Gimmick di Televisi, Bukan Sekadar Pemanis
Posisi Sutradara dengan Monitor

Beberapa bulan terakhir ini saya sedang tidak percaya dengan sebuah monitor saat produksi. Film saya yang terakhir saya selesaikan tanpa melihat monitor. Beberapa kali mengerjakan program-program baru di kantor, saya juga mengabaikan monitor. Saya merasa lebih nyaman untuk mengoreksi acting pemain saya langsung dari sebelah kamera, dengan cara ini juga menuntut saya menjadi lebih percaya dengan kameramen saya. Mungkin hanya karena saya sedang belajar fokus pada sebuah acting, bukan pada mise en scene seperti biasanya. Ditambah juga saya sedang tidak harus mempertanggungjawabkan apa yang saya kerjaankan kepada orang lain.
Cara yang sedang saya gemari ini jelas bukan sebuah cara yang baru, justru cara yang sangat klasik yang selalu dilakukan oleh semua sutradara jaman sebelum ditemukan video sender untuk mengantarkan gambar dari kamera ke sebuah monitor. Karena itulah setiap ada kesempatan bertemu sutradara generasi tua (yang sempat melewati jaman belum bisa memakai monitor), saya pasti tergoda untuk menanyakan hubungan director dan monitor ini.
Senin (31/10/11) kemaren saya kembali berkesempatan bertemu Im Kwon Taek di sebuah acara insan film di bilangan kuningan jakarta selatan.
Me : Dimanakah posisi anda saat menyutradarai film?
Im Kwon Taek : Sebanyak 69 judul film saya selesaikan dengan hanya berada di sebelah kamera, selebihnya (31 judul) saya selesaikan dengan sesekali melihat monitor karena sudah ditemukan fasilitas itu. Saya akui monitor memang sebuah alat yang efektif untuk seorang sutradara mengoreksi gambar. Tapi saya tidak terlalu percaya dengan apa yang saya lihat di monitor. Saya lebih percaya dengan apa yang saya lihat langsung dengan mata saya.
Begitulah tanggapan dari seorang sutradara senior, tapi disarankan bagi generasi baru, yang baru terjun ke dunia sineas alangkah lebih baik untuk memakai monitor dulu sebagai langkah awal pembelajaran dan nantinya silahkan eksplorasi untuk pengalamannya....trims
Persiapan Menjadi Sutradara Part3

Brainstorming sama penulis naskah sudah, mencari pemain lewat casting sudah, lantas persiapan apalagi yang harus dilakukan seorang sutradara ?
Diskusi bareng Kru
Ya, diskusi dengan kru yang lain tidak kalah pentingnya. Salah satunya adalah diskusi dengan Art Director alias Penata Artistik. Beberapa sutradara menyukai dan senang membuat sketsa, ini menjadi bahan yang bisa didiskusikan dengan seorang penata artistik, walaupun bisa jadi sketsanya masih berbentuk elemeter saja. Seorang penata artistik akan memberikan masukan serta gagasan set yang akan dibangun. Sedangkan ide tata artitistik bisa dari seorang sutradara atau art director sendiri. Produser juga biasanya dilibatkan, karena tata artistik akan berhubungan dengan masalah budgeting.
Sutradara juga berdiskusi dengan penata kamera atau D.O.P (Director of Photography). Komposisi, angle, camera movement, didiskusikan secara detail. Beberapa sutradara kadang mengoperasikan sendiri kameranya, semisal sutarada Dimas Jay dan Rudy Soedjarwo dalam beberapa filmnya.
Shooting Schedule
Penjadwalan shooting dilakukan setelah sutradara melakukan breakdown script, dalam hal ini sutradara biasanya dibantu oleh assisten sutradara. Ketika asisten sutradara membuat lay out penjadwalan shooting, satu hal yang menjadi perhatian adalah halaman naskah yang telah diberi penomoran halaman, dimana sutradara dapat melakukan pengambilan gambar/shooting.
Pemilihan Lokasi
Pemilihan lokasi shooting adalah hal penting lainnya. Beberapa film dibuat dengan lokasi sebenarnya seperti yang digambarkan di naskah. Namun, pada kenyataanya terkadang lokasi shooting “harus disesuaikan” dengan budget yang dianggarkan produser. Karena beberapa faktor, lokasi shooting film “Ayat-Ayat Cinta” yang seharusnya dilakukan di Mesir, terpaksa dipindahkan ke India dan beberapa lokasi di Indonesia. Di Hollywood sana untuk urusan lokasi shooting tidak seribet di Indonesia, ya karena mereka memiliki studio yang sangat lengkap pun di India. Misal, untuk setting supermarket mereka tinggal memakai studio bersetting supermarket. Nah kalo di Indonesia? kita tidak punya studio seperti di sana. Untuk shooting dengan setting supermarket tadi di kita ya pakai supermarket beneran. Ya, tentu saja ini pasti membutuhkan penanganan khusus.
Persiapan Menjadi Sutradara Part2

Hal pertama yang dilakukan sutradara ketika akan membuat sebuah film adalah bekerjasama dengan penulis. Di sinilah sutaradara memberikan interpretasi pada naskah yang telah didevelop oleh penulis naskah. Bahkan beberapa sutradara terlibat dalam penulisan kembali naskah tersebut menjadi sebuah final script. Sebelumnya kerjasama bisa dilakukan antara sutradara, penulis, dan produser. Kerjasama ini terjalin dengan istilah tri angle system.
Sutradara Billy Wilder mengatakan “Tidak terlalu perlu seorang sutradara mampu menulis naskah, tapi yang paling penting, sutaradara harus mampu bagaimana membaca naskah . Tidak mudah mengatakan pada seorang penulis, “Apa artinya ini, saya tidak mendapatkan apa-apa dari naskah ini?.“
Melalui pendekatan dan hubungan baik anatara sutradara dengan penulis, menjadikan ke dua profesi ini menjadi satu kolaborasi yang baik pula. Sutaradara bisa menjadi seorang co-writer dan seorang penulis naskah bisa membayangkan bagaimana menyutradari sebuah film. Oleh karena itu tidak sedikit penulis naskah bisa menjadi seorang sutradara. Perbedaan diantara kedua fungsi tersebut justru bisa saling mengisi satu sama lain.
Sutaradara Robert Mulligan mempunyai pendekatan yang berbeda dalam hal ini, “Tidak semua sutradara harus menulis, tapi diharapkan setiap penulis bisa mendirect. Saya tidak menulis kata-kata ke dalam sebuah kertas (naskah), tapi saya berkolaborasi dengan penulis secra efektif dengan cara tahap demi tahap. Ketika dalam film ada sebuah shot, saya perlihatkan pada penulis. Jika penulis punya gagasan serta usulan saya mendegarkannya secara serius. Tapi penulis tahu benar bahwa keputusan ada di tangan saya.”
Melakukan Casting
Film casting is the art behind the art, and it requires an eye and a deep feel for talent or the just the one intuitive perception of that one thespian who is the perfect choice to fill that one role in the film.
Sederhananya casting adalah penentuan pemain berdasarkan analisis naskah untuk diproduksi. Jika sutradara telah menentukan shooting date (tentu saja dengan asumsi telah disepakati bersama produser), concern selanjutnya adalah pada penentuan pemain (aktor) . Betul bahwa ada yang mengurusi soal casting yankni sebuah departemen casting/ casting departement. Tapi dalam banyak proyek film, sutradara terlibat penuh dalam proses casting ini.
Ada banyak metode casting, diantaranya :
1. Casting by Ability
Berdasarkan yang terpandai dan terbaik dipilih untuk peran yang penting / utama dan kesulitan yang tinggi.
Memilih seorang pemain berdasarkan hasil observasi hidup pribadinya, karena mempunyai banyak kesamaan atau kecocokan dengan peran yang dipegangnya (kesamaan emosi, temprament, kebiasaan dll.)
Metode casting seperti ini banyak sekali dilakukan oleh para pembuat film Hollywood.
1. Casting to Tipe
Pemilihan pemain berdasarkan kecocokan fisik si pemain ( tinggi badan, berat badan, bentuk tubuh dll )
2. Anti type Casting
Pemilihan yang bertentangan dengan watak atau fisik, ini menentang keumuman jenis perwatakan manusia secara konvensional sering disebut education casting.
3. Therapeutic Casting
Menentukan seorang pemain atau pelaku yang bertentangan dengan watak aslinya dengan maksud dan tujuan untuk menyembuhkan atau mengurangi ketidak seimbangan jiwanya.
Persiapan Menjadi Sutradara Part1

Tidak seperti sebagian artis, aktor, maupun penulis yang biasanya terlahir dengan bakatnya, seorang sutradara harus mempelajari seni dari pekerjaan yang digelutinya. Melalui apa? yakni melalui :
- Observasi dan tentu saja praktek.
- Sutradara juga bisa belajar dengan cara menonton film-film karya sutradara yang lain.
- Calon sutradara juga bisa belajar dengan memperhatikan cara sutradara lain bekerja di lapangan
- Pengetahuan penyutradaraan juga bisa diperoleh dari membaca buku-buku tentang film atau mengikuti pendidikkan sinematografi bisa berupa kursus atau pendidikan formal
- Satu hal yang pasti, tempat berlatih yang baik bagi calon sutradara adalah industri film itu sendiri. Intinya, terjun langsung dalam dunia film adalah pelatihan terbaik.
Memang tidak begitu banyak institusi pendidikan yang memfokuskan pada sinematografi di Indonesia, beberpaa perguruan tinggi diantaranya ada IKJ (Institut Kesenian Jakarta), ISI (Institut Seni Indonesia) Jogyakarta, dan Next Academy. Lain halnya kalau broadcasting (penyiaran), puluhan perguruan tinggi sudah membuka jurusan ini. Universitas Indonesia, UNPAD Bandung, Univ Moestopo, Sahid, AKOM BSI, Univ Tarumanagara, dan terakhir Univ Pancasila memiliki jurusan Broadcasting. Nah kalau tempat kursus diantaranya, School for Brodcast Media, PPHUI (Usmar Ismail), Diklat TVRI, Broadcast Center UI, dan CMC.
Selain institusi tadi, sutradara Rudy Soejarwo pernah mengadakan pelatihan penyutradaraan, juga Pop Corner yg terdiri dari bberapa sineas muda, terakhir Hanung Bramatyo juga mengadakan semacam pelatihan untu calon asisten sutradara.
Mengikuti pendidikan formal atau kursus bukan jalan satu-satunya, seperti yang diuraikan di atas bahwa ada cara-cara lain. Menonton karya sutradara lain juga penting dan ini juga dilakukan di perguruan tinggi semisal yang dilakukan di University of Southern California dan Academy of Motion Picture Arts and Sciences bahkan di Institut Kesenian Jakarta juga, bahkan menonton menjadi kewajiban mahasiswa. Sutradara Riri Riza menyukai sesi menonton ini yg diwajibkan di mata kuliah Sejarah Film.
Shooting Script & Director’s Treatment

Shooting Script adalah versi lain dari sebuah naskah film yang digunakan dalam proses produksi atau waktu shooting berlangsung. Jadi, antara shooting script dengan naskah (screen play) sebetulnya tidak jauh berbeda. Dalam sebuah shooting script sudah ada “campur tangan” dari sutradara. Biasanya sutradara memberikan catatan mengenai :
- Type of Shots
- Angle
- Camera Movement
Type of shot misalnya : WS, LS,MS,MCU,CU,XCU. Sedangkan angle antara lain : Low Angle, High Angle, Frog View, Over the Sholder(OS). Dan Camera Movement seperti : Zoom In, Zoom Out, Push Pull, Camera Track, Pulls Back.
Pada dasarnya Shooting Script akan sangat membantu untuk seorang penata kamera atau D.O.P serta sutradara itu sendiri. Dengan shooting script akan mempercepat proses shooting atau pengambilan gambar ketimbang melakukan improvisasi di lokasi shooting.
Contoh Shooting Script :
SUPERMAN THE MOVIE
Revised by Tom Mankiewicz
Director: Richard Donner
1 EXT. STREET – METROPOLIS – NIGHT
CLOSE ON a crumpled piece of rubbish lying in the gutter. It is flattened by the wheel of a pushcart. CAMERA PULLS BACK: we SEE a street in a city neighborhood still fighting its way out of The Depression. KIDS play stickball, PEOPLE stand about, out-of-work MEN recline on tenement stoops .
Over this SUPERIMPOSE: METROPOLIS 1938
CAMERA TRACKS UP past a boarded-up store window with a “For Rent” sign on it, PAST trash cans being investigated by foraging dogs, PAST the stoop of brownstone where some care has been taken to keep things clean, PAST the parlor floor where an undershirted MAN argues with a bathrobed WOMAN, PAST the second Floor windows where a YOUNG COUPLE bend over a crib, shaking a rattle and cooing at a new-born BABY wrapped in a pink blanket, UP PAST the roof of the brownstone, higherand higher, PAST the distant skyscrapers: the Chrysler Building, the Fuller building, the great- neon globe symbol atop the Daily Planet Building.
2 EXT. SKY – NIGHT – ANGLE on DAILY PLANET
CAMERA LOOKS DOWN on the Daily Planet Globe. The only sound is the wind. CAMERA TILTS toward the star-filled sky and the full moon, then TAKES OFF.
3 EXT. SPACE
CAMERA SPEEDS through the heavens past the moon, through the Universe, traveling on, gathering speed, further and further through the limitless void until it bursts through into another Galaxy.
Director Treatment
Director’s Treatment merupakan catatan penting bagi sutradara dan ini bisa menjadi style sutradara dalam mendeskripsikan sebuah film. Naskah yang sama akan “diperlakukan” berbeda oleh sutradara yang berbeda. Jadi, treatment merupakan gaya atau konsep penyutaradaraan itu sendiri. Tidak ada patern yang baku dalam pembuatan sebuah treatment. Beberapa sutradara ada yang membuat secara rinci adegan per adegan dalam setiap scene yang akan dibuat. Namun, beberapa sutradara cukup membuat catatan kecil saja. Bahkan sebagian sutradara membuat treatment cukup di “kepala” saja, tanpa menuliskan catatan.
Jadi metode mana yang paling bagus? Point yang paling penting adalah ketika gagasan sutradara bisa diimplementasikan pada adegan maupun dialog yang akan dibuat pada waktu pengambilan gambar/shooting. Dan director’s treatment dibuat untuk mempermudah implementasi tadi. Seperti halnya shooting script, dalam director treatment dibuat sedetail mungkin tentang camera movement, type of shot, serta story telling atau penyampaian cerita.
Contoh Director’s Treatment :
1. PP
Close up of a child’s face. He is biting his pen, thoughtfully.
2. Over the child’s shoulders shot.
A desk, a square exercise book is open, big letters writing on it:
MY CARNIVAL.
3. Detail
The writing hand, we follow the pen leaving the ink trail behind.
Fade.
4. Camera car, tracking back
In a Moscow suburb a blackVolga plods amidst the snow.
5. Camera car, close up
There are two persons in the black Volga.
6. Side shot (right).
In the b.g. the second man is driving: at times he turns toward his mate and looks at him with dislike. The second man wears a sporty jacket and and a pinstripe suit, over a long-sleeved dark T-shirt. He is almost elegant.
7. Side shot (left).
Bagaimana memulai membuat sebuah director’s treatment ? Imagine,..ya ketika anda membaca naskah bayangkan secara visual adegan apa yang akan anda buat. Misalnya, apakah subjek akan anda buat bergerak atau diam ? apakah akan anda buat pergerakkan kamera? Atau bisa jadi kombinasi dua-duanya, anda akan membuat subjek dan kamera bergerak. Bayangkan dalam pikiran anda konsep visual apa yang mau ditawarkan pada penonton, bayangkan anda jika menjadi seorang subjek (pemeran) dan bayangkan juga sebagai pengamat subjek. Untuk urusan type of shot dan camera movement, sebagai sutradara anda juga bisa berdiskusi dengan cameraman atau D.O.P (Director of Photography).
Directing Philosophy

Filosofi adalah kerangka pikiran yang terbentuk sedemikian rupa dalam diri kita dan berfungsi memberi kita ruang bagi semua tindakan yang mungkin kita lakukan. Semakin luas kerangka berpikir itu semakin luas pula wilayah tindakan yang mungkin kita lakukan.
Simpelnya sich seperti itu, tapi waktu saya belajar “Filsafat Ilmu” dari Pak Michael Dua, yg namanya filsafat bisa bikin kepala nyut-nyutan. Filsafat oh filsafat…
Terus apa hubungannya dengan Filosofi Penyutradaraan? Menurut Naratama, filosofi dalam penutradaraan televisi merupakan sebuah daya pemikiran atas nilai-nilai seni visual yang diwujudkan dalam kenyataan visual itu sendiri.
Masih menurut Mas Nara, ada 3 dasar konsep menonton yang harus dipahami oleh Sutradara, yakni :
1. What People Want To See
2. What People Need To See
3. What People Want and Need To See
Kesimpulan saya, dengan memahami hal yang elementer ini, sebagai sutradara kita tidak boleh egois dalam menciptakan sebuah karya. Butuh pembelajaran yg simultan untuk mengetahui apa yang ingin penonton ketahui, apa yang perlu penonton ketahui, dan keduanya.
Matthew Kellen bilang :
Most importantly, I have learned that a director must continuously re-evaluate his or her methodology and keep an open mind to the world around them, both professionally and personally…
Sebetulnya ada buku, judulnya “Filmosophy” karya Daniel Frampton, ini buku keren aja. Sinopsisnya:
“Filmosophy” is a provocative new manifesto for a radically philosophical way of understanding cinema. The book coalesces twentieth-century ideas of film as thought (from Hugo Munsterberg to Gilles Deleuze) into a practical theory of ‘film-thinking’, arguing that film style conveys poetic ideas through a constant dramatic ‘intent’ about the characters, spaces and events of film.
Casting

Casting
Macam – macam Casting :
- Casting by Ability
Berdasarkan yang terpandai dan terbaik dipilih untuk peran yang penting / utama dan kesulitan yang tinggi.
- Casting to Emosional Temprament
Memilih seorang pemain berdasarkan hasil observasi hidup pribadinya, karena mempunyai banyak kesamaan atau kecocokan dengan peran yang dipegangnya (kesamaan emosi, temprament, kebiasaan dll.)
Metode casting seperti ini banyak sekali dilakukan oleh para pembuat film Hollywood.
- Casting to Tipe
Pemilihan pemain berdasarkan kecocokan fisik si pemain ( tinggi badan, berat badan, bentuk tubuh dll )
d. Anti type Casting
Pemilihan yang bertentangan dengan watak atau fisik, ini menentang keumuman jenis perwatakan manusia secara konvensional sering disebut education casting.
e. Therapeutic Casting
dengan maksud dan tujuan untuk menyembuhkan atau mengurangi ketidak seimbangan
jiwanya.
Jadi Floor Director itu, Keren!

Tiga puluh menit lagi on air! Begitu ”perintah” produser setengah jam sebelum siaran langsung sebuah acara televisi. Waktu terus berjalan, beberapa crew masih kelihatan santai. Dua orang cameraman berbincang, entah topik apa yang mereka bicarakan. Make up anchor alias pembawa acara baru saja selesai, si anchor yang kebetulan keturunan Arab cantik itu bergegas menuju studio dengan latar green screen yang memang hanya berjarak beberapa meter saja dari ruang make up.
Lima menit lagi on air! Kali ini giliran program director berteriak. Semua crew sudah standby. Suasana studio masih terasa santai, hingga PD mengucapkan count down : 10.., 9…., 8…, Dan…..salah seorang cameraman teriak ”Heiii….(sensor) baju lu blum dikancingin satu tuhRutinitas terkadang menjemukan, karena rutinitas pula kegiatan yang penting itu bisa menjadi keteledoran. Saat itu paling tidak, ada empat orang crew di studio dan empat orang di sub control, andaikan saja salah satu cameraman gak ngeh dengan kancing baju mbak news caster tadi tentu saja hal fatal akan terjadi. Acara televisi adalah kerja tim, kesalahan satu orang berarti kesalahan tim. Yang paling bertanggung jawab atas kejadian di atas adalah Floor Director.
Siapakah Floor Director ?
Floor Director merupakan pimpinan alias bos di studio, di beberapa stasiun televisi dan production house, Floor Director biasa juga disebut sebagai Floor Manager. Floor Director adalah kepanjangan tangan dari Program Director/PD (tentang Program Director nanti akan kita bahas tersendiri). Floor Director mendengarkan perintah PD melalui sistem komunikasi intercom dari control room. Ibarat anggota tubuh, seorang FD menjadi telinga, mata, dan mulut seorang PD. Tugas utama seorang Floor Director adalah berkomunikasi dengan talent/pengisi acara. Dalam acara siaran langsung di studio, FD memiliki otoritas terakhir.
Sebelum produksi dimulai alias di pra produksi, seorang Floor Director harus memahami rundown terlebih dahulu. Jika ada perubahan dalam rundown, maka sebagai pemimpin di studio, FD harus segera mengkomunikasikannya dengan seluruh kru yang ada di studio. Juga jika ada perubahan yang melibatkan anchor misalnya, maka FD secepat mungkin memberitahukan pada anchor tersebut. Andrew Utterback dalam bukunya Studio-Based Television Production and Directing, menyarankan agar seorang FD memiliki semua pengetahuan hal teknis yang ada di studio, karena jika diperlukan FD bisa ”menggantikan” posisi tersebut.
FD dengan Crew di Studio
Komunikasi
Sekali lagi tentang masalah komunikasi. Komunikasi antar FD dan talent harus terjalin sejak sebelum produksi dan ketika produksi itu berlangsung. Misalnya ketika talent sudah berada di posisi yang baik, FD harus meyakinkan bahwa posisi clip on yang dikenakan talent sudah terpasang dengan baik. Atau ketika pengisi acara ”salah melihat kamera” maka FD harus segera memberitahukan talent tersebut untuk melihat ke arah kamera yang diinginkan. FD harus berperan aktif agar pengisi acara merasa nyaman dan akhirnya terlihat baik ketika berinteraksi dengan kamera. Ketika talent sudah berada pada blocking set, FD selalu berkomunikasi dengan crew yang ada di studio jika misalnya ada perubahan blocking pada talent.
Cuing Talent, Cuing Studio Crew
Jika pada saat produksi belum berlangsung, FD bisa memberikan arahan dengan bahasa verbal, maka tidak halnya ketika produksi berlangsung. FD memberitahukan semua perintahnya dengan cue alias tanda. Memberita tanda atau isyarat pada para pemain dan kru di studio harus dilakukan seefisien mungkin, sehingga talent dan juga crew faham betul dengan isyarat yang diberikan FD.
Command Hand :
Bahasa non verbal, seperti isyarat tangan, banyak dilakukan oleh Floor Director untuk memberi isyarat, baik pada crew yang ada di studio maupun pada para pengisi acara atau talent. Command hand sudah sangat lazim dipergunakan dalam produksi acara televisi di studio, bahkan command hand sudah menjadi kesepakatan umum di stasiun televisi mana saja.
Artikel ini saya tulis menjelang satu jam sebelum shooting, nanti saya lanjutkan lagi ya….
Referensi :
Studio-Based Television Production and Directing, Andrew Utterback
Television Production, Gerald Millerson
Crew Produksi

Asst. Director :Seorang asisten sutradara film yang memperhatikan administrasi, hal yang penting sehingga departemen produksi selalumengetahui perkembangan terbaru proses pengambilan film. Ia bertanggung jawab akan kehadiran aktor/aktris pada saat dan tempat yang tepat, dan juga untuk melaksanakan instruksi sutradara.
Art Director :Pengarah artistik dari sebuah produksi
Asisten Produser :Seorang yang membantu produser dalam menjalankan tugasnya
Broadcaster :Sebutan untuk seseorang yang bekerja dalam industri penyiaran
Best Boy :Asisten Gaffer atau asisten Key Grip.
Boom Man :Seorang yang mengoperasikan mikrofon boom.
Booth Man :Operator proyektor film. Orang yang bekerja dalam ruang proyeksi.
Camera Departement :Bertanggung jawab untuk memperoleh dan merawat semua peralatan kamera yang dibutuhkan untuk memfilmkan sebuah motion picture. Juga bertanggung jawab untuk penanganan film, pengisian film, dan berhubungan dengan laboratorium pemrosesan.
Cameraman :- First Cameraman sering disebut sebagai Penata Fotografi (Director of Photography) atau kepala kameramen, bertanggung jawab terhadap pergerakan dan penempatan kamera dan juga pencahayaan dalam suatu adegan. Kecuali dalam unit produksi yang kecil, Penata Fotografi tidak melakukan pengoperasian kamera selama syuting yang sesungguhnya.- Second Cameraman sering disebut sebagai asisten kameramen atau operator kamera, bertindak sesuai instruksi dari kameramen utama dan melakukan penyesuaian pada kamera atau mengoperasikan kamera selama syuting.- First Assistant Cameramen sering disebut Kepala Asisten untuk pada operator kamera. Seringkali bertanggung jawab untuk mengatur fokus kamera (untuk kamera film)- Second Assistant Cameraman, menjadi asisten operator kamera.
Cinematographer (Sinematografer) :Penata Fotografi. Orang yang melaksanakan aspek teknis dari pencahayaan dan fotografi adegan. Sinematografer yang kreatif juga akan membantu sutradara dalam memilih sudut, penyusunan, dan rasa dari pencahayaan dan kamera.
Costume Designer :Orang yang merancang dan memastikan produksi kostum secara sementara maupun permanen untuk sebuah film.
Dialogue Coach or Dialogue Director :Orang dalam set yang bertanggung jawab membantu para aktor/aktris dalam mempelajari kalimat mereka selama pembuatan film. Mungkin juga membantu pengaturan dialog.
Director : Orang yang mengontrol tindakan dan dialog di depan kamera dan bertanggung jawab untuk merealisasikan apa yang dimaksud oleh naskah dan produser.
Editor :Sebutan bagi seseorang yang berprofesi sebagai ahli pemotongangambar video dan audio.
Editorial Departement :Divisi dimana semua potongan film yang telah dihasilkan digabungkan sehingga membentuk urutan yang koheren, kadang dengan bantuan asisten sutradara atau produser.
Electric Departement :Bertanggung jawab terhadap penjagaan dan penyediaan segala alat elektrik. (misalnya: lampu, kabel, dan lain sebagainya) untuk kebutuhan film.
Engineering :Sebutan dalam pengerjaan dan pembagian kerja dalam masalahteknis penyiaran
Film Loader :Pengisi Film. Anggota tim kamera kadang adalah asisten kameramen yang mengisi film yang belum diekspose ke dalam magazine dan mengeluarkan film yang telah diekspose.
Floor Director :Seseorang yang bertanggungjawab membantu mengkomunikasikankeinginan sutradara dari master control ke studio produksi
Gaffer :Pemimpin electrician yang bertanggung jawab di bawah Director of Photography mengenai pencahayaan set. berbagai bentuk dan ukuran.
Green Departement : Bertanggungjawab untuk menyediakan pepohonan, semak, bunga, rumput, dan benda-benda hidup lainnya baik yang asli maupun buatan.
Hairdresser : Spesialis penata rambut untuk film. Seorang hairdresser mungkin bekerja dengan penata rambut laki-laki maupun perempuan.
Hairdresser Departement : Bertanggungjawab atas kebutuhan rambut asli maupun wig untuk para aktor dan aktris.
Key Grip : Orang yang memimpin para pekerja grip.
Make-Up Departement :bagian yang bertanggung jawab terhadap penampilan aktor/aktris agar sesuai dengan kebutuhan skenario pada saat syuting.
Music Departement : Bertanggungjawab dalam pengaturan atau menyediakan musik yang akan digunakan dalam film.
Producer : Sebutan ini untuk orang yang memproduksi sebuah film tetapi bukan dalam arti membiayai atau menanamkan investasi dalam sebuah produksi. Tugas seorang produser adalah memimpin seluruh tim produksi agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan bersama, baik dalam aspek kreatif maupun manajemen produksi dengan anggaran yang telah disetujui oleh executive producer.
Production Departement : Bagian yang menentukan batasan biaya dan menangani persiapan dan pelaksanaan atas segala keperluan dalam sebuah produksi.
Production Assistant : Bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi dilapangan selama proses produksi.
Production Unit : Terdiri dari sutradara, kru kamera, kru tata suara, bagian listrik dan semua orang yang diperlukan dalam suatu produksi.
Prop Man : Bertugas untuk memastikan bahwa properti ada ditempat yang seharusnya pada saat dibutuhkan untuk suatu produksi.
Research Departement : bagian riset yang terdiri dari orang-orang yang menilai otentisitas artikel, benda, kostum.
Script Supervisor, Script Clerk : Bertanggungjawab untuk mencatat seluruh adegan dan pengambilan gambar yang diproduksi. termasuk semua informasi yang diperlukan seperti durasi, arah gerakan, penagrahan mimik wajah, penempatan aktor/aktris dan properti, serta gerakan fisik yang harus disesuaikan aktor/aktris dalam semua cakupan yang berurutan untuk kemungkinan pengambilan gamabr ulang. Semua informasi ini dimasukkan dalam salinan naskah milik supervisi naskah dan digunakan oleh editor ketika tahap editing. Dalam salinan ini juga dimasukkan catatan dari sutradara untuk editor.
Still man, Photographer : Bertanggungjawab atas publiitas dan pembuatan foto set serta lokasi. Dapat juga digunakan pada kesempatan tertentu.
Transportation Departement :Bertanggungjawab terhadap semua kendaraan yang digunakan oleh kru dan pemain selama syuting berlangsung. Dalam hal ini termasuk antar dan jemput kru atau pemain.
VTR Man : Orang yang mengoperasikan VTR (Video tape Recorder) selama proses pembuatan acara televisi.
Wardrobe Departement : Bertanggungjawab atas pemilihan kostum yang akan dipergunakan untuk produksi.
