, Chandra Tanzil
  • - Menjadi Sutradara Televisi, Naratama
  • - Pengantar Jaringan Komputer, Edy V. Haryanto
  • - Tata Artistik dalam sebuah Film, Tim IKJ
  • - Teknik Editing Premiere, ElexMedia Komputindo
  • - Teknologi Informasi dan Komunikasi, Gramedia
  • - Teknologi Multimedia untuk Mahasiswa, Debi S.

My Tweet

Tweets by @spy2adi
Copyright @ AdiSpy 2007. Diberdayakan oleh Blogger.
Design by Supriyadi