Latest Updates
Tampilkan postingan dengan label Penyutradaraan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyutradaraan. Tampilkan semua postingan

Gimmick di Televisi, Bukan Sekadar Pemanis


“Ah hidup kamu kebanyakan gimmick!” Barangkali pernah mendengar seloroh seperti itu ketika seseorang mendapati kepura-puraan atau sesuatu yang dianggap serius padahal sebenarnya sekadar bercanda. Kata “gimmick” kini menjadi populer di masyarakat, yang sebelumnya kata ini hanya digunakan di kalangan orang hiburan, orang-orang di balik atau yang tampil di televisi utamanya.

Gimmick merupakan cara untuk menarik perhatian penonton dengan beragam cara seperti membuat adegan khusus, dandanan yang khas, musik, yel-yel, nyanyian, atau aktifitas lainnya. Gimmick juga bisa dilakukan dengan pergerakan kamera tertentu atau dilakukan saat editing. Karenanya gimmick dimaksudkan untuk menghibur, membuat penonton berdebar-debar, atau mendapatkan kejutan. Seringkali gimmick dibuat seperti tak ada hubungannya dengan inti sebuah acara. Namun itu semua tentu dengan tujuan penonton akan menyukai acara tersebut.
Bagaimana Gimmick Dibuat?
Sukses atau gagalnya gimmick pada acara televisi sangat tergantung dari banyak hal. Dan ketidakberhasilan gimmick kerap ditemui karena si kreator gimmick tidak membuat secara serius sedari awal. Gimmick bisa saja dibuat secara spontan, namun spontanitas demikian rentan pada kegagalan. Jadi sebaiknya gimmick memang sudah dirancang dan direncanakan terlebih dulu, yang di atas kertas keberhasilan gimmick sudah bisa diukur. Gimmick walalupun sedari awal goalnya adalah membuat perhatian penonton, secara spesifik ia harus punya tujuan jelas. Artinya untuk apa gimmick itu dibuat karena sekadar mendapat perhatian penonton saja tidaklah cukup. Tim kreatif sebagai pembuat gimmick sebagai bagian dari acara, ia harus melakukan riset terlebih dulu. Pertama tentu saja ia mesti benar-benar paham tentang program acara yang sebelumnya sudah dirancang. Kedua, pada bagian mana gimmick itu nantinya dipakai; awal acara, di tengah-tengah acara, di ujung segment, atau di ujung acara. Gimmick bisa juga dibuat beberapa kali, kebutuhan seberapa banyak gimmick ini termasuk yang disiapkan dari awal. Ketiga, buatlah rancangan gimmick apakah ia akan tertuang dalam bentuk script, yang berarti nantinya cast akan menggunakan monolog atau dialog. Semi script, yang berarti dibuatkan sript sebagai panduan saja, pemain tak benar-benar menggunakan sript sebagai acuan utama yang berarti pemain bisa mengubah itu namun inti dari yang dimaksud script sebagai gimmick itu bisa tercapai. Atau unscripted, benar-benar tanpa script, pemain melakukan adegan atau dialog berdasar catatan khusus dari tim kreatif. Terakhir, gimmick sebaiknya disimulasikan terlebih dulu dengan tujuan untuk mengukur apakah konsep gimmick yang telah dirancang itu bisa diterapkan dengan baik atau tidak. Seringkali gimmick bisa dijadikan ciri khas pada sebuah program. Artinya gimmick bisadipatenkan menjadi sesuatu yang ditunggu oleh penotnton, kejutan yang kehadirannya dinanti oleh pemirsa. Namun demikian, walaupun akan dibuat pasti dalam setiap episodenya dan telah menjadi ciri khas, gimmick seperti ini pun tetap mesti dipersiapkan. Kegagalan justru hadir karena ketidaksiapan materi gimmick yang sudah dianggap rutin tersebut.

Personalitas dalam Gimmick
Dalam program The Tonight Show misalnya, Jimmy Fallon membuat gimmick kompetisi nyanyi serta sketsa sementara dalam Jimmy Kimmel Live! host Kimmel senang menirukan tingkah para selebriti. Gimmick kerap bisa menempel pada seseorang entertainer, ia akan menjadi ciri khas sendiri pada akhirnya. Apakah itu serta merta terjadi demikian? Tentu saja tidak, sebab gimmcik yang ia dan tim kreatif ciptakan telah melewati rangkaian seperti uraian bagaimana gimmick tercipta di atas. Ketika gimmick yang menyangkut personalitas ditiru oleh lainnya maka penonton akan mudah menengarai kalau gimmick itu orisinil lagi, ini berarti para pengikut atau yang berusaha meniru para pendahulu tidak akan sukses seperti orang-orang yang ditirunya.
Gimmick yang melekat pada personal tertentu nampaknya masih jarang pada cast di Indonesia, walaupun tentu ada. Komedian Haji Bolot misalnya, ia memiliki ciri khas yang kurang dalam pendengaran, sehingga kerap kreatif memasukan unsur gimmick“ketulalitan” Pak Bolot ketika ia menjadi pemain dalam program televisi. Gimmick yang disematkan pada personal tertentu bisa saja dibuat oleh tim kreatif sehingga kehadiran cast tersebut sudah bisa memancing kejutan dan gelak tawa misalnya. Person lain yang bisa dibuat sebagai gimmick biasanya ada pada kicker atau samsak, sehingga walaupun kehadirannya hanya selewatan saja sudah akan menajdi hiburan tersendiri. Sayangnya model samsak seperti ini masih menggunakan slapstick sebagai ciri khas atau adegan-adegan yang dianggap “kasar”.
Pendatang baru Gilang Dirga, rupanya melihat peluang ini. Ia bisa menirukan berbagai suara para pesohor di negeri ini dari mulai suara Presiden Joko Widodo, Gubernur Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, hingga suara Mario teguh. Kepaiawaian dia dalam menirukan beberapa penyanyi seperti Anang Hermansyah hingga Cakra Khan juga menjadikan produser beberapa acara televisi mengundang dia untuk menjadi bintang tamu khusus, dimainkan beragam gimmick atas kemampuan peniruan tersebut.
Gimmick dengan Audio
Audio sebagai bagian penting dari pertunjukan juga bisa menjadi tool sebagai bahan gimmick. Sound effect tertentu misalnya, dapat dibuat untuk gimmick yang akan menjadikan adegan menjadi lucu, menegangkan, atau meriah. Musik dan sound effect untuk keperluan gimmick bisa dibuat sebelum shooting, saat hooting, atau saat editing. Namun yang jelas, musik atau sound effect tersebut harus dibuat konsep terlebih dulu. Artinya ketika nantinya dibuat spontan sekalipun saat shooting misalnya, konsep itu sudah ada jauh sebelumnya. Konsep ini penting agar musik atau sound effect yang dibuat nantinya tidak asal-asalan atau sekadar filler yang bisa jadi justru akan menganggu sebuah adegan atau dialog dalam pertunjukan.

Membuat Gimmick di Edting
Sebagai tahap akhir dalam produksi, gimmick ada kalanya bisa dilakukan saat penyuntingan gambar atau editing. Pada tahap ini editor (tentu atas arahan produser atau tim kreatif) melakukan editing tertentu dengan tujuan sebagai gimmick. Ada banyak cara di sini, tergantung dari konsep serta hasil akhir seperti apa. Misalnya dibuat adegan slow motion atau fast motion dengan efek suara atau musik yang mendukung. Maka bisa jadi nantinya penonton akan melihat adegan tersebut menjadi lucu.
Pada tahap paska produski juga bisa membuat VT (video tape) atau materi yang nantinya akan diputar sebagai salah satu bagian dari show. VT ditonton oleh bintang tamu yang hadir di studio. Yang artinya sedari awal VT tersebut didesain sebagai gimmick, yang kemunculannya diatur sedemikian rupa, dituangkan ke dalam rundown program.
Mystery Guest dalam Talkshow
Pada acara talkshow seringkali formatnya sudah baku, acara dipandu oleh host dengan menghadirkan beragam bintang tamu. Agar tidak monoton, tim kreatif melakukan pelbagai cara dengan tujuan agar acara tidak terlampau serius. Gimmick dalam satu acara tentu akan berbeda dengan acara lainnya, gimmick dengan melihat format acara yang dipakai menjadi salah satu pertimbangan. Sebab misalnya, gimmick untuk acara talkshow bisa jadi berbeda dengan acara variety show.
Pada acara talkshow, bisa dibuat gimmick agar bintang tamu mendapatkan surprise. Ya kata “surprise” menjadi salah satu kunci. Bagaimana agar bintang tamu utama benar-benar mendapatkan kejutan. Maka dihadikannya guest star bisa jadi akan menimbulkan usur surprise tadi. Guest star yang dimaksud bisa jadi orang yang dianggap paling dekat dengan bintang tamu. Maka tentu saja bintang tamu akan terkejut jika mendapati orang terdekatnya dihadirkan. Gimmick seperti ini seringkali sukses, karenanya produser dan tim kreatif acara talkshow membuat gimmick dengan mystery guest yang telah disiapkan, dihadirkan berdasar riset terlebih dahulu tentunya.

Inovasi Tim Kreatif
Setelah script, sepertinya gimmick merupakan hal paling sulit dikerjakan oleh tim kreatif untuk nantinya dituangkan ke dalam bentuk rundown. Atau bisa jadi membuat gimmicklah bagian tersulit itu. Tak jarang gimmick yang mestinya menjadi andalan dalam sebuah acara justru menjadi garing karena konsep gimmick yang tidak dibuat secara matang. Bagaimana agar gimmick yang tertuang dalam bentuk konsep bisa diaplikasikan saat shooting juga hal paling penting lainnya. Agar tidak terjadi mispersepsi, maka gagasan ini dipaparkan oleh tim kreatif pada produser saat gimmick akan dibuat serta dijelaskan pada pengarah acara dan floor director.
Ada beberapa faktor yang saling menunjang satu sama lain sehingga gimmick akhirnya bisa menjadi bagian show yang menarik; konsep yang menarik, inovatif tidak itu-itu saja, dan sesuatu yang fresh. Yang terakhir inilah menjadi concern tim kreatif. Artinya harus terus berinovasi menciptakan hal baru, bukan sekadar meniru gimmick-gimmick yang telah ada sebab peniruan demikian akan menghasilkan sesuatu yang membosankan. Agar gimmick memiliki ciri khas, tim kreatif bisa membuat gimmick yang hanya ada pada acara yang ia buat saja, tidak ditemukan pada acara lain atau acara serupa lainnya.


Posisi Sutradara dengan Monitor

Posisi Sutradara dengan Monitor


Beberapa bulan terakhir ini saya sedang tidak percaya dengan sebuah monitor saat produksi. Film saya yang terakhir saya selesaikan tanpa melihat monitor. Beberapa kali mengerjakan program-program baru di kantor, saya juga mengabaikan monitor. Saya merasa lebih nyaman untuk mengoreksi acting pemain saya langsung dari sebelah kamera, dengan cara ini juga menuntut saya menjadi lebih percaya dengan kameramen saya. Mungkin hanya karena saya sedang belajar fokus pada sebuah acting, bukan pada mise en scene seperti biasanya. Ditambah juga saya sedang tidak harus mempertanggungjawabkan apa yang saya kerjaankan kepada orang lain.

Cara yang sedang saya gemari ini jelas bukan sebuah cara yang baru, justru cara yang sangat klasik yang selalu dilakukan oleh semua sutradara jaman sebelum ditemukan video sender untuk mengantarkan gambar dari kamera ke sebuah monitor. Karena itulah setiap ada kesempatan bertemu sutradara generasi tua (yang sempat melewati jaman belum bisa memakai monitor), saya pasti tergoda untuk menanyakan hubungan director dan monitor ini.

Senin (31/10/11) kemaren saya kembali berkesempatan bertemu Im Kwon Taek di sebuah acara insan film di bilangan kuningan jakarta selatan.

Me : Dimanakah posisi anda saat menyutradarai film?

Im Kwon Taek : Sebanyak 69 judul film saya selesaikan dengan hanya berada di sebelah kamera, selebihnya (31 judul) saya selesaikan dengan sesekali melihat monitor karena sudah ditemukan fasilitas itu. Saya akui monitor memang sebuah alat yang efektif untuk seorang sutradara mengoreksi gambar. Tapi saya tidak terlalu percaya dengan apa yang saya lihat di monitor. Saya lebih percaya dengan apa yang saya lihat langsung dengan mata saya.

Begitulah tanggapan dari seorang sutradara senior, tapi disarankan bagi generasi baru, yang baru terjun ke dunia sineas alangkah lebih baik untuk memakai monitor dulu sebagai langkah awal pembelajaran dan nantinya silahkan eksplorasi untuk pengalamannya....trims

Persiapan Menjadi Sutradara Part3

Persiapan Menjadi Sutradara  Part3

Brainstorming sama penulis naskah sudah, mencari pemain lewat casting sudah, lantas persiapan apalagi yang harus dilakukan seorang sutradara ?

Diskusi bareng Kru

Ya, diskusi dengan kru yang lain tidak kalah pentingnya. Salah satunya adalah diskusi dengan Art Director alias Penata Artistik. Beberapa sutradara menyukai dan senang membuat sketsa, ini menjadi bahan yang bisa didiskusikan dengan seorang penata artistik, walaupun bisa jadi sketsanya masih berbentuk elemeter saja. Seorang penata artistik akan memberikan masukan serta gagasan set yang akan dibangun. Sedangkan ide tata artitistik bisa dari seorang sutradara atau art director sendiri. Produser juga biasanya dilibatkan, karena tata artistik akan berhubungan dengan masalah budgeting.

Sutradara juga berdiskusi dengan penata kamera atau D.O.P (Director of Photography). Komposisi, angle, camera movement, didiskusikan secara detail. Beberapa sutradara kadang mengoperasikan sendiri kameranya, semisal sutarada Dimas Jay dan Rudy Soedjarwo dalam beberapa filmnya.

Shooting Schedule

Penjadwalan shooting dilakukan setelah sutradara melakukan breakdown script, dalam hal ini sutradara biasanya dibantu oleh assisten sutradara. Ketika asisten sutradara membuat lay out penjadwalan shooting, satu hal yang menjadi perhatian adalah halaman naskah yang telah diberi penomoran halaman, dimana sutradara dapat melakukan pengambilan gambar/shooting.

Pemilihan Lokasi

Pemilihan lokasi shooting adalah hal penting lainnya. Beberapa film dibuat dengan lokasi sebenarnya seperti yang digambarkan di naskah. Namun, pada kenyataanya terkadang lokasi shooting “harus disesuaikan” dengan budget yang dianggarkan produser. Karena beberapa faktor, lokasi shooting film “Ayat-Ayat Cinta” yang seharusnya dilakukan di Mesir, terpaksa dipindahkan ke India dan beberapa lokasi di Indonesia. Di Hollywood sana untuk urusan lokasi shooting tidak seribet di Indonesia, ya karena mereka memiliki studio yang sangat lengkap pun di India. Misal, untuk setting supermarket mereka tinggal memakai studio bersetting supermarket. Nah kalo di Indonesia? kita tidak punya studio seperti di sana. Untuk shooting dengan setting supermarket tadi di kita ya pakai supermarket beneran. Ya, tentu saja ini pasti membutuhkan penanganan khusus.

Persiapan Menjadi Sutradara Part2

Persiapan Menjadi Sutradara  Part2
Bekerjasama dengan Penulis Naskah

Hal pertama yang dilakukan sutradara ketika akan membuat sebuah film adalah bekerjasama dengan penulis. Di sinilah sutaradara memberikan interpretasi pada naskah yang telah didevelop oleh penulis naskah. Bahkan beberapa sutradara terlibat dalam penulisan kembali naskah tersebut menjadi sebuah final script. Sebelumnya kerjasama bisa dilakukan antara sutradara, penulis, dan produser. Kerjasama ini terjalin dengan istilah tri angle system.

Sutradara Billy Wilder mengatakan “Tidak terlalu perlu seorang sutradara mampu menulis naskah, tapi yang paling penting, sutaradara harus mampu bagaimana membaca naskah . Tidak mudah mengatakan pada seorang penulis, “Apa artinya ini, saya tidak mendapatkan apa-apa dari naskah ini?.“

Melalui pendekatan dan hubungan baik anatara sutradara dengan penulis, menjadikan ke dua profesi ini menjadi satu kolaborasi yang baik pula. Sutaradara bisa menjadi seorang co-writer dan seorang penulis naskah bisa membayangkan bagaimana menyutradari sebuah film. Oleh karena itu tidak sedikit penulis naskah bisa menjadi seorang sutradara. Perbedaan diantara kedua fungsi tersebut justru bisa saling mengisi satu sama lain.

Sutaradara Robert Mulligan mempunyai pendekatan yang berbeda dalam hal ini, “Tidak semua sutradara harus menulis, tapi diharapkan setiap penulis bisa mendirect. Saya tidak menulis kata-kata ke dalam sebuah kertas (naskah), tapi saya berkolaborasi dengan penulis secra efektif dengan cara tahap demi tahap. Ketika dalam film ada sebuah shot, saya perlihatkan pada penulis. Jika penulis punya gagasan serta usulan saya mendegarkannya secara serius. Tapi penulis tahu benar bahwa keputusan ada di tangan saya.”

Melakukan Casting

Film casting is the art behind the art, and it requires an eye and a deep feel for talent or the just the one intuitive perception of that one thespian who is the perfect choice to fill that one role in the film.

Sederhananya casting adalah penentuan pemain berdasarkan analisis naskah untuk diproduksi. Jika sutradara telah menentukan shooting date (tentu saja dengan asumsi telah disepakati bersama produser), concern selanjutnya adalah pada penentuan pemain (aktor) . Betul bahwa ada yang mengurusi soal casting yankni sebuah departemen casting/ casting departement. Tapi dalam banyak proyek film, sutradara terlibat penuh dalam proses casting ini.

Ada banyak metode casting, diantaranya :

1. Casting by Ability

Berdasarkan yang terpandai dan terbaik dipilih untuk peran yang penting / utama dan kesulitan yang tinggi.

2. Casting to Emosional Temprament

Memilih seorang pemain berdasarkan hasil observasi hidup pribadinya, karena mempunyai banyak kesamaan atau kecocokan dengan peran yang dipegangnya (kesamaan emosi, temprament, kebiasaan dll.)

Metode casting seperti ini banyak sekali dilakukan oleh para pembuat film Hollywood.

1. Casting to Tipe

Pemilihan pemain berdasarkan kecocokan fisik si pemain ( tinggi badan, berat badan, bentuk tubuh dll )

2. Anti type Casting

Pemilihan yang bertentangan dengan watak atau fisik, ini menentang keumuman jenis perwatakan manusia secara konvensional sering disebut education casting.

3. Therapeutic Casting

Menentukan seorang pemain atau pelaku yang bertentangan dengan watak aslinya dengan maksud dan tujuan untuk menyembuhkan atau mengurangi ketidak seimbangan jiwanya.

bersambung……

Persiapan Menjadi Sutradara Part1

Persiapan Menjadi Sutradara  Part1

Tidak seperti sebagian artis, aktor, maupun penulis yang biasanya terlahir dengan bakatnya, seorang sutradara harus mempelajari seni dari pekerjaan yang digelutinya. Melalui apa? yakni melalui :

  • Observasi dan tentu saja praktek.
  • Sutradara juga bisa belajar dengan cara menonton film-film karya sutradara yang lain.
  • Calon sutradara juga bisa belajar dengan memperhatikan cara sutradara lain bekerja di lapangan
  • Pengetahuan penyutradaraan juga bisa diperoleh dari membaca buku-buku tentang film atau mengikuti pendidikkan sinematografi bisa berupa kursus atau pendidikan formal
  • Satu hal yang pasti, tempat berlatih yang baik bagi calon sutradara adalah industri film itu sendiri. Intinya, terjun langsung dalam dunia film adalah pelatihan terbaik.

Memang tidak begitu banyak institusi pendidikan yang memfokuskan pada sinematografi di Indonesia, beberpaa perguruan tinggi diantaranya ada IKJ (Institut Kesenian Jakarta), ISI (Institut Seni Indonesia) Jogyakarta, dan Next Academy. Lain halnya kalau broadcasting (penyiaran), puluhan perguruan tinggi sudah membuka jurusan ini. Universitas Indonesia, UNPAD Bandung, Univ Moestopo, Sahid, AKOM BSI, Univ Tarumanagara, dan terakhir Univ Pancasila memiliki jurusan Broadcasting. Nah kalau tempat kursus diantaranya, School for Brodcast Media, PPHUI (Usmar Ismail), Diklat TVRI, Broadcast Center UI, dan CMC.

Selain institusi tadi, sutradara Rudy Soejarwo pernah mengadakan pelatihan penyutradaraan, juga Pop Corner yg terdiri dari bberapa sineas muda, terakhir Hanung Bramatyo juga mengadakan semacam pelatihan untu calon asisten sutradara.

Mengikuti pendidikan formal atau kursus bukan jalan satu-satunya, seperti yang diuraikan di atas bahwa ada cara-cara lain. Menonton karya sutradara lain juga penting dan ini juga dilakukan di perguruan tinggi semisal yang dilakukan di University of Southern California dan Academy of Motion Picture Arts and Sciences bahkan di Institut Kesenian Jakarta juga, bahkan menonton menjadi kewajiban mahasiswa. Sutradara Riri Riza menyukai sesi menonton ini yg diwajibkan di mata kuliah Sejarah Film.

Shooting Script & Director’s Treatment

Shooting Script & Director’s Treatment

Shooting Script adalah versi lain dari sebuah naskah film yang digunakan dalam proses produksi atau waktu shooting berlangsung. Jadi, antara shooting script dengan naskah (screen play) sebetulnya tidak jauh berbeda. Dalam sebuah shooting script sudah ada “campur tangan” dari sutradara. Biasanya sutradara memberikan catatan mengenai :

  • Type of Shots
  • Angle
  • Camera Movement

Type of shot misalnya : WS, LS,MS,MCU,CU,XCU. Sedangkan angle antara lain : Low Angle, High Angle, Frog View, Over the Sholder(OS). Dan Camera Movement seperti : Zoom In, Zoom Out, Push Pull, Camera Track, Pulls Back.

Pada dasarnya Shooting Script akan sangat membantu untuk seorang penata kamera atau D.O.P serta sutradara itu sendiri. Dengan shooting script akan mempercepat proses shooting atau pengambilan gambar ketimbang melakukan improvisasi di lokasi shooting.

Contoh Shooting Script :

SUPERMAN THE MOVIE

Revised by Tom Mankiewicz

Director: Richard Donner

1 EXT. STREET – METROPOLIS – NIGHT

CLOSE ON a crumpled piece of rubbish lying in the gutter. It is flattened by the wheel of a pushcart. CAMERA PULLS BACK: we SEE a street in a city neighborhood still fighting its way out of The Depression. KIDS play stickball, PEOPLE stand about, out-of-work MEN recline on tenement stoops .

Over this SUPERIMPOSE: METROPOLIS 1938

CAMERA TRACKS UP past a boarded-up store window with a “For Rent” sign on it, PAST trash cans being investigated by foraging dogs, PAST the stoop of brownstone where some care has been taken to keep things clean, PAST the parlor floor where an undershirted MAN argues with a bathrobed WOMAN, PAST the second Floor windows where a YOUNG COUPLE bend over a crib, shaking a rattle and cooing at a new-born BABY wrapped in a pink blanket, UP PAST the roof of the brownstone, higherand higher, PAST the distant skyscrapers: the Chrysler Building, the Fuller building, the great- neon globe symbol atop the Daily Planet Building.

2 EXT. SKY – NIGHT – ANGLE on DAILY PLANET

CAMERA LOOKS DOWN on the Daily Planet Globe. The only sound is the wind. CAMERA TILTS toward the star-filled sky and the full moon, then TAKES OFF.

3 EXT. SPACE

CAMERA SPEEDS through the heavens past the moon, through the Universe, traveling on, gathering speed, further and further through the limitless void until it bursts through into another Galaxy.

Director Treatment

Director’s Treatment merupakan catatan penting bagi sutradara dan ini bisa menjadi style sutradara dalam mendeskripsikan sebuah film. Naskah yang sama akan “diperlakukan” berbeda oleh sutradara yang berbeda. Jadi, treatment merupakan gaya atau konsep penyutaradaraan itu sendiri. Tidak ada patern yang baku dalam pembuatan sebuah treatment. Beberapa sutradara ada yang membuat secara rinci adegan per adegan dalam setiap scene yang akan dibuat. Namun, beberapa sutradara cukup membuat catatan kecil saja. Bahkan sebagian sutradara membuat treatment cukup di “kepala” saja, tanpa menuliskan catatan.

Jadi metode mana yang paling bagus? Point yang paling penting adalah ketika gagasan sutradara bisa diimplementasikan pada adegan maupun dialog yang akan dibuat pada waktu pengambilan gambar/shooting. Dan director’s treatment dibuat untuk mempermudah implementasi tadi. Seperti halnya shooting script, dalam director treatment dibuat sedetail mungkin tentang camera movement, type of shot, serta story telling atau penyampaian cerita.

Contoh Director’s Treatment :

1. PP
Close up of a child’s face. He is biting his pen, thoughtfully.

2. Over the child’s shoulders shot.
A desk, a square exercise book is open, big letters writing on it:
MY CARNIVAL.

3. Detail

The writing hand, we follow the pen leaving the ink trail behind.
Fade.

4. Camera car, tracking back
In a Moscow suburb a blackVolga plods amidst the snow.

5. Camera car, close up
There are two persons in the black Volga.

6. Side shot (right).

We’re inside the car, worn out interiors, waste paper on the rear window. The man who is not driving, wears a pair of Okley specs and a shiny black leather coat. He has a tattoo on his neck, and a macho expression. He keeps sniffing and sucking a lolly-pop, insistently. His hands are fumbling with something that this shot won’t show.

In the b.g. the second man is driving: at times he turns toward his mate and looks at him with dislike. The second man wears a sporty jacket and and a pinstripe suit, over a long-sleeved dark T-shirt. He is almost elegant.

7. Side shot (left).

From the other side of the car we’re now able to see that the first man is holding a gun: he keeps slipping the magazine in and out. The driver hits him hard on the shoulder, to make him stop.

Bagaimana memulai membuat sebuah director’s treatment ? Imagine,..ya ketika anda membaca naskah bayangkan secara visual adegan apa yang akan anda buat. Misalnya, apakah subjek akan anda buat bergerak atau diam ? apakah akan anda buat pergerakkan kamera? Atau bisa jadi kombinasi dua-duanya, anda akan membuat subjek dan kamera bergerak. Bayangkan dalam pikiran anda konsep visual apa yang mau ditawarkan pada penonton, bayangkan anda jika menjadi seorang subjek (pemeran) dan bayangkan juga sebagai pengamat subjek. Untuk urusan type of shot dan camera movement, sebagai sutradara anda juga bisa berdiskusi dengan cameraman atau D.O.P (Director of Photography).

Directing Philosophy

Directing Philosophy

Filosofi adalah kerangka pikiran yang terbentuk sedemikian rupa dalam diri kita dan berfungsi memberi kita ruang bagi semua tindakan yang mungkin kita lakukan. Semakin luas kerangka berpikir itu semakin luas pula wilayah tindakan yang mungkin kita lakukan.

Simpelnya sich seperti itu, tapi waktu saya belajar “Filsafat Ilmu” dari Pak Michael Dua, yg namanya filsafat bisa bikin kepala nyut-nyutan. Filsafat oh filsafat…

Terus apa hubungannya dengan Filosofi Penyutradaraan? Menurut Naratama, filosofi dalam penutradaraan televisi merupakan sebuah daya pemikiran atas nilai-nilai seni visual yang diwujudkan dalam kenyataan visual itu sendiri.

Masih menurut Mas Nara, ada 3 dasar konsep menonton yang harus dipahami oleh Sutradara, yakni :

1. What People Want To See

2. What People Need To See

3. What People Want and Need To See

Kesimpulan saya, dengan memahami hal yang elementer ini, sebagai sutradara kita tidak boleh egois dalam menciptakan sebuah karya. Butuh pembelajaran yg simultan untuk mengetahui apa yang ingin penonton ketahui, apa yang perlu penonton ketahui, dan keduanya.

Matthew Kellen bilang :

Most importantly, I have learned that a director must continuously re-evaluate his or her methodology and keep an open mind to the world around them, both professionally and personally…

Sebetulnya ada buku, judulnya Filmosophy” karya Daniel Frampton, ini buku keren aja. Sinopsisnya:

“Filmosophy” is a provocative new manifesto for a radically philosophical way of understanding cinema. The book coalesces twentieth-century ideas of film as thought (from Hugo Munsterberg to Gilles Deleuze) into a practical theory of ‘film-thinking’, arguing that film style conveys poetic ideas through a constant dramatic ‘intent’ about the characters, spaces and events of film.

Casting

Casting

Casting

Film casting is the art behind the art, and it requires an eye and a deep feel for talent or the just the one intuitive perception of that one thespian who is the perfect choice to fill that one role in the film.

Sederhananya casting adalah penentuan pemain berdasarkan analisis naskah untuk diproduksi.

Macam – macam Casting :

  1. Casting by Ability

Berdasarkan yang terpandai dan terbaik dipilih untuk peran yang penting / utama dan kesulitan yang tinggi.

  1. Casting to Emosional Temprament

Memilih seorang pemain berdasarkan hasil observasi hidup pribadinya, karena mempunyai banyak kesamaan atau kecocokan dengan peran yang dipegangnya (kesamaan emosi, temprament, kebiasaan dll.)

Metode casting seperti ini banyak sekali dilakukan oleh para pembuat film Hollywood.

  1. Casting to Tipe

Pemilihan pemain berdasarkan kecocokan fisik si pemain ( tinggi badan, berat badan, bentuk tubuh dll )

d. Anti type Casting

Pemilihan yang bertentangan dengan watak atau fisik, ini menentang keumuman jenis perwatakan manusia secara konvensional sering disebut education casting.

e. Therapeutic Casting

Menentukan seorang pemain atau pelaku yang bertentangan dengan watak aslinya
dengan maksud dan tujuan untuk menyembuhkan atau mengurangi ketidak seimbangan
jiwanya.

Jadi Floor Director itu, Keren!

Jadi Floor Director itu, Keren!
[ Oleh : Supriyadi ]

Tiga puluh menit lagi on air! Begitu ”perintah” produser setengah jam sebelum siaran langsung sebuah acara televisi. Waktu terus berjalan, beberapa crew masih kelihatan santai. Dua orang cameraman berbincang, entah topik apa yang mereka bicarakan. Make up anchor alias pembawa acara baru saja selesai, si anchor yang kebetulan keturunan Arab cantik itu bergegas menuju studio dengan latar green screen yang memang hanya berjarak beberapa meter saja dari ruang make up.

Lima menit lagi on air! Kali ini giliran program director berteriak. Semua crew sudah standby. Suasana studio masih terasa santai, hingga PD mengucapkan count down : 10.., 9…., 8…, Dan…..salah seorang cameraman teriak ”Heiii….(sensor) baju lu blum dikancingin satu tuh

Rutinitas terkadang menjemukan, karena rutinitas pula kegiatan yang penting itu bisa menjadi keteledoran. Saat itu paling tidak, ada empat orang crew di studio dan empat orang di sub control, andaikan saja salah satu cameraman gak ngeh dengan kancing baju mbak news caster tadi tentu saja hal fatal akan terjadi. Acara televisi adalah kerja tim, kesalahan satu orang berarti kesalahan tim. Yang paling bertanggung jawab atas kejadian di atas adalah Floor Director.


Siapakah Floor Director ?

Floor Director merupakan pimpinan alias bos di studio, di beberapa stasiun televisi dan production house, Floor Director biasa juga disebut sebagai Floor Manager. Floor Director adalah kepanjangan tangan dari Program Director/PD (tentang Program Director nanti akan kita bahas tersendiri). Floor Director mendengarkan perintah PD melalui sistem komunikasi intercom dari control room. Ibarat anggota tubuh, seorang FD menjadi telinga, mata, dan mulut seorang PD. Tugas utama seorang Floor Director adalah berkomunikasi dengan talent/pengisi acara. Dalam acara siaran langsung di studio, FD memiliki otoritas terakhir.

Sebelum produksi dimulai alias di pra produksi, seorang Floor Director harus memahami rundown terlebih dahulu. Jika ada perubahan dalam rundown, maka sebagai pemimpin di studio, FD harus segera mengkomunikasikannya dengan seluruh kru yang ada di studio. Juga jika ada perubahan yang melibatkan anchor misalnya, maka FD secepat mungkin memberitahukan pada anchor tersebut. Andrew Utterback dalam bukunya Studio-Based Television Production and Directing, menyarankan agar seorang FD memiliki semua pengetahuan hal teknis yang ada di studio, karena jika diperlukan FD bisa ”menggantikan” posisi tersebut.


FD dengan Crew di Studio

Komunikasi

Sekali lagi tentang masalah komunikasi. Komunikasi antar FD dan talent harus terjalin sejak sebelum produksi dan ketika produksi itu berlangsung. Misalnya ketika talent sudah berada di posisi yang baik, FD harus meyakinkan bahwa posisi clip on yang dikenakan talent sudah terpasang dengan baik. Atau ketika pengisi acara ”salah melihat kamera” maka FD harus segera memberitahukan talent tersebut untuk melihat ke arah kamera yang diinginkan. FD harus berperan aktif agar pengisi acara merasa nyaman dan akhirnya terlihat baik ketika berinteraksi dengan kamera. Ketika talent sudah berada pada blocking set, FD selalu berkomunikasi dengan crew yang ada di studio jika misalnya ada perubahan blocking pada talent.


Cuing Talent, Cuing Studio Crew

Jika pada saat produksi belum berlangsung, FD bisa memberikan arahan dengan bahasa verbal, maka tidak halnya ketika produksi berlangsung. FD memberitahukan semua perintahnya dengan cue alias tanda. Memberita tanda atau isyarat pada para pemain dan kru di studio harus dilakukan seefisien mungkin, sehingga talent dan juga crew faham betul dengan isyarat yang diberikan FD.


Command Hand :

Bahasa non verbal, seperti isyarat tangan, banyak dilakukan oleh Floor Director untuk memberi isyarat, baik pada crew yang ada di studio maupun pada para pengisi acara atau talent. Command hand sudah sangat lazim dipergunakan dalam produksi acara televisi di studio, bahkan command hand sudah menjadi kesepakatan umum di stasiun televisi mana saja.

Artikel ini saya tulis menjelang satu jam sebelum shooting, nanti saya lanjutkan lagi ya….


Referensi :

Studio-Based Television Production and Directing, Andrew Utterback

Television Production, Gerald Millerson


Crew Produksi

Crew Produksi
Agent (Agent Model) : Seseorang yang dipekerjakan oleh satu atau lebih talent agency atau serikat pekerja untuk mewakili keanggotaan mereka dalam berbegosiasi kontrak individual yang termasuk gaji, kondisi kerja, dan keuntungan khusus yangtidak termasuk dalam standard guilds atau kontrak serikat kerja. Orang ini diharapkan oleh para aktor/aktris untuk mencarikan mereka pekerjaan dan membangun karir mereka
Art Departement : Bagian artistik. Bertanggung jawab terhadap perancang set film. Seringkali bertanggung jawab untuk keseluruhan desain priduksi. Tugasnya biasanya dilaksanakan dengan kerjasama yang erat dengan sutradara dan cameraman

Asst. Director :Seorang asisten sutradara film yang memperhatikan administrasi, hal yang penting sehingga departemen produksi selalumengetahui perkembangan terbaru proses pengambilan film. Ia bertanggung jawab akan kehadiran aktor/aktris pada saat dan tempat yang tepat, dan juga untuk melaksanakan instruksi sutradara.

Art Director :Pengarah artistik dari sebuah produksi

Asisten Produser :Seorang yang membantu produser dalam menjalankan tugasnya

Broadcaster :Sebutan untuk seseorang yang bekerja dalam industri penyiaran

Best Boy :Asisten Gaffer atau asisten Key Grip.

Boom Man :Seorang yang mengoperasikan mikrofon boom.

Booth Man :Operator proyektor film. Orang yang bekerja dalam ruang proyeksi.

Camera Departement :Bertanggung jawab untuk memperoleh dan merawat semua peralatan kamera yang dibutuhkan untuk memfilmkan sebuah motion picture. Juga bertanggung jawab untuk penanganan film, pengisian film, dan berhubungan dengan laboratorium pemrosesan.
Cameraman :- First Cameraman sering disebut sebagai Penata Fotografi (Director of Photography) atau kepala kameramen, bertanggung jawab terhadap pergerakan dan penempatan kamera dan juga pencahayaan dalam suatu adegan. Kecuali dalam unit produksi yang kecil, Penata Fotografi tidak melakukan pengoperasian kamera selama syuting yang sesungguhnya.- Second Cameraman sering disebut sebagai asisten kameramen atau operator kamera, bertindak sesuai instruksi dari kameramen utama dan melakukan penyesuaian pada kamera atau mengoperasikan kamera selama syuting.- First Assistant Cameramen sering disebut Kepala Asisten untuk pada operator kamera. Seringkali bertanggung jawab untuk mengatur fokus kamera (untuk kamera film)- Second Assistant Cameraman, menjadi asisten operator kamera.

Cinematographer (Sinematografer) :Penata Fotografi. Orang yang melaksanakan aspek teknis dari pencahayaan dan fotografi adegan. Sinematografer yang kreatif juga akan membantu sutradara dalam memilih sudut, penyusunan, dan rasa dari pencahayaan dan kamera.

Costume Designer :Orang yang merancang dan memastikan produksi kostum secara sementara maupun permanen untuk sebuah film.

Dialogue Coach or Dialogue Director :Orang dalam set yang bertanggung jawab membantu para aktor/aktris dalam mempelajari kalimat mereka selama pembuatan film. Mungkin juga membantu pengaturan dialog.

Director : Orang yang mengontrol tindakan dan dialog di depan kamera dan bertanggung jawab untuk merealisasikan apa yang dimaksud oleh naskah dan produser.

Editor :Sebutan bagi seseorang yang berprofesi sebagai ahli pemotongangambar video dan audio.
Editorial Departement :Divisi dimana semua potongan film yang telah dihasilkan digabungkan sehingga membentuk urutan yang koheren, kadang dengan bantuan asisten sutradara atau produser.

Electric Departement :Bertanggung jawab terhadap penjagaan dan penyediaan segala alat elektrik. (misalnya: lampu, kabel, dan lain sebagainya) untuk kebutuhan film.

Engineering :Sebutan dalam pengerjaan dan pembagian kerja dalam masalahteknis penyiaran
Film Loader :Pengisi Film. Anggota tim kamera kadang adalah asisten kameramen yang mengisi film yang belum diekspose ke dalam magazine dan mengeluarkan film yang telah diekspose.

Floor Director :Seseorang yang bertanggungjawab membantu mengkomunikasikankeinginan sutradara dari master control ke studio produksi

Gaffer :Pemimpin electrician yang bertanggung jawab di bawah Director of Photography mengenai pencahayaan set. berbagai bentuk dan ukuran.

Green Departement : Bertanggungjawab untuk menyediakan pepohonan, semak, bunga, rumput, dan benda-benda hidup lainnya baik yang asli maupun buatan.

Hairdresser : Spesialis penata rambut untuk film. Seorang hairdresser mungkin bekerja dengan penata rambut laki-laki maupun perempuan.

Hairdresser Departement : Bertanggungjawab atas kebutuhan rambut asli maupun wig untuk para aktor dan aktris.

Key Grip : Orang yang memimpin para pekerja grip.
Make-Up Departement :bagian yang bertanggung jawab terhadap penampilan aktor/aktris agar sesuai dengan kebutuhan skenario pada saat syuting.

Music Departement : Bertanggungjawab dalam pengaturan atau menyediakan musik yang akan digunakan dalam film.

Producer : Sebutan ini untuk orang yang memproduksi sebuah film tetapi bukan dalam arti membiayai atau menanamkan investasi dalam sebuah produksi. Tugas seorang produser adalah memimpin seluruh tim produksi agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan bersama, baik dalam aspek kreatif maupun manajemen produksi dengan anggaran yang telah disetujui oleh executive producer.

Production Departement : Bagian yang menentukan batasan biaya dan menangani persiapan dan pelaksanaan atas segala keperluan dalam sebuah produksi.

Production Assistant : Bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi dilapangan selama proses produksi.
Production Manager : Orang yang bertanggung jawab atas detail produksi dari awal sampai produksi itu selesai.

Production Unit : Terdiri dari sutradara, kru kamera, kru tata suara, bagian listrik dan semua orang yang diperlukan dalam suatu produksi.

Prop Man : Bertugas untuk memastikan bahwa properti ada ditempat yang seharusnya pada saat dibutuhkan untuk suatu produksi.
Research Departement : bagian riset yang terdiri dari orang-orang yang menilai otentisitas artikel, benda, kostum.

Script Supervisor, Script Clerk : Bertanggungjawab untuk mencatat seluruh adegan dan pengambilan gambar yang diproduksi. termasuk semua informasi yang diperlukan seperti durasi, arah gerakan, penagrahan mimik wajah, penempatan aktor/aktris dan properti, serta gerakan fisik yang harus disesuaikan aktor/aktris dalam semua cakupan yang berurutan untuk kemungkinan pengambilan gamabr ulang. Semua informasi ini dimasukkan dalam salinan naskah milik supervisi naskah dan digunakan oleh editor ketika tahap editing. Dalam salinan ini juga dimasukkan catatan dari sutradara untuk editor.

Still man, Photographer : Bertanggungjawab atas publiitas dan pembuatan foto set serta lokasi. Dapat juga digunakan pada kesempatan tertentu.

Transportation Departement :Bertanggungjawab terhadap semua kendaraan yang digunakan oleh kru dan pemain selama syuting berlangsung. Dalam hal ini termasuk antar dan jemput kru atau pemain.

VTR Man : Orang yang mengoperasikan VTR (Video tape Recorder) selama proses pembuatan acara televisi.

Wardrobe Departement : Bertanggungjawab atas pemilihan kostum yang akan dipergunakan untuk produksi.